Ibnu Kasir Amahoru
Ibnu Kasir Amahoru

Selasa, 12 Oktober 2021 21:58

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Polri Beberkan Fakta-fakta Temuan Supervisi Kasus Pencabulan di Luwu Timur

Fakta pertama yang ditemukan, kata Rusdi Hartono bahwa ada surat pengaduan pada 9 Oktober 2019. Ini terkait laporan tindak pidana tentang dugaan perbuatan cabul.

BUKAMATA - Mabes Polri membeberkan sejumlah fakta terkait hasil penyelidikan terkait dugaan pemerkosaan terhadap 3 anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, tim supervisi Mabes Polri yang telah bekerja sejak 10 Oktober 2021 itu menemukan sejumlah fakta.

Fakta pertama yang ditemukan, kata Rusdi Hartono bahwa ada surat pengaduan pada 9 Oktober 2019. Ini terkait laporan tindak pidana tentang dugaan perbuatan cabul.

"Sekali lagi, dalam surat pengaduan tersebut, saudari RS melaporkan diduga telah terjadi peristiwa perbuatan cabul. Jadi bukan perbuatan tindak pidana perkosaan, seperti yang viral di medsos dan juga menjadi perbincangan di publik. ini yang perlu Kita ketahui bersama," kata Rusdi di Mabes Polri, Selasa (12/10/2021).

Fakta kedua, pada 2 Oktober 2019, penyidik Polres Luwu Timur telah meminta visum et repertum ke Puskemas. Hasil visum pun keluar pada 15 Oktober 2019.

Selanjutnya pada Oktober 2020, polisi meminta keterangan dari dokter yang melakukan pemeriksaan. Disampaikan bahwa tidak ditemukan kelainan pada organ kelamin dan dubur korban.

Fakta selanjutnya, pada 24 Oktober 2019, penyidik meminta visum ke RS Bhayangkara Makassar dan hasilnya keluar pada 15 November 2019.

"Hasilnya adalah pertama tidak ada kelainan pada alat kelamin dan dubur, yang kedua perlukaan pada tubuh lain tidak diketemukan," ucap Rusdi dilansir CNNIndonesia.

Lalu fakta keempat, pada 31 Oktober 2019, penyidik mendapat informasi bahwa RS melakukan pemeriksaan terhadap ketiga anaknya di rumah sakit. Tim supervisi lantas memeriksa dokter yang melakukan pemeriksaan saat itu.

"Dan didapati keterangan telah terjadi peradangan di sekitar vagina dan dubur, dan ketika dilihat ada peradangan pada vagina dan dubur diberi antibiotik dan paracetamol antinyeri," tutur Rusdi.

Kemudian disarankan kepada orang tua untuk dilanjutkan pemeriksaan di dokter spesialis kandungan.

Rusdi menuturkan tim juga melakukan interview ke petugas P2TP2A Luwu Timur yang melakukan asesmen dan konseling kepada RS serta ketiga anaknya. Konseling diketahui dilakukan pada 8 Oktober 2019, 9 Oktober 2019, dan 15 Oktober 2019.

"Dengan hasil kesimpulan, tidak ada tanda-tanda trauma pada ketiga korban terhadap ayahnya," ucap Rusdi.

Berikutnya, mengetahui ada tidaknya aksi pencabulan itu, tim supervisi minta para korban untuk melakukan pemeriksaan di dokter spesialis kandungan. Pemeriksaan ini, kata Rusdi, didampingi oleh ibu korban dan pengacara dari LBH Makassar.

Ini disepakati oleh ibu korban. Namun, pada tanggal 12 Oktober 2021 atau hari ini, kesepakatan tersebut dibatalkan ibu korban dan juga pengacaranya dengan alasan anak takut trauma.

"Tetapi pada tanggal 12 Oktober 2021, sekarang ini, kesepakatan tersebut dibatalkan oleh ibu korban dan juga pengacaranya dengan alasan anak takut trauma," tutur Rusdi.

Sebelumnya, oknum Aparatur Sipil Negara (ASN), inisial S dilaporkan mantan istrinya atas dugaan pencabulan terhadap ketiga anaknya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

 

#Pencabulan #Luwu Timur