Ririn : Sabtu, 30 Januari 2021 16:20
Marine Le Pen

BUKAMATA - Prancis sedang bersiap untuk mengadakan pemilihan presiden pada April 2022 mendatang.

Presiden petahana Emanuel Macron akan bersaing kembali dengan saingannya Marine Le Pen. Empat tahun lalu, presiden National Rally itu kalah telak dari Macron di babak kedua.

Selama konferensi pers pada hari Jumat, calon presiden Le Pen mengusulkan untuk melarang "ideologi Islam" jika ia terpilih. France 24 melaporkan bahwa rencana itu juga akan mencakup pembatasan pemakaian jilbab di semua tempat umum.

Politisi berusia 52 tahun itu mengatakan kepada wartawan bahwa jilbab harus dianggap sebagai "pakaian ekstrimis" dan dia ingin melarang ideologi "totaliter dan pembunuh" yang terkait dengan fundamentalisme Islam.

Pada hari Rabu, Harris Interactive menerbitkan hasil jajak pendapat online yang menunjukkan bahwa jika pemilihan diadakan sekarang, Le Pen akan memperoleh 48% suara, dan 52 untuk Macron. Itu adalah dukungan terbesar yang dimiliki politisi konservatif dalam beberapa tahun terakhir.

Survei dilakukan terhadap 1.403 orang berusia di atas 18 tahun, yang sebagian besar adalah pemilih terdaftar.

Pada tahun 2011, Prancis menjadi negara pertama di Eropa yang melarang penutup wajah penuh di tempat umum, termasuk burqa dan niqab.

Tujuh tahun sebelumnya, Prancis juga memberlakukan larangan jilbab dan simbol agama lain yang "mencolok" di sekolah umum sejalan dengan hukum negara sekuler.

Langkah-langkah ini telah memicu serangkaian perdebatan dan tantangan hukum dari publik, yang menyatakan bahwa tindakan tersebut telah merusak hak individu atas kebebasan berekspresi.