Redaksi
Redaksi

Jumat, 08 Mei 2020 10:17

Alfatah, ABK asal Enrekang yang disebut media Korsel sempat menjadi korban perbudakan di atas kapal Long Xin 629.
Alfatah, ABK asal Enrekang yang disebut media Korsel sempat menjadi korban perbudakan di atas kapal Long Xin 629.

Ternyata Pelaut Enrekang Ini Turut Merasakan Perbudakan di Atas Kapal China Sebelum Meninggal

Praktik perbudakan di atas kapal penangkap ikan China, dibeber MBC News. Media televisi Korea Selatan itu mendapat data dari 14 ABK WNI yang diturunkan kapal itu di Busan.

BUKAMATA - Alfatah (20), termasuk dalam salah satu daftar nama anak buah kapal (ABK) Long Xin 629 yang disebut oleh media televisi Korea Selatan, MBC News, meninggal di atas kapal dengan sakit yang misterius.

Almarhum mengeluh kakinya bengkak, mati rasa dan sulit bernapas. Jasadnya lalu dibuang ke laut pada Desember 2019.

Berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri RI yang beredar di medsos, Alfatah meninggal setelah sebelumnya mengalami sakit saat sedang melaut pada 18 Desember 2019.

Dalam surat itu disebutkan, sakit yang dialami Alfatah adalah kaki dan wajah bengkak, nyeri di dada dan napas pendek. Kapten kapal sempat memberikan obat kepada Alfatah, namun kondisinya tak kunjung membaik.

Pada 27 Desember 2019 pukul 13.30 waktu setempat, Alfatah dipindahkan ke Kapal Long Xing 802 yang akan berlabuh di Samoa, sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik, lalu dibawa ke rumah sakit.

Namun, anak ke-7 dari 9 bersaudara ini, meninggal delapan jam setelah dipindahkan ke kapal tersebut.

Dengan alasan daratan (negara Samoa) masih sangat jauh dan dikhawatirkan adanya penyakit menular yang bisa menjangkiti kru kapal lainnya, kapten kapal memutuskan membuang jenazah Alfatah ke laut tanpa sepengetahuan agen.

Dilansir dari Koran Seruya, 20 Januari 2020, kakak almarhum, Rasyid, dan keluarga Alfatah di Dusun Banca, Desa Bontongan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, menaruh harapan besar agar jenazah almarhum bisa ditemukan dan dibawa ke kampung halamannya.

ABK lainnya yang disebut MBC News meninggal di atas kapal itu, ada Ari (24) dan Sepri (24).

MBC News melakukan investigasi, dan menemukan ada praktik perbudakan terhadap ABK WNI di atas kapal. Itu berdasar rekaman dan bukti lainnya dari 14 ABK WNI yang selamat. Sebenarnya ada 15 ABK yang diturunkan di Busan, Korea Selatan. Namun satu ABK WNI lainnya diturunkan dalam keadaan sekarat dan meninggal di RS Busan.

Sementara 14 ABK WNI lainnya, hari ini telah menyelesaikan 14 hari karantina Covid-19 di Busan. Mereka telah menyerahkan data ke MBC News dan sudah disiarkan stasiun televisi itu.

Youtuber Korsel yang pernah lama di Indonesia, Jang Hansol menerjemahkan berita MBC News itu ke dalam bahasa Indonesia di akun Youtubenya.

Hansol menyebutkan MBC News mengulas adanya praktik perbudakan sebagaimana data yang diberikan oleh 14 ABK WNI. Mereka dipaksa bekerja 30 jam dan hanya istirahat 6 jam. Mereka juga diberi minun dari air laut yang disaring. Sementara air mineral hanya boleh dikonsumsi oleh ABK China. Saat gajian, mereka cuma diberi USD130 atau senilai Rp2 juta. Itupun selama 13 bulan.

Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi mengatakan, 14 ABK WNI, telah didampingi pengacara pro bono Korsel untuk mengadukan eksploitasi di kapal China itu ke aparat Korsel. Siang ini, KBRI Seoul, 14 ABK WNI itu, dan aparat penjaga pantai (coast guard) Korsel akan bertemu untuk membicarakan tindak lanjut dari aduan itu.

"Kami di KBRI Seoul tentu terus memberikan perhatian serius kepada masalah-masalah seperti ini," kata Umar.

ABK yang meninggal di RS Busan, kata Umar, juga akan dipulangkan secepatnya ke tanah air.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#China

Berita Populer