BUKAMATA - Korban tewas akibat serangan bom di luar sebuah sekolah di ibu kota Afghanistan, Kabul, telah meningkat menjadi 68 orang.
Pada hari Minggu, keluarga korban menguburkan anak-anak mereka, sementara dokter di rumah sakit masih berjuang untuk merawat 165 orang lainnya yang terluka. Beberapa keluarga juga masih mati-matian mencari anak-anak mereka yang hilang.
Ledakan terjadi pada Sabtu malam di depan sekolah Sayed Al-Shuhada. Dua bom susulan kemudian meledak ketika para siswa bergegas keluar karena panik.
Seorang korban selamat, Zahra, mengatakan kepada wartawan bahwa dia meninggalkan sekolah saat ledakan terjadi.
"Teman sekelas saya meninggal. Beberapa menit kemudian ada ledakan lagi, dan ledakan lagi. Semua orang berteriak dan ada darah di mana-mana," katanya.
Serangan itu terjadi di lingkungan Dasht-e-Barchi, rumah bagi komunitas besar Syiah dari etnis minoritas Hazara.
Sejauh ini belum ada yang mengaku melakukan serangan tersebut. Namun pemerintah Afghanistan menyalahkan militan Taliban, tapi kelompok itu membantahnya dan mengutuk setiap serangan terhadap warga sipil.
Pada hari Sabtu, departemen luar negeri AS mengutuk "serangan biadab" tersebut.
"Kami menyerukan diakhirinya segera kekerasan dan penargetan warga sipil tak berdosa yang tidak masuk akal," kata mereka dalam sebuah pernyataan, dikutip BBC.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres juga mengutuk serangan itu dan mengungkapkan simpati terdalamnya kepada keluarga para korban dan kepada pemerintah serta rakyat Afghanistan.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Jusuf Kalla Tawarkan Pemuda Afghanistan Kuliah di Indonesia
-
Indonesia Kirim Bantuan 10 Juta Dosis Vaksin Polio Produksi Dalam Negeri ke Afghanistan
-
Bom Bunuh Diri Tewaskan 60 Warga Afghanistan dan 12 Tentara AS, ISIS Mengaku Bertanggung Jawab
-
Asyik Berjemur Saat Evakuasi Cepat Dibutuhkan di Afghanistan, Menlu Inggris Didesak Mundur
-
Pesawat TNI AU Evakuasi 26 WNI dari Afghanistan, 7 Non-WNI Juga Ikut