Ibnu Kasir
Ibnu Kasir

Selasa, 12 Januari 2021 17:16

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Setop Pakai WhatsApp, Turki Dorong Warganya Hijrah ke Aplikasi BiP

Pemerintah Turki sendiri meminta warga untuk menggunakan BiP ketimbang layanan asing, seperti WhatsApp.

BUKAMATA - Kebijakan privasi baru WhatsApp membuat sebagian penggunanya merasa cemas. Salah satunya kantor Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Tiga lembaga negara di Turki, Biro Pers Kepresidenan, Kementerian Pertahanan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha memutuskan untuk menghapus WhatsApp dan berhenti menggunakannya.

Langkah ini sebagai antisipasi atas ulah WhatsApp yang mengeluarkan kebijakan privasi baru yang membolehkan Facebook dan anak usahanya mengambil data pribadi pengguna.

Bahkan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha Turki (KPPU Turki / Turkish Competition Board) sedang menyelidiki platform pesan instan WhatsApp yang baru saja memperbarui kebijakan privasi mereka.

"Kami sudah mengadakan penyelidikan terhadap Facebook dan WhatsApp dan menangguhkan permintaan untuk membagikan data privasi pengguna mereka," demikian keterangan resmi KPPU Turki, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (12/1/2021).

Sebagai gantinya, para pengguna beralih ke BiP, aplikasi milik perusahaan komunikasi Turki, Turkcell.

Sejak dirilis pada tahun 2013, aplikasi messaging tersebut menurut Turkcell sudah diunduh sekitar 53 juta kali di Turki sehingga cukup laris. Pemerintah Turki sendiri meminta warga untuk menggunakan BiP ketimbang layanan asing.

BiP memperoleh lebih dari 1,12 juta pengguna baru hanya dalam waktu 24 jam, dan memiliki lebih dari 53 juta pengguna di seluruh dunia sejak didirikan pada 2013, menurut data yang dibagikan oleh Turkcell, pada Minggu, 10 Januari kemarin.

Sebagai aplikasi yang menawarkan layanan pesan, panggilan suara, dan video HD, BiP terus menjadi pilihan konsumen di 192 negara. Di antara fitur-fiturnya yang khas adalah opsi pesan yang dapat hilang, sehingga memungkinkan pengguna untuk mengirim pesan dengan aman, karena pesan tersebut dapat dihilangkan di sisi penerima dalam waktu yang ditentukan oleh pengirim.

Selain itu dengan tombol daruratnya, BiP memungkinkan pengguna untuk berbagi lokasi dan situasi dengan 10 orang yang telah ditentukan sebelumnya, baik melalui pesan BiP maupun SMS. Layanan ini dibutuhkan jika terjadi bencana alam.

Fitur darurat tersebut memungkinkan akses ke telepon darurat - seperti ambulans, pemadam kebakaran, kepolisian. Fitur lainnya, yakni fitur terjemahan, memungkinkan para pengguna mengobrol dalam 106 bahasa berbeda selama pengguna mengirim pesan instan.

Sebagai informasi, WhatsApp akan memberlakukan kebijakan privasi terbaru mulai 8 Februari 2021 mendatang. Pelanggan yang tidak berkenan dengan hal tersebut tidak bisa lagi memakai WhatsApp.

Salah satu poin yang menghebohkan adalah data dibagi ke Facebook. Pihak WhatsApp sendiri sudah memberi klarifikasi mengenai hal itu. WhatsApp menyatakan jika pembagian data telah dilakukan sejak tahun 2016 dengan Facebook namun masih dalam jumlah terbatas.

#WhatsApp