Aswad Syam
Aswad Syam

Selasa, 07 September 2021 15:42

Korban saat menjalani perawatan di RSUD Syekh Yusuf Gowa.
Korban saat menjalani perawatan di RSUD Syekh Yusuf Gowa.

Kekejaman Pasutri Penganut Pesugihan di Malino, Si Sulung Tewas Dicekoki Garam, Bola Mata Si Bungsu Dicongkel

Tega betul Tepu dan Acce. Pasangan suami istri asal Malino, Gowa, Sulsel itu, diduga menjadikan dua anaknya tumbal pesugihan.

GOWA, BUKAMATA - Sungguh kejam Acce dan Tepu. Pasangan suami istri di Lembang Panai, Kecamatan Tinggimoncong, Malino, Gowa, Sulsel ini, tega menghabisi putra sulungnya, Dandy (20) hanya karena ingin kaya. Dia diduga menjadikan Dandy sebagai tumbal.

Remaja yang tahun lalu mendaftar tentara namun tak lulus itu, diduga dicekoki garam 2 liter. Hingga pembuluh darahnya pecah. Dandy pun tewas pada Selasa, 31 Agustus 2021.

"Untuk sementara, dari informasi yang saya dengar, kakaknya ini meninggal ini karena dicekokin garam 2 liter, sampai pembuluh darahnya pecah," kata Agus, salah satu anggota keluarga korban dan pelaku, Sabtu (4/9/2021).

Hal senada disampaikan paman korban, Bayu. Bayu mengaku mendapat informasi sang keponakan meninggal karena dianiaya orang tuanya.

"Kalau untuk informasi dicekoki garam dari berbagai informasi memang betul," kata paman korban, Bayu, kepada detikcom di RSUD Syekh Yusuf Gowa, Senin, (6/9/2021).

Pada Rabu, 1 September 2021, Dandy kemudian dimakamkan. Tak ada yang mencurigai Acce dan Tepu sebagai pembunuh putranya. Hingga, belang mereka ketahuan saat Dandy baru saja dimakamkan.

Siang itu, sekira pukul 13.00 Wita, pelayat masih berkumpul di rumah duka. Baru saja pulang dari pemakaman. Bayu, sang paman sedang berbincang dengan Kepala Lingkungan H Dg Bella dan Bhabinsa. Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam rumah.

Bayu bergegas masuk. Dia melihat Acce dan suaminya, Tepu, sedang mencongkel mata putrinya, AP (6). Sedang kakek korban, Basri tampak memegang kaki. Ada pula Sudding, paman korban memegangi rambutnya.

"Assulukko!!! Assulukko!!!" teriak Acce sambil mencongkel biji mata putrinya. Ada bagian dari mata korban sempat dicongkel dan dimasukkan oleh Acce ke dalam mulutnya.

Melihat itu, Bayu keluar meminta tolong Dg Bella dan Bhabinsa. Lalu Dg Bella masuk merebut AP. Dia kemudian membopong bocah itu keluar. Akan tetapi, nenek korban Minda memeluk Dg Bella dari belakang. Dg Bella ditarik hingga kewalahan.

Untung seorang tentara berhasil merebut AP, lalu melarikannya ke RSUD Syekh Yusuf, Gowa.

Bayu mengatakan, di rumah tersebut sering dilakukan ritual aneh pada malam-malam tertentu.

Saat ini, polisi menetapkan kakek Basri dan paman Sudding sebagai tersangka dan terancam hukuman hingga 15 tahun penjara. Keduanya dijerat Pasal 45 ayat 2 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT juncto Pasal 55, 56 KUHP atau Pasal 80 (2) juncto Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak sehingga terancam hukuman hingga 15 tahun penjara.

"Kakek dan paman korban telah ditetapkan tersangka pada hari Sabtu, 4 September 2021 dan hari ini Minggu (hari ini) telah dilakukan penahanan," kata Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Boby Rachman.

Sedangkan Acce dan Tepu saat ini sedang diobservasi kejiwaannya di RSUD Dadi. Itu untuk mengetahui apakah keduanya sehat atau mengalami gangguan jiwa.

"Kedua terduga pelaku yaitu orang tua korban HAS (43) dan TAU (47), telah diobservasi ke RSJ Dadi Makassar untuk memeriksa kejiwaan pada Jumat 3 September 2021 dan sekarang masih menunggu hasil pemeriksaan kejiwaan dari RSJ Dadi," ungkap Kabid Humas Polda Sulsel Kombes E Zulpan.

Sedang korban saat ini sedang mengalami trauma berat. Kepala Pelayanan Rekam Medik RSUD Syekh Yusuf, dr Suriadi mengungkapkan, kelopak mata AP sobek akibat ulah keji kedua orang tuanya. Jaringan-jaringan kelopak mata yang sobek tersebut pun diharapkan bisa beregenerasi dengan baik.

"Ya itu tadi kita coba lihat, bola mata dengan kelopak mata di situ yang saya katakan ada sobekan. Tapi bola mata masih utuh," kata Kepala Pelayanan Rekam Medik RSUD Syekh Yusuf, dr Suriadi.

Saat ini, korban mendapatkan pendampingan dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Gowa yang menggandeng psikolog dari UNM untuk melakukan trauma healing.

"Selanjutnya kami melakukan trauma healing untuk anak-anak korban kekerasan dan kebetulan juga ada mahasiswa Psikolog UNM yang sementara KKP di tempat kami itu juga kami libatkan," ujar Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas PPA Gowa, Sutra.

Dia mengatakan pendampingan akan terus diberikan, baik saat masih dirawat maupun setelah korban selesai menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kami menunggu setelah perawatan korban di rumah sakit, apabila sudah sehat atau sembuh kami akan bawa ke rumah aman untuk melakukan tindakan terapi lanjutan memanggil psikolog dan psikiater," ujarnya.

#Penganiayaan