BUKAMATA - Kejatuhan salah satu mata uang kripto terbesar di dunia, TerraUSD dan Terra (LUNA) membawa efek domino bagi perusahaan sejenis.
Anjloknya kedua aset ini membuat kripto lain ikut berguguran. Setelah berhasil menduduki posisi ke empat tertinggi dalam perdagangan kripto, Terra dan Luna terdepak ke posisi 200an dan nyaris tak berharga lagi hanya dalam sehari.
Chief Executive Officer Indodax Oscar Darmawan pada postingan instagramnya, Selasa (17/5/2022) mengatakan, penurunan harga aset kripto bisa terjadi akibat efek sistemik dalam perdagangan. Menurutnya, jika salah satu kripto major turun, hal tersebut akan memicu kepanikan pasar.
"Kondisi kripto belakangan ini turun sangat merah karena LUNA, yang merupakan 10 besar kripto di market cap. Kenapa hal ini bisa terjadi? ini adalah salah satu efek sistematik dalam perdagangan. ketika salah satu kripto major merah, hal itu memicu kepanikan market," kata tulisnya
Dia melanjutkan, turunnya kripto major seperti LUNA tersebut memicu ketidakpercayaan diri market. Oscar menuturkan, saat melihat kripto major turun, market cenderung ikut menjual koin yang mereka miliki lainnya.
"Hal ini menyebabkan efek domino yang membuat koin-koin lain ikut turun," ucapnya. Khususnya kejadian LUNA ini, kata Oscar, dipicu karena Terra USD, yang merupakan stable coin, gagal menjaga kestabilannya. Oscar menjelaskan, stable coin adalah achilles heels dalam perdagangan kripto.
Saat stable coin gagal mempertahankan nilainya, hal tersebut akan mengakibatkan efek yang sangat besar karena perdagangan kripto mengandalkan stable coin. Adapun, Oscar menyarankan trader kripto untuk tetap berhati-hati dalam trading.
"Pilih koin yang tepat untuk trading khususnya sekarang, dan selalu percaya bitcoin dan koin-koin major lainnya naik up to the moon," tutur dia.