BUKAMATA - Pakar epidemiologi Pandu Riono menyebut rapid test yang marak dilakukan pemerintah daerah di tengah wabah virus Corona (COVID-19), sebaiknya dihentikan.
"Menurut saya, harus segera. Kalau perlu, besok Senin rapid test di seluruh Indonesia itu dihentikan," kata Pandu.
Menurut dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), rapid test sangat tidak akurat. Menurutnya, hasil rapid test tidak bisa menjadi acuan.
"Adanya testing cepat antibodi, rapid test, ini sangat tidak akurat," imbuh Pandu dilansir Detikcom, Minggu (5/7/2020).
"Yang dites itu antibodi. Antibodi itu artinya respons tubuh terhadap adanya virus. Itu terbentuk seminggu atau beberapa hari setelah terinfeksi. Kalau tidak reaktif, bukan berarti tidak terinfeksi. Kalau reaktif, bukan berati bisa infeksius," tambahnya.
Dengan maraknya fenomena rapid test, terang Pandu, terjadilah komersialisasi. Salah satunya ketika rapid test menjadi syarat seseorang sebelum boleh menggunakan transportasi pesawat ataupun kereta api.
Padahal, menurutnya, rapid test belum dijamin akurasinya. "Itu useless sebenarnya," jelas Pandu.
"Karena kalau tidak, publik rugi, atau banyak uang negara yang seharusnya bisa meningkatkan kapasitas tim PCR, (malah) hanya untuk membeli (alat) rapid," tuturnya.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Personil Satlantas Polres Gowa Jalani Rapid Test, Ada yang Ditemukan Reaktif
-
Tekan Penyebaran Corona, Bosowa Peduli Gelar Rapid Test Gratis di Lakkang
-
Besok, Pemkab Sinjai Mulai Berlakukan Rapid Test Gratis
-
Pemkab Gowa Sediakan 1.700 Rapid Test Gratis Bagi Masyarakat
-
Kemenkes: Rapid Test Jangan Lewati Rp150 Ribu