Tuntut Pemekaran, Begini Kemampuan Fiskal Empat Daerah di Luwu Raya
01 Februari 2026 10:33
Polisi melepaskan tembakan di berbagai bagian kota terbesar Yangon, setelah granat kejut, gas air mata dan tembakan di udara gagal memecah kerumunan
BUKAMATA - Polisi Myanmar menembaki demonstran anti-kudeta di seluruh negeri pada hari Minggu (28/02/2021), menyebabkan sedikitnya 18 orang tewas.
"Myanmar seperti medan perang," kata kardinal Katolik pertama negara mayoritas Buddha itu, Charles Maung Bo, di Twitter.
Menurut laporan, polisi melepaskan tembakan di berbagai bagian kota terbesar Yangon, setelah granat kejut, gas air mata dan tembakan di udara gagal memecah kerumunan. Reuters melaporkan bahwa tentara juga memperkuat polisi.
Foto yang diambil wartawan menunjukkan, beberapa orang terluka diangkut oleh sesama pengunjuk rasa, meninggalkan noda darah di trotoar.
Seorang pria meninggal setelah dibawa ke rumah sakit dengan peluru di dadanya, kata seorang dokter yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
"Polisi dan pasukan militer telah menghadapi demonstrasi damai, menggunakan kekuatan yang mematikan dan kekuatan yang kurang mematikan. Menurut informasi yang dapat dipercay, mereka telah menyebabkan sedikitnya 18 orang tewas dan lebih dari 30 luka-luka," kata Kantor Hak Asasi Manusia PBB dalam sebuah pernyataan.
"Kematian dilaporkan terjadi akibat peluru tajam yang ditembakkan ke kerumunan di Yangon, Dawei, Mandalay, Myeik, Bago dan Pokokku. Gas air mata juga dilaporkan digunakan di berbagai lokasi serta granat flash-bang dan setrum."
Di antara mereka yang tewas adalah, tiga orang di Dawei, dua orang di kota Mandalay, dua orang di kota Bago, dan satu di Yangon.
Pekan lalu, Pemimpin Junta Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan bahwa pihak berwenang menggunakan kekuatan minimal untuk menangani protes.
Namun demikian, setidaknya 21 pengunjuk rasa kini telah kehilangan nyawa dalam kekacauan tersebut.
01 Februari 2026 10:33
01 Februari 2026 10:24
31 Januari 2026 21:37
01 Februari 2026 10:24
01 Februari 2026 10:33