SIGI, BUKAMATA - Ney tampak masih terguncang. Dia tak ikut dibunuh kelompok yang diduga Ali Kalora Cs. Dia yang saat itu sedang terikat, hanya diolesi darah suami dan menantunya pada pakaian yang dia kenakan.
Ney kemudian menceritakan kronologi peristiwanya. Hari itu, Jumat, 27 November 2020. Pagi sekitar pukul 08.00 Wita. Saat itu, Ney sedang sarapan bersama Yasa, suaminya di rumah mereka, Trans Levonu, Dusun 5 Tokelemo, Desa Lembantangoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi.
Itu biasa dilakukan sebelum sang suami pergi ke ladang. Sedangkan menantunya, Pinus, ada di kamar mandi. Putrinya sedang di luar rumah. Tiba-tiba, ada sekitar 10 orang pria datang. Mereka menenteng senjata. Selain senjata api, juga ada parang.
Kelompok yang belakangan diketahui sebagai Ali Kalora Cs itu, langsung masuk ke dalam rumah. Mereka memnggil Yasa. Lalu, Yasa diseret keluar rumah. Menyusul Pinus.
Kelompok bengis ini, lalu mendudukkan mertua dan menantu itu di halaman rumah. Kemudian memukul kepala Yasa. BG, putri Yasa dan Ney melihat itu. Sempat teriak memanggil bapaknya. Sementara Ney, berlari ke arah suaminya. BG sempat memanggil ibunya, namun tangan Ney terlanjur ditangkap para pelaku.
Ney diikat. Lalu, di depan matanya, suaminya digorok. Ney histeris. Lalu parang yang berlumur darah itu, dibersihkan di pakaian Ney. Para jagal itu, lantas beralih ke sang menantu, Pinus. Namun, Ney tak melihatnya. Karena posisi Pinus ada di balakang Ney. Dia hanya mendengarkan jerit tertahan menantunya saat dieksekusi.
Usai membunuh Yasa dan Pinus, kemudian pelaku membantai lagi dua korban lainnya. Mereka korban dibakar bersama rumah mereka. Lalu, Ney menyaksikan kelompok itu pergi dengan membawa beras 40 kilogram dan bahan makanan lainnya.
Warga lainnya, termasuk putri Ney, BG bersama anaknya, juga adik-adiknya, melarikan diri masuk ke hutan Palolo. Ney tinggal sendiri. Di depan jenazah suaminya yang sudah tercabik-cabik.
Sekitar pukul 14.30 Wita, barulah Tim Gabungan Satgas Tinombala tiba di lokasi. Mereka memperlihatkan foto 11 DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT) kepada Ney. Wanita itu mengenali tiga di antaranya. Salah satunya adalah Ali Kalora, pimpinan MIT pasca Santoso alias Abu Wardah tewas dan Basri tertangkap.
Kapolda Sulteng, Irjen Pol Abdul Rachman Baso mengungkapkan, pihaknya menduga itu aksi balas dendam Ali Kalora Cs, setelah dua anggotanya tewas tertembak dan dua lainnya ditangkap dalam beberapa pekan terakhir ini.
Komandan Korem 132/Tadulako, Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf mengharapkan, melihat kekejian itu, dia meminta masyarakat Sulteng tidak lagi memberikan informasi mengenai pergerakan Satgas Tinombala kepada kelompok MIT, juga tidak membagikan makanan kepada kelompok teroris tersebut.
BERITA TERKAIT
-
Usai Menampakkan Diri, Dua Anggota Ali Kalora Kabur Masuk Hutan
-
Pimpinan MIT Ali Kalora Dikabarkan Tewas Tertembak
-
Qatar, Salah Satu Bos Teroris MIT Poso Tewas Tertembak
-
Kapolri Pastikan Satgas Madago Raya Terus Buru Kelompok MIT yang Tersisa 9 Orang
-
Sadis, Begini Kronologi Teroris Poso Penggal Dua Petani Asal Toraja