Redaksi
Redaksi

Sabtu, 21 Agustus 2021 13:39

Menlu Inggris, Dominic Raab. (Sumber: Downing Street)
Menlu Inggris, Dominic Raab. (Sumber: Downing Street)

Asyik Berjemur Saat Evakuasi Cepat Dibutuhkan di Afghanistan, Menlu Inggris Didesak Mundur

Menlu Inggris, Dominic Raab didesak mundur. Itu setelah gagal mengusahakan evakuasi penerjemah lokal mereka di Afghanistan.

INGGRIS, BUKAMATA - Minggu, 15 Agustus 2021. Milisi Taliban sudah bergerak menguasai Kabul, ibukota Afghanistan. Situasi memburuk. Beberapa negara mengevakuasi warganya dari negeri "Para Mullah" itu. Termasuk Inggris.

Namun hari itu, Menteri Negeri (Menlu) Inggris, Dominic Raab, sedang berada di Crete, Yunani. Sedang berlibur. Dia sedang berjemur, ketika masuk panggilan meminta agar dia melakukan panggilan telepon ke Menlu Afghanistan untuk menolong para penerjemah lokal yang membantu pasukan Inggris selama ini, melarikan diri dari negara itu.

Tetapi panggilan telepon itu tidak pernah dilakukan. Raab disebut lebih asyik menikmati liburannya. Hal ini mengarah pada tuntutan agar Raab meletakkan jabatannya. Pemerintah Inggris pun dianggap telah mengabaikan para penerjemah.

"Sementara Menteri Luar Negeri berbaring di kursi berjemur, Taliban maju," kata juru bicara oposisi utama Partai Buruh, Lisa Nandy.

"Menteri Luar Negeri seharusnya malu dan Perdana Menteri memiliki pertanyaan serius untuk dijawab mengapa dia tetap menjabat," cetusnya.

Namun, Raab berkelit. Dia menyebut laporan media tidak akurat. Raab bilang, panggilan telepon itu didelegasikan kepada seorang menteri junior karena dia memprioritaskan keamanan dan kapasitas di bandara Kabul, atas saran dari mereka yang mengawasi respons krisis.

"Menteri Luar Negeri Afghanistan (Haneef Atmar) setuju untuk menerima panggilan itu, tetapi tidak dapat melakukannya karena situasi yang memburuk dengan cepat," ujar Raab dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya.

"Seluruh pemerintah telah bekerja tanpa lelah selama seminggu terakhir untuk membantu sebanyak mungkin orang mengungsi dari Afghanistan," tambahnya.

Pemerintah Inggris telah menyatakan memprioritaskan keamanan di bandara Kabul, yang menurut Raab adalah keputusan yang tepat.

"Oleh karenanya, 204 warga negara Inggris dan keluarga mereka, staf Afghanistan, dan warga negara lain dievakuasi pada Senin pagi 16 Agustus," papar Raab.

Dia menambahkan, sebanyak 1.635 orang telah diterbangkan sejak itu.

Sebelumnya, Pemerintah Inggris telah dikecam karena dianggap tidak cukup membantu para penerjemah Afghanistan yang selama ini mendukung pasukan Inggris.

Perdana Menteri Boris Johnson bersikeras, para pejabat Inggris mulai melihat beberapa kemajuan yang baik di bandara Kabul, meskipun ada kekacauan di lapangan.

"Inggris sedang mengevakuasi sebanyak yang kami bisa, secepat yang kami bisa," ujarnya.

"Apa yang Inggris sekarang perlu lakukan adalah bekerja dengan semua teman dan mitra kami di komunitas internasional sehingga kami menggunakan pengaruh maksimum pada rezim baru di Kabul," tegas Johnson.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Menlu Inggris #Afghanistan #Taliban