MAKASSAR, BUKAMATA - Dua peristiwa dari Dunia pendidikan kini sedang menyita perhatian publik. Dua kasus serupa dengan terjadi di tingkat satuan Pendidikan berbeda. Kasus 'diusir' karena berbeda itu menimpa Andi Iqbal dan M Nabil Arif.
Iqbal adalah seorang murid sekolah dasar, sedangkan Nabil adalah mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi. Keduanya 'diusir' karena berbeda.
Baju Usang
Kasus pertama, berkaitan dengan momentum perayaan Hari Ulang Tahun Indonesia. Seorang murid sekolah dasar asal Bone, Sulawesi Selatan bernama Andi Iqbal di minta keluar dari kepesertaan lomba baris-berbaris karena menggunakan baju putih usang.
Sebuah video menunjukkan murid teesebut nampak duduk lesu dengan baju yang berwarna kekuningan nampak kontras dengan teman-temannya yang memakai baju baru yang masih putih bersih.
"Iya betul dikeluarkan dari barisan saat gerak jalan 17 Agustus kemarin. Karena bajunya dipersoalkan, saya juga tidak bisa ka' belikan baju baru," kata orang tua siswa, Andi Alwi dikutip dari detikSulsel Jumat (19/8/2022).
Usai videonya viral, bantuan terus mengalir untuk Andi Iqbal mulai berdatangan. Videonya yang berdurasi 16 detik tersebut berhasil mencuri simpati publik.
Pribadi Berbeda
Kejadian kedua yang menimpa M Nabil Arif. Mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini diminta keluar dari ruangan pasca mengakui dirinya 'Gender Netral' atau dikenal dengan non-binary gender.
Kejadian yang terekam kamera saat proses pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB).
Dalam rekaman tersebut Saat berjalan, Nabil Arif ditegur karena disebut berjalan secara gemulai. Tidak sampai di situ, di depan seluruh peserta PKKMB, ia juga langsung diinterogasi. Dua orang dosen mempertanyakan status jenis kelamin mahasiswa tersebut di KTP nya.
"Kau juga yang pertama dikasih keluar karena Undang-undang tidak ada status laki-laki dan perempuan. Harus ada pilihan. Di KTP mu apa, di KTP mu?,” kata dosen perempuan itu.
Peristiwa yang menimpa Nabil ini meraih pro kontra dari warganet.
"Apa susahnya ngaku sebagai laki-laki aja?" Yang perlu dipermasalahkan di kasus ini bukan tindakan mahasiswa ybs soal out sebagai nonbiner, tapi dosen & WD3 yang melihat bahwa identitas & ekspresi gender mahasiswa bisa dibahas & didiskriminasi di kampus sebagai ruang publik," ujar @agni**mbar
"padahal beberapa ptn dan pts udah punya aturan larangan diskriminasi gender dan seksualitas wkwk," @j*ule**at berkomentar
BERITA TERKAIT
-
Miliki Bobot Suara 35 Persen di Pilrek Unhas, Mendiktisaintek Diwakili Wamen Prof Fauzan
-
Pemilihan Rektor Unhas Digelar 12 Januari di Jakarta
-
Roadshow THRIVE Talenta Digital Indonesia di Makassar, Telkomsel Ajak Mahasiswa Unhas Siap Hadapi Era Digital
-
Unhas Tegaskan Mahasiswa yang Tewas di Tamalanrea Bukan Korban Pengkaderan, Melainkan Kecelakaan Lalu Lintas
-
Sulap' Jamur Lokal Jadi Dendeng & Kaldu Premium: Unhas Bawa Inovasi Pangan ke Parepare, Gandeng KWT Masagena