ENREKANG, BUKAMATA - Mengenakan topi rimba, dipadu sweater biru yang mulai memudar, Junaidi memetik buah-buah kopi yang meranum di kebunnya, Desa Latimojong, Kabupaten Enrekang. Bulat. Merah. Sepintas mirip buah kersen.
Pria berusia 33 tahun itu, tampak semringah. Produksi kopinya tetap melimpah. Meski, di tengah pesimisme para petani kopi di akibat dampak Pandemi Covid-19.
Junaidi juga hampir menyerah. Beberapa rekannya sudah menebang pohon kopinya. Mengganti dengan tanaman bawang. Itu setelah harga kopi menurun drastis. Harganya cuma Rp6.000 per liter. Padahal tahun sebelumnya, mencapai Rp18 ribu per liter.
Baca Juga :
Penurunan harga itu kata Junaidi, membuat sebagian besar petani kopi di daerahnya cuek. Tak lagi merawat kebun kopinya dengan baik.
"Dampaknya sangat besar, permintaan berkurang, harga menurun drastis, pemasaran yang sulit. Makanya, banyak petani sekarang cuek dalam merawat kebun kopinya, karena akibat biaya pemeliharaan tak sebanding lagi dengan hasil yang didapatkan pada saat panen," ungkapnya, Minggu, 30 Mei 2021.
Junaidi nyaris ikut dalam arus pesimisme rekan-rekannya. Namun, dia kemudian menguatkan hatinya, hidup akan kembali membaik. Dia pun tanaman kopinya tumbuh dan menghasilkan buah. Dia tetap merawatnya.
Optimisme Junaidi terbukti. Saat ini, harga perlahan kembali merangkak naik. Dari Rp6.000 menjadi Rp10 ribu per liter.
"Selaku petani yang telah lama bergelut sebagai petani kopi, saya tetap berharap semoga pandemi cepat berlalu dan harga kopi kembali stabil. Saya juga berharap agar petani kopi kembali bersemangat untuk memelihara perkebunan kopinya," ungkapnya.
Junaidi juga sangat berharap, harga kopi terus menanjak naik. Sebab, biaya pemeliharaan lumayan banyak. "Jadi kalau hanya seharga Rp10 ribu, ibaratnya hari ini ngutang untuk biaya garapan di kebun, setelah waktu panen tiba, hasilnya hanya untuk melunasi utang," tutupnya.
Penulis: Kifli