Redaksi
Redaksi

Selasa, 21 April 2020 08:42

Kritik Fahri Hamzah: Ada di Mana Negara Saat Krisis Covid-19?

Fahri Hamzah menegaskan, saatnya agama dimanfaatkan untuk membangun moral bangsa menghadapi Covid-19. Bukan sebaliknya, kaum agamawan mengembik kepada saintis, sehingga tempat-tempat ibadah ditutup.

BUKAMATA - Narasi Instute kembali menghadirkan serial diskusi online tentang Covid-19. Kali ini host, Achmad Nur Hidayat menghadirkan mantan anggota DPR RI yang vokal, Fahri Hamzah.

Pada kesempatan ini, Fahri Hamzah mengaku, dirinya jarang sekali bicara tentang virus corona selama ini. Dia agak khawatir, akan menimbulkan kekhawatiran. Makanya, mantan pimpinan DPR RI ini lebih banyak memposting tentang olahraga, semata-mata agar membuat suasana lebih informal.

Dalam diskusi itu, Fahri mulai bicara covid-19, karena menurutnya, dia sudah harus bicara juga. Karena keadaan ini kata dia, tidak bisa disamakan dengan keadaan kapanpun dalam sejarah umat manusia.

"Ini adalah situasi yang lebih parah. Sebenarnya bukan karena virusnya itu sendiri. Karena virus itu dalam sejarah umat manusia adalah makhluk lama yang pernah ada. Sebelum masehi pun makhluk ini sudah ada," jelasnya.

Karena virus kata dia, tidak tampak dan dia terus berjalan, sejalan dengan kehidupan umat manusia. Maka dia terus ada dan punya efek berbeda-beda. Dan sekarang ini tidak lebih dari efek virus-virus lain yang pernah ada. Sekarang ini lanjut dia, para ilmuwan sendiri lagi bingung. Karena secara patogenesis, pertumbuhan dari pada virus ini terus berkembang. Dan belum ada yang final, apakah dia bisa terbang, apa hanya pakai droplet, masa inkubasinya berapa lama. Karena ada orang dinyatakan positif lalu negatif lagi, ada orang dinyatakan negatif lalu tiba-tiba meninggal dan seterusnya.

Pertama kata Fahri, virus ini dianggap lebih berbahaya dibanding yang sudah ada. Yang kedua, efeknya bagi kejiwaan manusia. Virus ini memang hidup di zaman sosial media. "Inilah mungkin satu-satunya virus yang hidup di masa sosial media dan kebebasan manusia itu memberikan akses seluas-luasnya kepada setiap orang untuk mendiskusikan keadaan tubuhnya di ruang publik, kesehatannya di ruang publik. Situasi saudaranya, orang tuanya itu di ruang publik. Sehingga menciptakan efek yang massif sekali pada kejiwaan manusia," paparnya.

"Pertama-tama, krisis itu bukan pada virusnya sendiri, tapi yang paling penting, efeknya pada kejiwaan. Makanya kemudian ada tesis yang mengatakan, orang yang meninggal karena virus ini adalah sudah agak tua, daya tahan tubuh melemah. Dan salah satu efek yang ditimbulkan virus ini, di mana dia diekspos secara luar biasa sekarang ini, bahwa dia menimbulkan efek kejiwaan terhadap seseorang sehingga membuat daya tahan orang terhadap virus ini melemah. Ini pertama dulu," tambahnya.

Itu sebabnya kata Fahri, angka-angka yang diumumkan setiap hari tanpa penjelasan. China kemarin merevisi angkanya, ditambah 50 persen. Amerika Serikat mencekam terus menerus, karena ditambah akselerasi orang yang meninggal dan infected-nya di luar dari bagian 2 juta yang terkena infeksi, Amerika itu yang paling besar. "Kita sendiri itu Indonesia juga demikian. Karena ada pengabaian situasi. Kalau saya baca statistiknya, yang sembuh 50 persen, yang meninggal 50 persen. Jadi kalau ada 100 orang yang sakit berhubungan dengan virus ini, yang sembuh 50 persen yang meninggal 50 persen. Jadi jangan diambil 8 persen yang infected tapi ini yang kemudian masuk ke rumah sakit, lalu kemudian diinyatakan positif, yang sembuh 50 persen yang meninggal 50 persen. Nah ini geger pertama," tegasnya.

Karena itu lanjut Fahri, dia mengusulkan struktur untuk melihat persoalannya kemudian dikembangkan. "Ini yang terus terang belum dibicarakan, karena saya khawatir banyak persoalan di sini. Pertama-tama, karena masalahnya besar, maka modal kita menghadapi persoalan itu juga harus besar. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia harus melihat dirinya secara keseluruhan. Seluruh sumber daya yang dia punya dan seluruh kekuatan yang dia punya, yang ada dalam tubuh bangsanya sebagai software dan hardware dari bangsa itu sendiri," ungkapnya.

Fahri bilang, tidak ada sistematika untuk berpikir menggunakan modal-modal besar yang kita miliki sebagai bangsa. "Misalnya saya ingin mengatakan, di ruang negara saja dulu. Di ruang negara ada yang bernama Pancasila. Tidak ada sekarang ini, pejabat juga tokoh, juga pemimpin yang mengatakan kepada kita dalam krisis seperti ini, pancasila itu ada gunanya. Dan pancasila itu relevan untuk menjadi bagian dari pada caring the nation, untuk mengobati bangsa ini yang sedang dalam keadaan shock yang luar biasa sekarang ini. Tidak ada itu. Di dalam pancasila itu nanti saya akan mengatakan hilangnya agama. Karena kaum agamawan itu tiba-tiba ikut saja dan mohon maaf, ikut-ikutan dengan khotbah saintis tanpa solusi alternatif. Dan maaf saja kaum agamawan itu mau saja jadi korban dari khotbah kaum saintis itu, tanpa ada membuat semacam refleksi balik. Kenapa sekarang setelah kalian jadi korban, tempat ibadahnya ditutup, ritus-ritus yang pernah ada dihentikan, kenapa kalian tidak introspeksi, kenapa kalian tidak melihat agama saat kalian merusak lingkungan, waktu kaum kapitalis merusak sumber daya manusia terhadap lingkungan, penghancuran hutan, pencemaran sungai dan sebagainya. Tidak ada yang berbicara tentang ini. Padahal kalau masalah ini berat, maka introspeksinya juga harus besar," bebernya.

Karena situasi ini adalah krisis, maka Fahri bilang, cara melihatnya juga harus luas. Kalau kita terjebak teknis, maka itu akan terjadi seperti di Amerika. Akhirnya mereka berdebat lagi tentang presidensial, karena Donald Trump mem-bypass kongres, kemudian Donald Trump ingin mendikte para gubernur yang dalam sistem federasi, gubernur adalah kepemimpinan negara bagian yang tidak gampang dimobilisasi, diperintah-perintah. Dalam sistem federasi, Presiden Federal bukan segala-galanya. Dia harus bernegosiasi dengan negara bagian. Dengan gubernur negara bagian. Berbeda perspektifnya dengan Indonesia, meski kita punya otonomi.

"Jadi saya terus terang, di bagian pertama ingin mengajak melihat dalam perspektif yang besar. Kalau melihatnya dalam ilmu kecil, ilmu teknik ini, banyak yang keliru," jelasnya.

Fahri melanjutkan, setelah kita ngomong strukturalitas pancasila, kita ngomong konstitusi. "Mohon maaf, konstitusi saja banyak yang tidak paham. Saya mau kritik orang yang di sekitar presiden. Rasanya orang-orang di sekitar presiden banyak yang tidak baca konstitusi. Dak usah baca pancasila deh. Karena sudah ada BPIP, yang kita lihat BPIP juga tidak terlalu bermanfaat. Kemarin waktu lawan teroris galak amat, tapi sekarang corona, BPIP tidak ada suaranya. Memangnya pancasila tidak bisa dipakai untuk melawan corona, bisa dong kalau kita mengerti bahwa pancasila itu adalah kekuatan yang ada dalam tubuh bangsa Indonesia. Kalau tidak, konstitusi, UUD juga tidak mengerti. Dalam situasi begini, presiden ditampilkan memimpin rapat kabinet. Ngapain presiden rapat kabinet. Gak ada itu rapat kabinet. Presiden dalam presidensialisme itu gak perlu rapat. Berbeda dengan DPR. Dia itu dipilih rakyat, punya konstituen sendiri, sehingga dia harus rapat. Kalau presiden yang dipilih cuma dia sendiri, ngapain dia rapat. Mau rapat dengan siapa? Mau ngambil keputusan dengan siapa? Dia sendiri bisa ngambil keputusan. Bahkan wakil presiden di dalam presidensialisme adalah embel-embel. Kalau wakil presiden itu mau dijadikan patung jadi patung dia. Kalau mau difungsikan ya difungsikan. Yang fungsikan siapa, ya presiden. Ini mondar-mandir presiden rapat kabinet, ngapain. Panggil menteri suruh kerja, panggil ini suruh kerja. Begitu caranya, supaya kelihatan begini cara kerjanya supaya lebih efektif. Jadi saya khawatir dalam proses awal ini, kita tidak mampu mengidentifikasi seberapa besar persoalan itu, kapan ini berakhir, kaum ilmuwannya berdebat yang sehat meninggal yang sakit tidak meninggal, dan seterusnya," ujarnya lantang.

Yang kedua kata Fahri, kita tidak tahu seberapa besar modal yang kita perlukan. Kalau ini semua kita bicarakan dengan duduk bersama, kita akan mampu mengatasi persoalan ini. Paling tidak, negara harusnya mulai memfungsikan agama. Ketika sains tidak bisa memberikan penjelasan, maka iman yang datang. "Kenapa iman tidak dipakai dalam kondisi sekarang, ini jadi beban yang semakin berat. Saya punya tesis, penutup. Saya tidak menganggap masalah ini akan cepat. Orang tidak bisa mendefinisikan Covid-19 ini secara baik, siapa dia, bagaimana efeknya terhadap orang, bagaimana dia ditransmisikan, dan apa efek dia kepada tubuh dan sebagainya. Tadinya dikatakan flu, batuk kering, sakit tenggorokan dsb, tapi sekarang ada yang hilang ingatan, ada yang hilang penciuman, macam-macam efek virus ini terhadap tubuh kita. Karena itu, ingin akan panjang. Ini akan berlanjut, kalau kita tidak mengambil langkah-langkah ekstraordinari, ini bukan resesi karena resesi panahnya ke bawah, kalau ini akan ambruk. Kalau ini ambruk bagaimana kita mengatasinya, pasti memerlukan lagi-lagi tenaga besar. Saya tidak mau debat teknis dulu. Debat teknis itu gampang, sudah terbiasa kita lakukan itu. Yang mendasar dulu, mampukah kita mengambil langkah tegas dalam mengatasi persoalan bangsa ini, dan lalu gimana kita bagi tugas? Kalau kita sudah tahu tantangannya bagaimana dan modalnya berapa, baru kita bagi tugas. Itulah gambaran. Kalau presidensialisme kita udah lengkap, kalau menurut saya itu tidak perlu perpu. Gak perlu macam-macam, undang-undangnya sudah ada, strukturnya sudah ada, itu tinggal kita delegasikan. Tadi pagi saya dengar wawancara seorang menteri, dia bercerita tentang bagaimana dia akan menggunakan kartu ini untuk mengatasi pengangguran. Kok hari ini bicara pengangguran? loh pekerjaannya gak ada, gimana mau bicara pengangguran. Kemudian dia mau gunakan lembaga-lembaga ini yang kemudian disuntik uang untuk ngajar-ngajarin orang. Hari gini ngajarin orang secara virtual. Ini ada jutaan konten. Mau bikin apa aja ada di youtube. Mau bikin bubur, mau bikin kosmetik, mau bikin jamu mau bikin bom juga ada di situ. Ngapain dia mau mengaktifkan sosial media dan menghabiskan uang. Pertama-pertama pekerjaannya di mana. Dia bilang di situ akan merekrut orang, mendaftar lewat email, hari gini orang disuruh mendaftar pakai email. Orang di kampung-kampung itu mana ada yang pakai email, nah persoalan itu ada di kampung-kampung," lanjutnya.

Padahal kata Fahri, kita punya yang namanya desa, ada 7050 desa. Kita punya UU Nomor 6 tahun 2014 tentang desa. Dan kita bisa menggunakan desa dengan apa yang dipunyai sekarang untuk bangkit. Tapi karena ini besar persoalan terus besar modal kita tidak diketahui akhirnya itulah yang terjadi sekarang ini. Ada kegamangan. Makanya juru bicaranya banyak. Yang ini gak mantap cabut, yang ini gak mantap cabut. Jadi ini yang bikin kegelisahan.

"Sebenarnya saya kasihan kepada pak Jokowi. Orang ini kan sebenarnya dak bisa dimusuhi secara politik karena dia tak akan bertanding lagi. Harusnya orang-orang di sekitar pak Jokowi itu sekarang ada persatuan. Sayangnya roh persatuan itu tidak ada. Ini karena payungnya kurang besar, sehingga orang yang bisa berteduh di bawahnya juga kurang besar," terangnya.

"Saya mengerti kalau orang itu ingin bekerja teknis, semua orang ingin seperti demikian. Yang ingin didrive lebih awal karena orang ingin berpikir teknis. Orang harus mengerti seberapa besar persoalan dan seberapa modal yang dimilik untuk menghadapinya," tambahnya.

Menurut Fahri, kalau kita tahu persoalannya, maka seberapa pun besarnya persoalan kalau kita punya modal maka persoalan itu akan mengecil. Masalahnya kita tidak tahu modal kita apa? "Itulah sebabnya saya terus terang, misalnya sense of crisis, itukan modal jiwa. Kalau kita tidak tahu cara meletakkan diri kita terhadap persoalan ini, biasanya kita tidak punya sensitivitas, kita tidak punya sense of crisis, kemudian bagaimana enter dalam persoalan ini juga tidak sama. Dalam presidensialisme itu, yang harus aktif memimpin kan presiden. Kalau kita menyebut itu dulu ada penyebutan kabinet namanya war cabinet, kabinet perang. Korban covid ini kan lebih dari perang sebenarnya. Karena yang terkena itu adalah negara di dunia, maka ini perang total ini. Perang semesta. Karena dia adalah perang semesta, kita tidak bisa recovery sendiri. Biar kita bolak balik bagaimana kalau permintaan dari China secara tradisional merupakan tujuan ekspor kita, dia mati kita juga mati. Jadi ceritanya kita tidak bisa hebat sendiri. Karena ini perang semesta, tidak hanya jiwa di dalamnya maka pemimpinnya itu harus diambil. Kabinetnya ini harusnya lebih dari kabinet perang," tambahnya.

Donald Trump itu kata Fahri beberapa tahun tidak pernah bicara kepada media. Dia hanya ngetweet. Katanya kalau lagi jalan perutnya itu, dia masuk ke toilet di situlah dia ngetweet. Itulah yang ditonton oleh banyak kepala negara di dunia. Tapi sekarang sehari bisa dua kali konferensi pers. Dia kemudian mengajak saintis di belakangnya lalu orang-orang ini bicara tentang sains dan bicara kita sudah mengambil keputusan ini, kita sudah memproduksi ini, kita sudah setop tidak boleh ini. Sehingga sehari itu, rakyatnya menonton apa yang telah dilakukan negara dalam skala persoalan seperti ini.

"Saya itu tadi tidak bicara hanya negara, bagaimana agama juga diajak, pancasila juga diajak dan dipakai dalam situasi sekarang. Sebab yang diattack oleh covid ini, bukan konstitusi tapi diattack adalah pribadi. Negara itu punya kelemahan dalam menjamah pribadi. Tapi agama, imam itu punya mekanisme untuk menjamah pribadi orang. Lah wakil presidennya kan kiai. Kalau dia difungsikan untuk perang itu, maka dia akan mumpuni. Tapi karena tidak mengidentifikasi persoalannya sebesar apa sehingga dia tidak mampu melakukannya," jelasnya.

"Karena itu kemudian kalau kita mau bicara tentang presidensialisme, saya mengulangi lagi cara kita mengatasi persoalan ini secara konstitusi presiden duduk. Kalau presiden duduk mengambil keputusan bukan rapat kemudian dia memobilisir segala upaya di setiap sektor, maka saya menganggap ini waktu untuk mengoreksi apa yang terjadi pada masa lalu, ketergantungan impor. Mereset kembali ekonomi kita," bebernya.

Kesimpulan ekonom dunia itu lanjut dia, dia bilang ini adalah control all deal. Kita ini mulai dari nol semua. Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana ke depan. China sudah mengatakan dirinya membuka kembali, sekarang itu terjadi infeksi 50 persen dan mulai tutup lagi. Sehingga sudah tidak ada negara sukses. Negara geger kembali, karena jenisnya ditemukan kembali, virus ini mengalami mutasi dan perkembangan baru. Dokter Fo Chi itu diwawancarai Sajay Gupta dua hari yang lalu, mengatakan kita masih dalam misteri setelah ada Dj kondang di Florida yang sehat meninggal dunia. Dia bilang ini menjadi misteri. Kita tidak tahu apa yang terjadi.

"Kita harus miliki jiwa yang besar, dan leadership, kapabilitas kepemimpinan sebesar apa yang kita rancang, mesti kita pasangkan. Saya terus terang, kalau presidensialisme dimengerti secara baik. Ada gubernur, bupati ada kepala desa. Gubernur itu 34. Kapasitas zoom gratis ini, tadi 100. Kapasitas zoom ini bisa sampai 500 bahkan sampai 1000. Kepala daerah ini tingkat dua, bupati itu 514, kalau tambah kabinet gubernur itu mungkin sampai 600. Tiap malam kalau duduk begini dan disiarkan ke publik, mungkin tidak masalah. Karena ini tentang cara kita mengambil persoalan. Lalu bupati dan camat berkoordinasi dengan kepala desanya, dengan menggunakan UU desa, salurkan dana desa yang lebih besar. Presiden bisa membuat perpu untuk memberikan kewenangan kepada kepala desa dengan mengkoordinir RT/RW. Apa yang tidak bisa kita bicarakan kalau desa kita berikan otonomi, kita bisa menghandel ini dengan cara yang lebih teratur, dengan komando dari pemerintah pusat. Karena dalam krisis itu, pemimpin tertinggi diperlukan manifestasinya secara kongkret. Meskipun kita punya champion-champion jago-jago di 7050 desa. Saya kira teman-teman cara berpikirnya seperti itu. Energinya harus ada. Kalau tidak ada, saya khawatir ini. Masa Erick Thohir bilang kami kecewa ada mafia obat, mafia alat kesehatan. Hari gini, ini bukan soal manajemen. Soal mafia orang main orang curang dalam krisis, ini bukan manajemen, ini kehilangan jiwa. Yang diperlukan sekarang moralitas sehingga orang mau ikut kepada musim yang diciptakan. Kemana angin bertiup. Itu yang diperlukan sekarang. Kalau mau diselesaikan seara manajemen dengan sains dan sebagainya, omong kosong itu gak bisa. Kita harus mereset kepemimpinannya. Maksud saya, reset memberikan tenaga jiwa, memberikan moral kepada kepemimpinan. Itu sebenarnya tidak terlalu sulit, karena pembagian tugasnya sudah ada. Presiden saja dalam presidensialisme tidak nampak memimpin selama ini dan ini semua jalan. Tapi jangan lupa, ini situasinya berbeda. Karena itu, kepemimpinan moral jauh diperlukan sekarang. Orang berbicara dari hati ke hati. Orang yang bisa memberikan perasaan kepada rakyat bahwa kita akan kuat menghadapi ini," paparnya.

"Jangan takut, jangan lemah. Ini saatnya bangkit dan menemukan inovasi baru. Akan ada sesuatu yang besar bagi bangsa ini untuk tidak keluar dari krisis tapi akan bermanfaat bagi kemanusiaan, melaksanakan kemanusiaan yang adil dan beradab. Begitu situasinya. Jangan lalu turun ke soal-soal teknis. Soal-soal teknis gampang. Sudah ada bea cukainya, sudah ada kepala dinas ini itu dan sebagainya. Yang diperlukan adalah legitimasi dan kekuatan yang datang dari dalam," tegasnya.

Menurut Faahri, inilah yang dia maksud, fungsikanlah modal-modal sejarah yang dimiliki oleh bangsa kita, yang tidak pernah difungsikan. Karena kita pakai pancasila untuk menghajar kelompok, akhirnya kita tidak bisa memakai pancasila untuk memperbaiki ketika menghadapi corona ini.

"Saya terus terang, saya tidak tahu apakah pak Ma'ruf itu bisa dikeluarkan dari perasaan bersalah. Yang politik, lalu keluar menjadi simbol kemanusiaan. Tapi sekarang ini, kalau orang masih berbicara politik dan hal-hal teknis, gone kita tidak bisa apa-apa. Sudahlah, kita akan terima situasi ini hingga akhir. Tapi kalau kita bangun kesadaran baru, kita reset ini, kita anggap ini new normal. Kita galang komponen bangsa, ada cara-caranya. Cara manusia ini hidup sudah dalam dirinya. Yang penting obornya, nyala apinya. Saya lebih cenderung melihat itu, supaya tidak sama dengan Donal Trump atau Xi Jin Ping, atau negara-negara yang tipu-tipu, tutup sana tutup sini agar dinilai sukses. Ngapain kita ikut mereka. Indonesia lebih besar dari mereka, kalau ikut mereka kita akan kecewa sendiri," tuturnya.

Sebenarnya kata Fahri, dua-duanya ini kena kritik. Negara awalnya meremehkan sains. "Kita ini lemah di kedua-duanya. Kita ini lemah di sains, lemah juga di agamanya. Sains tidak kuat agamanya juga tidak kuat. Nah di awal ini kan meremehkan sains, menterinya juga menganggap remeh dst," terangnya.

Kaum agamawan itu lanjut Fahri, betul-betul lumpuh. Semua mengaminkan apa yang dikatakan oleh negara dan oleh saintis. Tanpa bisa memberikan perspektif bahwa ini terjadi, karena ada yang kita lupakan. Makanya kita harus merestore kembali cara kita berpikir di dalam negara, dan cara kita berpikir di dalam kehidupan berbangsa dengan meletakkan pancasila tadi, termasuk agama tadi. Nah sains naratifnya itu terkepung.

"Saya juga memandang ada ambiguitas, seharusnya mereka muncul. Kalau kita mau mengambil teknis. Politisi ini akan gagal. Saya dengar yang terlibat impor-impor itu adalah politisinya juga. Ini artinya kejatuhan moral politisi dan orang-orang dalam negara. Pertanyaannya, kenapa orang-orang dalam narasi agama tidak muncul. Itulah tadi saya challenge sebenarnya karena kepemimpinan moral akan kita perlukan di masa depan," terangnya.

Fahri berbicara tiga hal. Pertama gambar besarnya. Virus itu tidak pernah mati. Mengalami mutasi dari waktu ke waktu. Kalau ada virus pernah hilang, itu ratusan tahun. "Ahli virologi itu tahulah sejarah-sejarahnya. Misalnya pernah ada virus stain, swain, avian, itu adalah pertumbuhan-pertumbuhan. Dia tidak mati tapi bermutasi. Alat kita untuk mengendalikan ini, hanya dua. Satu vaksin, yang satu obat. Obat pun tidak bisa menyembuhkan. Dia hanya bisa meredakan atau mengendalikan. Oleh sebab itu, diskursus tentang virus ini tidak akan selesai. Kalau ada yang bilang dua atau tiga bulan lagi, mustahil itu. Tidak akan selesai. Bagaimana menghentikannya. Virus ini tidak ketahuan. Yang terbaru orang yang tidak ada gejalanya sama sekali. Ada orang yang tidak ada gejala bisa menjadi carier. Ini tidak akan selesai cepat. Saya lebih cenderung pada new normal itu yang juga kemarin dikatakan Donald Trump. Di luar itu, sebagai bangsa kita perlu punya pikiran-pikiran besar. Jangan menjebak diri dalam pikiran teknis. Pikiran teknis itu efek dari pikiran besar. kalau pikiran besar salah, pikiran teknis juga salah," ujarnya.

Fahri mengajak kenapa Indonesia tidak bicara vaksin. "Kenapa saya melambungkan hastag bebaskan Siti Fadilah, karena saya mau ajak kita berpikir besar. Indonesia ini adalah orang Zaman Hindia Belanda, Frederick Heijman menemukan vitamin B untuk beri-beri. Penelitiannya di sini. Dan dia mendapatkan nobel. Kita dulu punya lembaga pasteur yang sekarang jadi biofarma. Itu juga adalah lembaga riset kelas dunia yang bisa membaca ini apa sebenarnya sehingga kita punya gambaran yang akurat. Di luar ini sebagaimana kritik dari masa-masa lalu dan itu yang saya tahu dari Siti Fadilah dari buku yang saya baca, itu adalah ulah negara-negara kuat menggunakan WHO, untuk merampas semua properti vaksin dari negara-negara miskin negara-negara berkembang. Kalau ada virus seperti ini, merekalah yang menjadi kaya. Saya tadi pagi mengikuti hastag baru di twitter itu tentang keterlibatan DG, karena bisnis komputernya dak berkembang maka dia menggunakan perusahaan komputernya untuk memvaksin jutaan orang di dunia. Dan ibu Fadilah dalam bukunya menulis tentang peran DG dan CBC dari awal dalam rangka mengambil chip dan menjualnya. Dalam buku Siti Fadilah juga diceritakan bagaimana kita OBP untuk vaksin polio dirampas. Karena mereka bilang orang Indonesia belum bisa bersih, belum bisa bikin vaksin dan sebagainya," tuturnya.

Jadi ini kata dia, adalah gambar-gambar besar yang harus kita baca secara global, dalam pertarungan dengan China dan sebagainya dan kita menjadi di tengah. "Sekarang, kebetulan ini virus paling demokratis. Perdana Menteri Inggris kena, menteri kena, semua orang takut. Rakyat bawah takut, rakyat atas takut. Nah, ini gambar besar yang seharusnya kita punya, supaya kita punya sikap yang benar dalam membela bangsa kita. Nah di sinilah pentingnya Pak Jokowi sebagai pemimpin tertinggi, dia tidak saja kepala pemerintahan, tapi juga kepala negara. Dia harus meng-quip dirinya sebagai kepala negara yang hebat. Presiden Jokowi pernah bikin Revolusi Mental. Ini kan revolusi mental. Pak Jokowi kan sudah bicara revolusi mental beberapa tahun lalu. Sekarang waktunya itu diperkuat. Ulama misalnya, harusnya memperkuat wudu. Karena wudu itu cara membersihkan diri pada tempat-tempat tersembunyi, batang hidung dan sebagainya. Ini diantara konten-konten dalam revolusi sosial dalam new normal ini untuk menemukan model baru bagi bangsa Indonesia ini, supaya kita bangkit dalam situasi dunia terpuruk. Kita harus optimis, memberikan keyakinan, kemantapan hati, kita tolak rasa takut, kita lawan rasa tak berdaya. Ini waktunya. Dan kalau kita sebut revolusi mental dalam strategi kebudayaan baru, inilah waktunya," paparnya.

Fahri tidak ingin negara ini kacau. Dia juga tidak ingin pemimpin tidak berdaulat. "Apalagi pak Jokowi tidak tanding lagi, ngapain dia bertengkar dengan kelompok tertentu. Ini waktunya dia untuk melakukan kepempimpinan moral. Untuk memimpin dan mewariskan sesuatu yang baru, yang baik, kalau dia mampu, kalau dia mau. Kalau tidak mau sayang sekali. Makanya saya tanya juga apakah Pak Ma'ruf bisa difungsikan. Kalau dia mau. Atau kalau dia tahu. Tapi kita tidak mau hilang itu. Sementara itu, ada lembaga yang tidak mau profesional. Dalam taraf intervensionalisme dari pemerintah, termasuk juga dari DPR. Dalam cara mereka memaksa ketua-ketua partai agar menyetujui omnibus law. Bayangkan presiden dibolehkan mengeluarkan Perpu yang mentorpedo intervensi BI. Bayangkan. Bahkan dalam perpu presiden akan mentorpedo kewenangan DPR. Jelas ini tidak konstitusional. Jelas ini tidak mungkin. Tapi karena orang-orang di sekitarnya tidak ngerti, makanya ini yang dilakukan. Di DPR mau pakai mekanisme politik, yang penting orang itu setuju saja apa yang dilakukan presiden. Presiden juga nanti bisa jadi korban, makanya dia harus memiliki proteksi. Dia harus punya kekuatan moral untuk mengumpulkan komponen bangsa. Kalau struktur pemerintahan sudah jalan, kepemimpinan yang real itu kepala desa karena dia tak berjarak dengan rakyat. Kalau jarak pak Jokowi dengan rakyat kan jauh. Karena dia tidak mungkin salaman dengan semua orang. Tapi kepala desa, RT/RW dia bisa tahu dalam rumah itu, siapa yang bersin di dalam rumah itu, siapa yang batuk dalam rumah itu, dia bisa tahu. Ini adalah modal kita yang sudah kita punya. Ngapain bikin online baru, merekrut orang baru," terangnya.

Ini lanjut Fahri. waktu kita mendata penduduk. Program e-KTP tidak dilanjutkan. Nanti pada pilkada, ada orang bertengkar karena masalah DPT. Karena single identity numbernya tidak selesai. "Selesaikan sekarang dong mumpung kita memerlukan pendataan. Sehingga nanti kalau penduduk kita terdigitalisasi dengan baik, maka dia akan nanti bisa melaporkan dirinya apabila sakit. Apabila ODP, apabila dia miskin apabila dia mati kelaparan. Ini waktunya. Saya khawatir ini ditunda lagi, karena ada yang mau curang dalam pemilihan yang akan datang. Nah, itu yang repot kalau itu terjadi," bebernya.

Terakhir kata Fahri, tentang agama itu adalah tidak bisa karena negara kita sudah menyebutkan pancasila sebagai dasar dan sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Maka agama adalah potensi terbesar yang kita punya. Peran agama ini akan sangat besar. Kesadaran dasar dari bangsa adalah kesadaran agama. Agama menyentuh pribadi lebih personal. Agama yang bisa bikin orang mantap. Agama yang menghilangkan rasa takut. Kematian misalnya sesuatu yang nyata. Covid bikin mati, kenapa orang takut padahal kematian nyata. Agama ini bisa menyuntikkan kekuatan, optimisme sehingga bisa kuat dan menemukan kehidupan baru, new normal. Dengan satu inovasi baru, bangsa lebih kuat, ekonomi lebih mantap, saintis yang lebih hebat. "Tapi selama ini tidak dipakai. Hanya dipakai untuk disuruh-suruh. Tutup masjid, tutup gereja. Gak ada tarawih. Itu terus omongannya. Mana itu agama sebagai jiwa. Agama yang bikin kuat. Di berbagai ceramah, ulama juga mengajari untuk cuci tangan. Padahal seharusnya dia mengajarkan filsafat berwudu. Kalau berwudu, anda itu jadi imun. Karena itu Anda menghancurkan kuman-kuman, lalu Anda pergi masjid. Kalau orang pergi mal diperiksa suhu tubuhnya, kenapa masuk masjid tidak diperiksa suhunya. Kesadaran di sekitar masjid atau sekitar rumah ibadah, siapa yang sakit, siapa yang nganggur, siapa yang jatuh miskin, sistem sosial kita ada di sekitar agama ini. Tapi itu tidak difungsikan. Tidak ada tarawih. Saudi bilang tidak ada umrah. Padahal agama bisa digunakan untuk mengkritik cara kita merusak lingkungan, merusak hutan, mencemari sungai, mengeksploitasi pantai, dan juga mengeksploitasi manusia dalam kapitalisme. Agama ini bisa digunakan untuk mengitrospeksi kenapa bisa terjadi seperti ini. Mungkin di antara yang harus dikoreksi kehidupan manusia terlalu nyaman. Coba lihat kapal pesiar, kalau dari segi ekonomi itu bisnis. Tapi coba kita lihat secara sosial, orang naik kapal keliling-keliling laut itu gunanya apa? Bagi kemanusiaan. Itu ruang agama untuk memberikan ijtihad untuk kehidupan manusia," terangnya.

"Dalam gelap inilah kita bangkit menyalakan lilin. Bukan tiap hari kita cuma menghitung berapa nyawa yang mati dan sebentar lagi kita akan mati juga. Dalam situasi inilah kita harus melakukan kontra indikatif, bahwa sehabis kesusahan, akan muncul kemudahan. Inna maal usri yusraa," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Achmad Nur Hidayat #Diskusi online