Dukungan Gubernur Sulsel Antar Siswa SMAN 1 Bantaeng Raih Medali Emas di Ajang STEM Thailand
02 Februari 2026 13:39
Adegan seperti baku tembak, CCTV rusak hingga kejanggalan di tubuh korban cukup sering kita saksikan dalam setiap drama Korea genre kriminal.
BUKAMATA - Kasus kematian Brigadir J, anggota kepolisian yang disebut terlibat baku tembak dengan rekannya sesama polisi Bharada E, Jumat (8/7/2022) mulai menarik perhatian banyak pihak.
Kasus tersebut dianggap bukan kasus duel biasa. Banyak yang mengendus kejanggalan dalam kasus tersebut. Bahkan konflik yang terjadi dalam kasus ingin mengingatkan kita pada peliknya alur cerita sebuah drama Korea.
Adegan seperti baku tembak, CCTV rusak hingga kejanggalan di tubuh korban cukup sering kita saksikan dalam setiap drama Korea genre kriminal.
Untuk mengetahui kronologi kasus tersebut berikut bukamatanews uraikan beberapa fakta, pengakuan dari pihak kepolisian, pengamat dan keluarga korban.
Keterangan Kepolisian
Kasus polisi tembak polisi terjadi di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo seorang jenderal bintang dua. Brigadir J tewas ditembak oleh rekannya berinisial Bharada E.
Menurut polisi, aksi penembakan itu bukan tanpa sebab. Brigadir J diduga melakukan pelecehan terhadap istri pejabat Polri itu hingga akhirnya berteriak. Teriakan itu yang kemudian menyulut kedatangan Bharada E hingga akhirnya terjadi penembakan.
Dalam insiden itu, Brigadir J disebut pihak yang menembak terlebih dahulu. Brigadir J digambarkan sedang panik melepaskan tujuh kali tembakan kepada Bharada E yang mendatanginya dari lantai atas. Namun, tak ada satu pun tembakan Brigadir J yang mengenai Bharada E.
Atas tembakan itu, Bharada E membalas. Total ada lima proyektil yang lepas dari senjata milik Tamtama kepolisian itu. Satu di antaranya mengenai dada Brigadir J hingga tewas.
Pandangan Pengamat
Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mempertanyakan longgarnya pengawasan di rumah dinas milik Jenderal bintang dua tersebut. Pasalnya seluruh CCTV di rumah Irjen Ferdy Sambo secara kebetulan rusak semua.
"Apakah begitu longgarnya sistem pengamanan di rumah dinas seorang Kadiv Propam sehingga CCTV pun kabarnya rusak semua?" ucap Bambang saat dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (12/7/2022).
keberadaan personel pengamanan di rumah pejabat Polri itu juga menjadi tanda tanya besar. Pasalnya, dari hasil pendalaman sejauh ini, hanya ada tiga orang yang menyaksikan atau terlibat dalam insiden itu.
Yakni, istri Ferdy Sambo yang diduga sebagai korban pelecehan seksual. Lalu, Brigadir J yang merupakan sopir istri Ferdy Sambo dan diduga melecehkan. Serta, Bharada E yang merupakan ajudan Kadiv Propam yang bertugas mengamankan keluarga.
Ia beranggapan rumah seorang pejabat kepolisian tak mungkin hanya disinggahi oleh tiga pasukan pengamanan.
"Apakah tidak ada saksi-saksi yang lain. Kalau tidak ada saksi-saksi yang lain berarti hanya tiga orang yang berada di rumah dinas. Ini janggal bagi Rumdin pati (perwira tinggi) selevel Kadiv Propam," tambahnya.
Senada, Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso mengatakan tim khusus itu perlu mengurai berbagai kejanggalan yang muncul saat ini. Misalnya, kata dia, luka-luka sayatan pada tubuh Brigadir J.
Lalu rincian proyektil peluru dan senjata yang digunakan selama baku tembak tersebut. Hingga pemeriksaan terhadap Irjen Ferdy Sambo dan istrinya sebagai saksi dalam kasus tewasnya Brigadir J tersebut.
"IPW juga mengharapkan tim gabungan bisa mendeteksi ada atau tidaknya upaya obstruction of justice dalam perkara ini," ucap Sugeng.
Pengakuan Keluarga
Kematian Brigadir J hingga saat ini masih menyisakan sejumlah teka-teki bagi keluarga. Menurutnya ada sejumlah kejanggalan dari kronologi yang diceritakan pihak kepolisian.
Misalnya, pihak keluarga juga menemukan sejumlah memar, bekas sayatan senjata tajam, hingga jari tangan yang terputus.
Tak hanya itu, kejadian-kejadian aneh juga turut dirasakan keluarga. Mereka mengaku sempat didatangi sejumlah polisi dan diajak berdialog dalam kondisi rumah tertutup rapat.
Usai pertemuan itu, pihak keluarga Brigadir J tak bisa berkomunikasi menggunakan ponselnya lantaran disadap oleh orang tak dikenal.
Pihak keluarga juga berharap pada rekaman CCTV yang dapat mengungkap fakta di balik insiden ini. Namun, hal itu tak bisa dilakukan lantaran klaim polisi terkait CCTV di rumah pejabat Polri itu yang rusak.
"Kalau dia tidak membuka CCTV berarti orang itu ada yang ditutup-tutupi," kata Bibi Brigadir J, Rohani Simanjuntak.
Pengakuan Ketua RT dan Satpam Kompleks
Ketua RT setempat, Irjen (Purn) Seno Sukarto mengaku warga setempat tak mengetahui adanya insiden adu tembak berujung maut tersebut.
Bahkan, sejumlah petugas keamanan di Pos Satpam yang berjarak sekira 10 meter dari lokasi penembakan itu tak mengetahui insiden adu tembak tersebut.
"Jadi semuanya pada saat itu menyadari bahwa mereka itu menganggap petasan, bukan tembakan. Sehingga tidak ada tindak lanjut setelah mendengar itu tidak ada tindak lanjut, biasa-biasa saja," kata Seno dikutip dari TVonenews, Rabu (13/7/2022).
"Waktu itu saya tanya sama satpam yang jaga di sana, kamu mendengar? Mendengar Pak tapi ya saya kira petasan juga. Itu lah yang masalah letusan," sambungnya.
Kendati Brigadir J tewas di kediaman itu, petugas Satpam kawasan setempat tak melihat adanya unit ambulans yang datang ke lokasi.
Ditambah, alat decorder kamera CCTV yang berada di Pos Satpam dan mengarah ke pintu pagar utama kediaman turut diambil pihak kepolisian tanpa izin dari Ketua RT setempat.
Sehingga Seno mengaku tak ada satupun warga maupun Satpam yang melihat adanya mobil jenazah atau ambulans yang terparkir di kediaman usai insiden adu tembak itu berlangsung.
"Enggak tahu, saya tanya satpam, dia bilang engga nampak pak (Ambulans atau mobil jenazah). Saya enggak tahu diangkut pakai apa, enggak tahu," pungkasnya
02 Februari 2026 13:39
02 Februari 2026 12:49
02 Februari 2026 09:43
02 Februari 2026 09:34
02 Februari 2026 09:19
02 Februari 2026 09:56
02 Februari 2026 11:43