Aswad Syam
Aswad Syam

Selasa, 30 Juni 2020 06:35

Anis Matta
Anis Matta

Anis Matta: Tiga Jebakan Negara Gagal Harus Dihindari Jokowi

Salah satu tanda negara gagal, ketika sudah kehilangan efektivitasnya. Dan Indonesia sudah mengalami salah satu ciri itu.

JAKARTA, BUKAMATA - Beredar video presiden Jokowi memarahi menteri-menterinya saat rapat kabinet tanggal 18 Juni 2020. Dalam video itu, presiden Jokowi menampakan gestur tubuh yang serius dan marah. "Tidak ada progres," kata Jokowi dengan nada ketus.

Respons publik menjadi pro kontra atas kejadian itu. Termasuk Fadli Zon, anggota DPR RI. "Jangan suka mengeluh di depan menteri, pidato itu bisa bermata dua, bisa menunjukan national leadership kita memang lemah," kata Fadli Zon dalam acara Zoominari politik bertajuk "Mengapa Negara Gagal" yang digelar oleh Narasi Institute bersama litbang Bukamatanews.id pada Senin, 29 Juni 2020.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Anis Matta, mewanti-wanti pemerintah, jika situasi nasional menunjukan sudah masuk tahap negara gagal. Itu jika mengacu pada tiga tanda yang disampaikan Anis, dimana tampak negara sudah kehilangan efektivitasnya.

"Kalau tidak ada progres berarti banyak instrumen yang tidak terdeliver dan itu menunjukan negara sudah kehilangan efektivitasnya," kata Anis.

Ini lanjut Anis, peringatan serius buat kinerja kabinet pemerintah dan Anis Matta. Bahkan mengingatkan agar kabinet ini harus dievaluasi secara jujur, apakah kabinet Jokowi saat ini kabinet pesta atau kabinet kerja. "Ini serius karena satu dari tiga tanda negara gagal, Indonesia sudah memasukinya," tegas Anis Matta.

Lanjut menurutnya, ada tiga jebakan yang pemerintah harus atasi jika Indonesia ingin terhindar dari negara gagal. Bahkan negara colaps yaitu pertama, jebakan kapasitas khususnya leadership nasional, kedua jebakan keamanan dimana terjadinya kontraksi antara kebebasan domokrasi versus pengendalian sosial (kontrol negara terhadap publik) dan ketiga jebakan legitimasi publik dan koalisi partai pemerintah yang sudah tampak mulai menyelamatkan diri masing-masing.

Secara indikator Ekonomi juga dibenarkan oleh Fadhil Hasan yang memberikan refkeksi pada acara Zoominari ini. "Secara ekonomi kita sudah resesi dimana pertumbuhan sudah minus kemudian angka pengangguran di kisaran 13 jut. Itu sudah lebih 10 persen," ungkap Fadhil Hasan.

Begitupun ulasan ekonom senior, Fuad Bawazir, bahwa sudah bukan rahasia lagi kalau APBN kita sudah sekarat. Roda pemerintahan tidak bisa berjalan kalau tidak ditopang oleh utang. Utang negara tahun depan sebut dia, akan melejit menjadi 40% PDB. Di lain pihak, tax ratio terus turun di bilangan 8%. Kekayaan BUMN sudah tidak bisa diharap dan tidak solvable lagi.

Ketika host Ahmad Nurhidayat menanyakan kepada narasumber terkait menteri mana yang layak di-reshuffle pada kabinet Jokowi, Anis Matta menilai bukan pada sektornya tetapi pada pendekatannya. Anis Matta memberikan masukan, yang bisa dilakukan pemerintahan Jokowi yaitu sebaiknya membuat tiga cluster dalam menghadapi krisis berlarut ini, yaitu pertama cluster ilmuwan atau para saintis terbaik bangsa agar pemerintah bisa memahami krisis pandemi ini secara mendalam dan tepat. Kedua cluster public service, khususnya sektor kesehatan, sektor sosial , sektor pendidikan dan ekonomi di dalamnya. Kemudian ketiga, adalah cluster geopolitik. Cluster ketiga ini menurut Anis Matta yang minim mendapat penanganan oleh pemerintah. Strategi geopolitik kita sebut dia, tampak tidak punya arah.

KEIN 2014-2019, Andri Sudibyo yang juga menjadi narasumber membenarkan hal ini, bahwa krisis ini sesungguhnya bukan semata krisis domestik nasional.

"Ini krisis panjang secara geopolitik yang belum bisa terbaca arahnya ke mana dan pemerintah seharusnya sudah punya rancangan strategis geopolitik ke depan," papar Andri Sudibyo.

#Anis Matta #Zoominari