BUKAMATA - Fenomena alam hujan ES terjadi di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Senin (28/3/2022). Hujan ES itu di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sekitarnya, Fenomena alam ini terjadi selama sekitar 20 menit.
Salah seorang warga Sendangdadi, Heru mengatakan, Hujan ES itu baru saja ia sadari usai mendengar suara atap tetangganya yang terbuat dari seng itu sangat berisik.
"Keras sekali suaranya dari diatas seng, tetangga kan atapnya dari seng. Suaranya kan keras," kata Heru, Senin (28/3/2022).
Heru memperkirakan, butiran ES yang jatuh dari langit itu turun mulai 14.20 WIB hingga 14.40 WIB. "Hujan es, terus hujan air disertai angin. Esnya seukuran batu akik," tandasnya.
Sebelumnya, fenomena serupa juga pernah terjadi di Cimah, Kamis (1/7/2021) tahun lalu.
Fenomena Hujan ES Menurut Ahli
Dosen Meteorologi Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG) Deni SeptiadiAhli menjelaskan, fenomena hujan es merupakan peristiwa langka imbas dari awan Cumulonimbus, "Hujan es atau hailstone dalam meterorologi disebut sebagai rare event phenomena (fenomena langka), karena karakteristiknya," jelas Deni.
Deni mengatakan hujan es tersebut disebabkan partikel solid di bagian atas awan Cumulonimbus berupa bibit es (hailstone). Hailstone ini lantas keluar dari sistem awan konvektif tapi tidak mampu dicairkan oleh penguapan yang terjadi di atmosfer, sehingga jatiuh ke Bumi dalam bentuk es.
Padahal lazimnya dengan penguapan diluar sistem awan, hail stone (bibit es) tadi hancur sehingga jatuh ke bumi dalam bentuk cair atau hujan.
"Awan-awan ini saya cek jenis multisel cumulonimbus.. saya cek sangat matang ukuran diameter sel 30-40 km..suhu puncak nya mencapai -80 (derajat) Celcius," tulisnya.
Lebih lanjut, Deni menjelaskan awan Cumulonimbus yang sempurna terdiri dari 3 lapisan. Lapisan paling bawah awan terdiri dari tetes air yang merupakan hasil kondensasi."Untuk awan single sel dengan 3 lapis sempurna awan saja treshold matangnya -40 C, jadi memang sangat matang dan sempurna," tambah Deni.
Lapisan kedua, merupakan lapisan campuran terdiri dari tetes sangat dingin (super cooled water) dan kristal es. Karena partikel tetes sebelumnya diangkat dan didinginkan melewati freezing level 0 derajat Celcius.
Lapisan terakhir (top cloud) semua partikel akan berada dalam bentuk solid (es) karena dinginnya suhu bisa di bawah -40 C
Meski demikian, Deni mengungkap tidak semua awan Cumulonimbu bahkan yang multi sel mengakibatkan hujan es di permukaan. Sebab, terbentuknya hujan es dipengaruhi oleh kondisi penguapan diluar sistem awan yang mempengaruhi terjadinya presiptasi.
"Jadi sekali lagi saya sampaikan, sepanjang terbentuk awan Cb potensi hailstone selalu ada." ucap Deni.
BERITA TERKAIT
-
Fenomena Tanah Bergerak di Pasuruan Sebabkan 47 Rumah Rusak
-
Fenomena Hari Tanpa Bayangan Bakal Terjadi di Seluruh Indonesia, Ini Jadwalnya di Masing-masing Kota!
-
Viral Bintang Muncul di Atas Bulan Sabit di Malam ke 7 Ramadan, Ini Penjelasan BRIN
-
Air Mendidih yang Muncul dari Dalam Tanah Gegerkan Warga Maros, Ahli Ungkap Penyebabnya
-
Warga Pinrang Dihebohkan dengan Hujan Es