Ulfa : Sabtu, 11 September 2021 13:07
Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta. IST

JAKARTA, BUKAMATA - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta mengingatkan pemerintah agar lebih serius lagi mewaspadai ketimpangan ekonomi, karena bisa dimanfaatkan oleh 'global player' atau kekuatan asing untuk membuat kekacauan di dalam negeri.

Hal ini sebagai dampak dari perang supremasi antara Amerika Serikat dengan China di Afghanistan pasca kemenangan Taliban yang bisa menjadi 'residu' bagi keamanan di Indonesia.

"Berdasarkan pengamatan saya, ketimpangan ekonomi di Indonesia terkait dengan dua isu, yakni agama dan etnis. Kemiskinan banyak dialami oleh umat Islam, sementara etnis China dominan menguasai perekonomian. Isu ini, bisa dimanfaatkan oleh global player menciptakan kekacauan di negeri ini. Maka, pemerintah harus menangani ini secara serius," kata Anis Matta saat menjadi narasumber dalam Webinar Moya Institute bertajuk 'Dampak Berkuasanya Kembali Taliban Bagi Keamanan Indonesia', Jumat (10/9/2021) petang.

Anis Matta menegaskan, Indonesia menjadi target 'global player' karena merupakan salah satu spot perang supremasi antara AS-China di Laut China Selatan yang terletak berbatasan secara langsung dengan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Pemerintah China telah mengklaim perairan Natuna bagian dari Nine-Dash Line atau sembilan garis putus-putus. Sementara Pemerintah Indonesia sendiri telah mengganti nama perairan Natuna yang masuk dalam perairan Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara.

Sebab itu, bukan mustahil Indonesia akan terseret dan terlibat perang di Laut China Selatan, apabila perang supremasi antara AS-China semakin memanas.

Lalu Bagaimana dengan Militer Indonesia jika perang terjadi di Laut China Selatan benar-benar terjadi?, Anis Matta memberikan catatan penting buat kesiapan militer Indonesia.

"Ingat, di Militer Indonesia ini, sudah puluhan tahun tidak punya pengalaman perang yang besar," ujar Anis Matta.

Sehingga bagi Indonesia, Anis Matta mengingatkan lebih baik fokus pada ancaman krisis berlarut yang kemungkinan akan berlangsung lama, karena dampaknya serius menimbulkan ketimpangan ekonomi dan kemiskinan.

Peringatan Anis Matta ini juga disimak dengan baik oleh Narasumber lain mantan KSAU Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, mantan Duta Besar RI untuk PBB Makarim Wibisono, pengamat Politik Internasional Imron Cotan dan Direktur Eksekutif Moya Institute Hery Sucipto sebagai pemantik diskusi.