Operasi Prokes, Dinkes Gowa Siapkan 60 Pcs Rapid Antigen dan Swab PCR Tiap Hari
Pemkab Gowa melalui Dinas Kesehatan menyiapkan ratusan alat rapid antigen maupun alat swab PCR.
BUKAMATA, GOWA - Operasi yustisi penegakan pendisiplinan protokol kesehatan (prokes) Kabupaten Gowa digelar selama enam hari mulai Rabu (3/2/2021) hingga Senin (8/2/2021).

Selama enam hari ini, Pemkab Gowa melalui Dinas Kesehatan menyiapkan ratusan alat rapid antigen maupun alat swab PCR.
Kadis Kesehatan Gowa dr Hasanuddin saat dikonfirmasi di tengah pelaksanaan operasi yustisi di Kecamatan Bontomarannu, Sabtu (6/2/2021) kemarin mengatakan, selama operasi yustisi dilaksanakan, pihaknya menyediakan 60 pcs alat rapid antigen dan swab PCR perhari.
”Jadi setiap hari, selama operasi berjalan pada satu titik pelayanan disiapkan 20 pcs alat rapid antigen dan 4 PCR. Rerata semua titik operasi yustisi setiap harinya kita fasilitasi alat rapid antigen dan PCR. Dari pemakaian alat rapid antigen bisa kita langsung ketahui dalam 5-10 menit kecuali swab PCR harus menunggu tiga hari baru diketahui hasilnya. Jadi yang kami lakukan ini adalah tracing bagi masyarakat,” jelas dr Hasanuddin yang juga adalah Plh Direktur RSUD Syekh Yusuf.
Karena itu kata dr Hasanuddin, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan masker dan menerapkan ketentuan prokes yang baik agar bisa terhindar dari penularan covid 19.
Menurut dia, covid 19 belum ada obatnya. Yang ada hanya vaksin namun vaksin ini bukan untuk menyembuhkan bila ada yang terpapar. Vaksin ini kata dr Hasanuddin hanya untuk pencegahan saja, itupun tidak menjamin tubuh betul-betul kebal virus covid.
” Makanya masyarakat diimbau untuk taat prokes. Pakailah masker dimana dan kapan saja apalagi di luar rumah sebab potensi tertular sangat besar. Kita tidak tau juga siapa yang bawa virus, apakah anggota keluarga, teman, tamu kita, kerabat dan penjual atau orang lainnya. Rajinlah cuci tangan setiap kali bepergian, sementara bepergian atau pulang dari tempat kerja, pasar atau tempat-tempat lainnya. Jaga jarak, jangan bersentuhan, hindari kerumunan orang atau tempat yang potensi menimbulkan kerumunan orang,” jelas dr Hasanuddin.
