Hikmah
Hikmah

Rabu, 29 Juni 2022 12:04

Perjalan Panjang Presiden Jokowi jadi Juru Damai Perang Rusia-Ukraina, Mungkinkah Terwujud?

Perjalan Panjang Presiden Jokowi jadi Juru Damai Perang Rusia-Ukraina, Mungkinkah Terwujud?

Jokowi diagendakan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kyiv. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi akan mengajak Zelensky untuk kembali berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

BUKAMATA - Presiden Joko Widodo benar-benar merealisasikan janjinya untuk mengupayakan perdamaian Ukraina-Rusia dan mencari solusi dalam menghadapi krisis pangan yang kian menjadi.

Banyak jalan ditempuh Jokowi mulai dari membujuk negara-negara G7 untuk ikut ambil bagian hingga mengunjungi dua negara yang sedang bertikai tersebut. 

Usai mengikuti KTT G7 di Jerman , Presiden Joko Widodo (Jokowi) memulai perjalannya ke Ukraina yang saat ini masih menjadi medan pertempuran. Kedatangan Jokowi untuk menuntaskan misi perdamaian di negara tersebut. Jokowi menempuu perjalanan 12 jam dengan kereta dan menjadi presiden negara Asia pertama yang mengunjungi negara tersebut dalam kondisi peperangan. 

Jokowi diagendakan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kyiv. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi akan mengajak Zelensky untuk kembali berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Selanjutnya Jokowi akan bertolak ke Rusia untuk menemui Putin. Pertemuan tersebut juga nantinya akan membahas hal sama seperti yang dibahas dengan Zelensky.

"Saya akan mengajak Presiden Putin untuk membuka ruang dialog dan sesegera mungkin untuk melakukan gencatan senjata dan menghentikan perang," kata Jokowi, seperti dikutip Rabu (29/6/2022).

Sementara itu, saat berbicara dalam gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7, Jokowi menegaskan bahwa negara G7 dan G20 perlu melakukan upaya bersama mengatasi krisis pangan yang saat ini mengancam negara berkembang.

"G7 dan G20 memiliki tanggung jawab besar untuk atasi krisis pangan ini. Mari kita tunaikan tanggung jawab kita, sekarang, dan mulai saat ini," kata Jokowi

Jokowi menegaskan, pangan adalah permasalahan Hak Asasi Manusia yang paling dasar. Para perempuan dari keluarga miskin dipastikan menjadi yang paling menderita menghadapi kekurangan pangan bagi anak dan keluarganya.

"Kita harus segera bertindak cepat mencari solusi konkret. Produksi pangan harus ditingkatkan. Rantai pasok pangan dan pupuk global, harus kembali normal," jelasnya.

Dalam pidatonya, Jokowi menegaskan pentingnya dukungan negara G7 untuk mengreintegrasi ekspor gandum Ukraina dan ekspor komoditas pangan dan pupuk Rusia dalam rantai pasok global.

Menurutnya, terdapat dua cara untuk merealisasikan hal tersebut. Yang pertama adalah fasilitasi ekspor gandum Ukraina dapat segera berjalan. Kedua, yakni komunikasi secara proaktif kepada publik dunia.

"Komunikasi intensif ini perlu sekali dilakukan sehingga tidak terjadi keraguan yang berkepanjangan di publik internasional. Komunikasi intensif ini juga perlu dipertebal dengan komunikasi ke pihak-pihak terkait seperti Bank, asuransi, perkapalan dan lainnya," tegas Jokowi.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Presiden Jokowi #Perang rusia-ukraina

Berita Populer