Aswad Syam
Aswad Syam

Minggu, 24 Mei 2020 17:12

Ilustrasi sayur-mayur
Ilustrasi sayur-mayur

Ekonom Senior Ini Kaget, Impor Sayur Indonesia Capai Rp11,5 T

Impor Indonesia untuk bahan pangan masih terbilang tinggi. Salah satunya sayur mayur. Diimpor dari China.

JAKARTA, BUKAMATA - Ketahanan pangan di Indonesia masih tergolong rendah. Itu terlihat dari impor pangan yang masih tergolong tinggi.

Sayur saja nilai impornya mencapai USD770. Jika dikonversi ke rupiah, nilainya Rp11,5 triliun. Hal itu membuat ekonom senior Indonesia, Faisal Basri kaget.

"Impor sayur, saya kaget. Impor sayur itu sudah mencapai USD770 juta setahun pada 2019," ujar Faisal mengutip data dari Badan Pusat Statistik dalam diskusi daring, Jumat, 22 Mei 2020 lalu.

Sayuran impor tersebut kata pria yang bernama asli Faisal Batubara ini, paling banyak didatangkan dari China. Trennya terus menanjak.

Impor buah-buahan Indonesia juga tinggi. Data BPS menunjukkan, pada 2019, dalam setahun Indonesia bisa mendatangkan buah dengan total USD1,5 miliar atau senilai Rp22,5 triliun.

Komoditas pangan lainnya seperti gula, juga tinggi. Sejak 2016, Indonesia lanjut Faisal, sudah menduduki sebagai importir gula terbesar di dunia dengan nilai sebesar USD2,1 miliar per tahun. Tren kenaikan impor itu sudah terlihat sejak tahun 2010.

Kendati demikian, pada 2019 angka tersebut cenderung turun menjadi hanya USD1,4 miliar. "Karena harganya turun," kata Faisal. Selain itu, turunnya impor gula Tanah Air pada tahun lalu juga disebabkan oleh stok yang masih melimpah pada tahun lalu.

Komoditas lain yang impornya cenderung tinggi adalah daging. Faisal mengatakan impor daging setara lembu Indonesia mencapai USD830 juta pada 2019. Apabila dijumlahkan dengan binatang hidup lain yang dapat dimakan, impornya menjadi USD1,3 miliar.

Begitu pula komoditas biji gandum dan meslin, kedelai, tembakau, hingga garam, volume impornya juga mencuat. Sementara impor beras berhasil ditekan.

#Ekonomi Indonesia

Berita Populer