Aswad Syam
Aswad Syam

Sabtu, 21 November 2020 08:18

Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Sulsel, Ridwan Amiruddin.
Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Sulsel, Ridwan Amiruddin.

Pakar Epidemiologi: Info Vaksin yang Bias Longgarkan Protokol Kesehatan

Bias informasi seputar vaksin Covid-19, berpengaruh terhadap longgarnya protokol kesehatan. Itu diungkap ahli epidemiologi Sulsel, Ridwan Amiruddin.

MAKASSAR, BUKAMATA - Gencarnya pemberitaan tentang produksi vaksin, uji cobanya, hingga efek lanjutannya, besar kemungkinan menyebabkan distorsi informasi terhadap aspek pengendalian Covid-19. Itu diungkap Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi  Indonesia Sulsel, Ridwan Amiruddin.

Konsultan Satgas Covid-19 Sulsel ini, kembali mengingatkan pentingnya komunikasi berisiko yang efektif  pada periode kebencanaan, untuk meredam arus informasi tidak benar yang beredar di masyarakat. Ketimpangannya lanjut dia, akan mengarah pada menurunnya tingkat partisipasi publik terhadap penegakan protokol kesehatan.

"Euforia ujicoba vaksin baik oleh pfizer maupun moderna yang mampu memberikan efikasi di atas 90%, seolah menggiring kesadaran warga bahwa, sekarang tidak perlu khawatir karena vaksin Covid-19 sudah ditemukan, Tidak lama lagi covid akan usai. Statemen seperti ini akan berdampak buruk terhadap disiplin warga terhadap penegakan protokol kesehatan," tegasnya.

Pola komunikasi yang mesti dibangun kata dia, adalah komunikasi dengan pendekatan risk communication yang efektif.  Setiap informasi yang disampaikan ke publik kata dia, harus terukur. Pelibatan tim ahli untuk mengkaji trend distribusi dan determinant Covid-19 lanjut Ridwan, juga perlu terus diberdayakan. Itu sebagai upaya membangun perspektif positif yang reliable kepada publik.

Selain hal tersebut lanjut dia, juga tak kalah urgensinya adalah, pihak pemerintah yang terpercaya dan media yang akuntable. Secara terfokus, sistematis dan berkelanjutan menyebarkan informasi yang dapat menjadi rujukan dalam mengambil keputusan yang benar.

Pada aspek yang lain, warga sebagai penerima pesan sekaligus aktor dalam sukses dan atau gagalnya pengendalian Covid-19 harus terus menurus diberikan akses atau literasi terhadap trend, determinant dan mitigasi Covid-19 secara benar.

"Semakin kuat literasi publik tentang Covid-19, akan semakin menumbuhkembangkan warga yang tangguh menghadapi pandemi Covid-19. Akhirnya warga tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks," tambahnya.

Menurutnya, perlu dipahami bahwa intervensi spesifik pengendalian suatu penyakit dengan pemberian vaksin, bukanlah intervensi paripurna  yang serta merta menghilangkan penyakit yang  dimaksud, termasuk Covid-19. Vaksinasi kata Ridwan, adalah sebuah intervensi jangka panjang yang membutuhkan banyak sumberdaya untuk dapat digunakan secara aman.

"Banyak penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I), hingga kini juga belum dapat di eliminasi. Misalnya, campak, polio, diphteri dan influenza. Bahkan penyakit tersebut secara berkala mengalami kejadian luar biasa (KLB) dengan frekuensi yang semakin sering,  populasi terdampak yang cenderung meningkat dan wilayah yang semakin meluas," ujarnya.

Untuk itu kata dia, perlu kepada semua pihak yang berkepentingan untuk melihat bahwa pandemi Covid-19 adalah bencana/kedaruratan kesehatan masyarakat. Untuk itu mesti juga dengan pendekatan kesehatan masyarakat secara holistik.

"Pandemi Covid-19 tidak akan usai sebagaimana juga penyakit  berpotensi mewabah, bila kita gagal paham terhadap natural history penyakit tersebut. Intervensi yang efektif ditentukan oleh pemahaman yang benar terhadap pola pandemi itu sendiri," lanjutnya.

Kekuatan intervensi ungkap dia, harus disatukan dengan memahami secara benar aspek lingkungan,  perilaku, layanan kesehatan hingga mekanisme biologis yang mendukung  pengendalian Covid-19.

#Covid-19 Sulsel #Ahli epidemiologi

Berita Populer