Redaksi : Rabu, 17 November 2021 20:11
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto berbicara dalam Dialog Nasional Pemenuhan Hak dan Perlindungan Minoritas di Semarang.

SEMARANG, BUKAMATA - Rabu, 17 November 2021, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto menjadi pembicara pada "Dialog Nasional Pemenuhan Hak dan Perlindungan Minoritas di Tingkat Kota".

Kegiatan yang dihelat Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu, digelar di PO Hotel Ballroom, Semarang.

Pada kesempatan itu, wali kota yang akrab disapa Danny itu mengungkapkan, Kota Makassar yang dipimpinnya sangat egaliter. Masyarakatnya memperlakukan kelompok minoritas dengan sangat baik.

Danny mengatakan, dirinya yang berdarah Gorontalo, adalah contoh kelompok minoritas di Makassar. Namun, masyarakat Makassar tetap memilihnya sebagai Wali Kota Makassar. Meski sempat dikriminalisasi oleh sekelompok orang, namun dirinya tetap bisa memenangkan Pilwalkot. Mulai dari kemenangan kotak kosong, hingga kemenangan dirinya pada Pilkada 2020 berpasangan dengan Fatmawati Rusdi.

Contoh terbaik penerapan HAM kata Danny, adalah di pemerintahan. Di Makassar lanjut Danny, ada 4 suku besar. Yakni, Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Selama ini lanjut Danny, belum pernah ada camat di pemerintahan Kota Makassar yang berasal dari Toraja. Karenanya, saat ini dia menyediakan satu kursi camat untuk suku Toraja.

Pada kesempatan itu, Danny mengatakan, kalau berbicara tentang HAM, maka itu berbicara tentang komitmen. Komitmen terbaik kata Danny adalah regulasi atau aturan.

"Saya dan wakil wali kota berkomitmen sangat kuat dalam persoalan HAM. Khususnya untuk diskriminasi," ujarnya.

Visi pemerintahannya bersama Fatma kata Danny, adalah "Kami selalu saja ada untuk semua". Kata "untuk semua" ini lanjut Danny, menjadi kunci bahwa Makassar itu sangat egaliter.

"Ada juga sombere. Kemampuan orang Makassar memperlakukan orang lain dengan sangat baik," terangnya.

Semua itu kata Danny, ada dalam visi misi. Dan ini kata dia, bagian kuat di RPJMD pemerintahannya.

Selain itu, selama ini kata Danny, belum ada daerah yang membuat rencana aksi daerah. "Kami setelah perda, akan bikin RAD disabilitas," terangnya.

Danny juga menambahkan, pihaknya membuat infrastruktur masyarakat. Dia dan wakil wali kota, membuat lokal influencer yang difasilitasi oleh negara. Siapapun jadi warga Kota Makassar kata Danny, diukur bukan dari sukunya, agamanya, partainya, juga bukan dari golongannya. Akan tetapi dari kekuatannya mempengaruhi orang lain. "Lokal influencer kita kasi gaji," ungkapnya.

Makassar lanjut Danny, juga punya festival budaya yang rutin dan sudah mendunia. Yakni, F8. "Kami salah satu negara yang menerima pengungsi. Yang penting jangan lewat 2.000 orang. Dan mereka kita ikutkan F8. Ada dari Afghanistan dan sebagainya," ungkap Danny.

Danny kembali menegaskan, kalau kota yang dipimpinnya sangat egaliter. Contohnya kata Danny, warga Makassar memilih wali kota yang hanya lahir di Makassar, tetapi orang tuanya bukan dari Makassar.

"Meski saya dikriminalisasi. Saya iyyakana'budu. Kotak kosong saat itu menang lawan 10 partai, dan saya berdiri di sini. 2020, saya kemudian kembali terpilih menjadi wali kota," paparnya.

"Ternyata saya yang minoriti, membuat sejarah di Makassar. Makasar mendapatkan Prasamya Purna Karya Nugraha hanya satu periode. Jadi ini menegaskan, minoriti mayoriti itu hanya persoalan lahir saja. Intinya bagaimana mempengaruhi yang lain, itulah influencer," terangnya.

Menutup materinya, Danny melontarkan quote. "Perbedaahan itu bukan tembok yang saling memisahkan, tapi perbedaan itu adalah ruang-ruang yang saling melengkapi. Perbedaan itu bukanlah pulau-pulau yang saling terpisahkan seperti Indonesia, tapi perbedaan itu adalah laut yang saling menghubungkan yang mempersatukan Indonesia. Itulah Indonesia, Indonesia rumah besar kita," ucap Danny disambut tepukan meriah yang hadir.

Dialog Nasional tersebut, dibuka oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Juga hadir memberi sambutan Ketua Apeksi, Bima Arya Sugiarto, serta Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Selain Danny, pembicara lainnya adalah Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, dan Wali Kota Singkawan, Tjhai Chui Mie.