Muh. Taufik
Muh. Taufik

Sabtu, 15 Agustus 2020 17:01

Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad saat mengikuti Pidato Kenegaraan Pengantar Nota Keuangan dan RUU APBN 2021 yang disampaikan Presiden Jokowi secara virtual, Jumat (14/8/2020). FOTO/IST
Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad saat mengikuti Pidato Kenegaraan Pengantar Nota Keuangan dan RUU APBN 2021 yang disampaikan Presiden Jokowi secara virtual, Jumat (14/8/2020). FOTO/IST

Kamrussamad: Sanggupkah Tim Ekonomi Merealisasikan Target Ekonomi 2021 ?

Kinerja semester pertama sepanjang tahun 2020 dibuktikan dengan rendahnya penyerapan anggaran, sentralisasi data penerima bansos yang belum ter-update, masih belum bergeraknya sektor riil, dan semakin rendahnya daya beli

BUKAMATA - Target pemerintah menggenjot pertumbuhan ekonomi dikisaran 4,5% - 5,5% tahun depan dinilai akan sulit diwujudkan.

“Pertanyaan yang muncul adalah mampukah tim ekonomi pemerintah mewujudkan hal tersebut dengan mengandalkan sektor konsumsi dan investasi sebagai lokomotif utama dalam mencapai target pertumbuhan tersebut,” ujar Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad di Jakarta dalam rilis yang diterima di Jakarta, Sabtu (15/8/2020).

Hingga semester pertama tahun ini, kata Foudner KAHMIPreneur itu belum ada tanda-tanda sektor rill bergerak. Maka seharusnya APBN 2021 tema yang tepat adalah penyelamatan ekonomi nasional.

“Kita tidak meragukan tim ekonomi pemerintah tetapi kenyataan kinerja semester pertama sepanjang tahun 2020 dibuktikan rendahnya penyerapan anggaran, sentralisasi data penerima bansos yang belum ter update, masih belum bergeraknya sektor riil, semakin rendahnya daya beli yang semua berujung pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan hingga terganggunya demand site dan supply site,” ucapnya.

Lebih jauh dikatakan,koordinasi antar kementerian/lembaga dan Pemda dinilainya belum satu langkah dalam mengimplementasikan kebijakan penanganan Covid-19 serta dampak yang ditimbulkan.

“Jika kita melihat berbagai pendapat pakar ekonomi yang mengatakan sebenarnya Indonesia sudah masuk resesi pada kuartal II-2020, karena pertumbuhan ekonomi sudah negatif selama dua kuartal berturut-turut, dihitung berdasarkan Quarter-on-Quarter-Seasonally Adjusted (QoQ-SA). Yaitu, kuartal saat ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, setelah dikoreksi faktor musiman,” urainya.

Dikatakannya, pertumbuhan kuartal I-2020 jika dibandingkan dengan kuartal IV-2019 menunjukan minus 0,7%. Sedangkan pertumbuhan kuartal II-2020 dibandingkan kuartal I-2020 mengalami minus 6,9%.

“Perhitungan untuk menentukan resesi seperti ini, QoQ-SA, berlaku universal secara internasional,” paparnya.

Kendati begitu menurutnya, pemerintah mengatakan Indonesia masih belum resesi. Karena pemerintah menggunakan definisi resesi sendiri, yaitu pertumbuhan kuartal saat ini dibandingkan kuartal sama tahun lalu.

Berdasarkan perhitungan ini maka pertumbuhan kuartal I-2020 terhadap kuartal IV-2019 positif 2,97%, dan pertumbuhan kuartal II-2020 terhadap kuartal II-2019 minus 5,32%. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan masih belum resesi karena baru satu kuartal negatif.

Dikatakan Kamrussamad, pemerintah sepertinya tidak ingin ada stigma Indonesia masuk resesi. Untuk itu, pemerintah berusaha meyakinkan publik kalau ekonomi pada kuartal III-2020 bisa lebih baik dari kuartal III-2019 (YoY). Pemerintah bahkan berharap pertumbuhan kuartal III-2020 bisa positif sehingga dapat terhindar dari kata resesi yang nampaknya menjadi momok.

#Kamrusamad

Berita Populer