Ibnu Kasir
Ibnu Kasir

Minggu, 28 Juni 2020 12:48

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Deretan Brand Dunia yang Setop Iklan di Facebook dan Instagram

Keputusan Unilever tidak lepas dari kekecewaan terhadap grup Facebook yang tidak serius mengatasi ujaran kebencian dan misinformasi di platform-nya.

BUKAMATA - Sejumlah brand dunia terpaksa berhenti beriklan di platform media sosial Facebook dan c.

Hal ini diawali dengan Unilever yang menyatakan berhenti beriklan di platform media sosial terbesar itu. Keputusan Unilever tidak lepas dari kekecewaan terhadap grup Facebook yang tidak serius mengatasi ujaran kebencian dan misinformasi di platform-nya.

Putusnya kerja sama iklan dari Unilever ini sangat berdampak karena mereka adalah salah satu perusahaan dengan belanja iklan terbesar dunia, yang juga masuk dalam daftar 30 perusahaan dengan iklan terbesar di Facebook.

Setidaknya ada total 90 brand yang melakukan gerakan ini. Selain Unilever, ada juga sederet brand ternama lain yang memutuskan untuk berhenti beriklan di platform Facebook.

  • Unilever
  • Coca-Cola
  • Verizon
  • Patagonia
  • REI
  • Lending Club
  • The North Face
  • Rakuten

Selain Unilever, ada beberapa perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang berhenti mengiklan di Facebook setidaknya sampai tahun 2020.

  • Procter & Gamble (P&G)
  • Dove
  • Ben & Jerry’s
  • Hellmann

Ada juga Levi's dan Dockers yang mengatakan mereka akan menghentikan semua iklan di Facebook dan Instagram setidaknya untuk Bulan Juli.

Beberapa hari lalu, perusahaan teknologi dan e-commerce Rakuten, pemilik aplikasi chatting Viber juga ikut melakukan langkah serupa. Lebih jauh lagi, Viber juga menghentikan dukungan pada Giphy yang baru saja dibeli Facebook.

“Facebook harus mengambil tindakan untuk menghentikan informasi yang salah (hoax) dan pernyataan-pernyataan kebencian di platform-nya. Ini adalah penghinaan yang tidak dapat diterima terhadap nilai-nilai kita. Kami dan Dockers bergabung dengan kampanye #stophateforprofit dan menjeda semua iklan di Facebook,” tulis Levi’s dalam sebuah pernyataan resmi.

Munculnya gelombang untuk melakukan pemberhentian iklan di media sosial milik Facebook menyusul surat terbuka organisasi nirlaba Liga Anti-Fitnah (Anti-Defamation League/ADL) pada 17 Juni 2020, yang meminta perusahaan-perusahaan besar berhenti berbisnis dengan Facebook karena media sosial itu telah jadi ladang kebencian dan hoaks.

Berbeda dengan Twitter, Facebook tidak melabeli konten ujaran kebencian dan hoaks yang ada di platform mereka. Hal tersebut kemudian mendorong para aktivis dan karyawan Facebook itu sendiri untuk mengkritik kebijakan perusahaan.

 

 

#Facebook #Instagram