PAPUA, BUKAMATA - Sabtu, 26 September 2020. Tenius Tebuni turun dari Kampung Mbua Tengah, Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua. Dia menyerahkan diri ke Satgas Yonif Raider 323 Kostrad.
Dia berikrar kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu pembantai karyawan PT Istaka Karya itu mengaku selama ini telah ditipu Egianus Kogoya. Pasukan KKSB pimpinan Egianus Kogoya ini, dikenal sebagai pelaku pembantaian karyawan PT Istaka Karya yang membangun jembatan di Nduga pada akhir 2018 lalu.
"Penyerahan diri anggota kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) Tenius Tebuni, dari kelompok Rambo Lokbere pimpinan Egianus Kogoya," kata Komandan Satgas (Dansatgas) Pamtas Mobile Yonif Raider 323/BP Kostrad Mayor Inf Afriandy Bayu Laksono dalam keterangannya, Jumat (2/10/2020).
Baca Juga :
Penyerahan diri kembali ke NKRI, ditandai dengan penyerahan bendera merah putih dari Satgas kepada Tenius. Setelah itu, Tenius Tebuni membuat pernyataan keluar dari KKSB dan berikrar setia pada NKRI.
Prosesi ini, disaksikan perwakilan Satgas Yonif Raider 323 Kostrad Lettu Inf Sudarso Pursito, Letda Chb Dede Syahroji, dan 8 anggotanya. Selain itu, juga ada tokoh agama Pendeta Yohanes dan perwakilan perangkat Kampung Mbua tengah.
Pada prosesi ini, Tenius Tebuni mengungkapkan alasannya bergabung dengan KKSB, karena dijanjikan kebutuhan hidupnya akan dipenuhi dan diberikan banyak uang. Namun, seiring berjalannya waktu, dia sadar telah ditipu.
"Sering kelaparan di dalam hutan, karena kekurangan logistik ditambah KKSB tidak solid selalu terpecah-pecah dan bergerak masing-masing," ungkap Tenius.
Selain itu, Tenius mengakui, selama bergabung pada kelompok Rambo Lokbere turut bertentangan dengan hati nuraninya. Batinnya menjerit saat KKSB menyakiti masyarakat. Dia juga mengaku bergabung KKSB karena terpaksa.
"Kerap kali memeras dan mengancam masyarakat serta menyakiti bahkan membunuh masyarakat yang tidak mau membantu," ungkapnya.
Tenius mengakui, pernah terlibat pengadangan dan kontak tembak di wilayah Habema sekitar tahun 2017. Setelah mengucapkan ikrar setia kepada NKRI, dia mengaku ingin hidup normal, merasa aman, dan nyaman seperti masyarakat umum lainnya.