Redaksi
Redaksi

Jumat, 17 April 2020 19:36

Corona Banyak Menyerang Kalangan Atas dan Vaksin BCG Kebal dari Covid-19? Ini Faktanya

Beberapa data menunjukkan bahwa Covid-19 banyak menyerang kalangan atas. Covid-19 juga relatif kurang menjangkiti negara yang universal menerapkan vaksin BCG. Namun data itu kata Mat Noer masih bias. Masih perlu diuji.

BUKAMATA - Pengamat kebijakan publik juga founder Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat, membuat update informasi virus corona. Update tersebut mengambil dari berbagai literatur dan referensi.

Virus corona kata pria yang akrab disapa Mat Noer ini, tidak mengenal status sosial, baik kalangan atas atau kelompok bawah. Semua akan kena. Tetapi, baru-baru ini ada penelitian terbaru, bahwa virus corona hanya akan mengenai orang kalangan atas saja.

Dia memaparkan data korban corona berdasarkan status sosial yang dilansir Berita Satu. Di situ disebutkan, kelas atas; yang positif corona mencapai 1.292.025, meninggal 82.903, kelas menengah atas; 269.284 positif, 11.211 meninggal dunia. Kelas menengah bawah, 30.672 positif, 1.230 meninggal. Kelas bawah, 2.452 positif, 93 meninggal dunia.

Apa benar virus corona terdampak kelompok atas, sementara yang menengah ke bawah jadi kebal? Mat Nur juga menunjukkan data Hunger Map per 17 April 2020. Data itu menunjukkan, high income and upper middle income mendominasi positif covid-19. Dan kematian juga seperti itu, sudah mendominasi.

"Indonesia kalau kita lihat grafiknya, Indonesia di level hijau dan kekuning-kuningan. Berrti masuk kategori insufficient food take. Data ini sangat menarik," jelasnya.

Kenapa kelompok menengah atas saja yang diserang Covid-19? Data-data ini kata Mat Nur, dari pemerintah, dan seringkali data-data pemerintah, tidak hanya di Indonesia tapi seluruh dunia, seringkali missleading atau bias.

"Kenapa? karena kemampuan negara tersebut melakukan rapid test. Dalam konteks Indonesia, di sini kita melihat rapid test itu hanya dilakukan kepada pasien yang statusnya adalah PDP. Sementara masyarakat lain atau ODP tidak mendapatkan tes memadai, seperti misalnya PCR test. Nah ini teman-teman sekalian, dapat menimbulkan bias. Dan kalau kita lihat, masyarakat Indonesia yang memeriksakan dirinya ke rumah sakit, rata-rata adalah kelompok atas, karena mereka memiliki tingkat kesadaran yang tinggi. Sementara kelompok atas juga memiliki kemampuan untuk melakukan tes secara mandiri artinya mengeluarkan biayanya sendiri. Sementara orang-orang kalangan bawah memiliki kesulitan melakukan tes mandiri," jelasnya.

Apa betul harga tes itu mahal? Mat Nur kembali membuka data. "Nah, kita lihat ini ada beberapa contoh, saya berikan cepat saja informasi kalau tes sendiri itu berapa biayanya. Nah kalau kita lihat ini, di satu rumah sakit di Jakarta, rapid test hingga swab test ditawarkan hingga Rp489 ribu," ujarnya.

"Ini juga ada informasi bahwa harga rapid test ada Rp500 ribu. Di tempat lain disebutkan ada dua paket. Paket gold Rp1,6 juta, dan paket platinum, Rp1,9 juta. Perbedaannya adalah ada pemeriksaan dari alatnya atau dari lingkungan dan tempat pengambilan testnya," tambahnya.

Harga segini kata dia, bagi kalangan bawah sangatlah besar. Sehingga dari pada menghabiskan uang hanya untuk mendapatkan tes, mereka berpikir lebih baik tidak dites. Meskipun pada kenyataannya mereka positif. "Ini yang menyebabkan kenapa data angka positif yang dilaporkan, tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia banyak terjadi bias. Data ini menurut saya menarik, bahwa telah terjadi kesenjangan bahwa COivd-19 ini membedakan antara kelompok atas dan kelompok bawah," ungkapnya.

Kelompok atas kata dia, terdata dengan baik, sementara kelompok bawah, out of data. Tidak dimasukkan dalam data. Ini hal yang sangat tragis.

"Dengan terabaikannya kelompok bawah dalam penanganan covid, ini akan berbahaya. Karena kelompok bawah akan menjadi kelompok utama tersebarnya corona, menjadi national wait community transmission. Mereka pulang ke kampung, mereka mudik, mereka menganggap di Jakarta tidak ada lagi tempat mencari nafkah, mereka kembali ke kampung, mereka lebih baik berpikir mencari nafkah di kampung, tapi kenyataannya mereka menularkan coronavirus ke kampung halaman," ungkapnya.

"Ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir. Negara harus memperhatikan, khususnya kelompok bawah ini, melalui fasilitas tes yang terjangkau, yang gratis bagi mereka," tegasnya.

Karena kata Mat Noer, tanpa intervensi negara terhadap kelompok bawah ini, risiko kita sangat besar. Indonesia bisa memiliki mayoritas penduduk yang terinfeksi virus corona. Dan itu membahayakan tidak hanya kesehatan bangsa, tapi juga ekonomi bangsa jauh lebih buruk dari pada kita melakukan intervensi segera.

Mat Nur juga berbagi sebuah kabar gembira yang dia peroleh dari Institute Technologi New York. Riset ini, dilakukan oleh para peneliti terkait hubungan antara vaksin BCG dengan covid-19. Apa hubungannya?

"Kalau kita lihat jurnalnya, BCG vaksinasi adalah vaksin untuk TBC. Saya masuk ke lampirannnya banyak figur yang menarik," jelasnya.

Pertama kata dia, ditunjukkan grafik hubungan antara negara-negara yang memiliki kewajiban vaksin universal dengan negara-negara yang tidak memiliki vaksin universal. Dan ini ditunjukkan negara-negara kaya, negara-negara high income dan upper middle income yang tidak memiliki universal vaksin BCG, kalau berdasarkan data ini memiliki risiko terinfeksi yang tinggi.

Hubungan antara masyarakat memiliki infeksi yang tinggi dengan ketiadaan vaksin universal itu, sangat berkorelasi. Ini riset yang menarik bahwa ada hubungan yang kuat antara vaksin BCG dengan jumlah terinfeksi Covid-19.

"Kalau kita lihat, angka kematiannya juga sama. Negara-negara kaya yang tidak memiliki universal BCG vaksin, memiliki tingkat fatalitas (kematian) yang tinggi. Di sini kita lihat Italia, Belanda, Belgia Amerika dan Libanon, memiliki angka kematian yang tinggi, tetapi juga tidak memiliki universal vaksin. Dibandingkan negara-ngeara yang kategorinya upper middle income universal dia memiliki angka kematian yang lebih rendah. Sedangkan di sini ada low middle income lebih sedikit lagi yang memiliki angka kematian," jelasnya.

Riset dari New York tersebut kata Mat Nur, memberikan kepada kita semua kabar gembira. Karena Indonesia sejak tahun 1973, telah menerapkan vaksinasi BCG secara universal. Setiap anak bangsa yang lahir, negara memberikan vaksin BCG untuk menghindari tuberklosis (TBC).

"Tetapi teman-teman harus ingat, bahwa riset tersebut hanya menunjukkan hubungan korelasi, bukan hubungan kausalitas. Artinya, ada hubungan yang kuat antara vaksin BCG dengan berkurangnya atau negatifnya corona. Tetapi riset itu bukan berarti, menunjukkan bahwa vaksin BCG-lah yang membuat covid-19 tidak terjadi secara massal. Hubungan kausalitas sedang diuji. Tetapi kita tidak boleh gegabah. Mengambil kesimpulan bahwa vaksin BCG adalah untuk vaksin Covid-19. Itu salah. Hasil riset dari New York itu hanya memberikan kita kabar gembira, karena Indonesia sejak 1973 telah memberikan kebijakna vaksin terhadap setiap bayi yang lahir. Kita berharap, vaksin BCG ini bisa menambah imunitas anak bangsa terhadap Covid-19. Tetapi riset ini, memiliki disclaimer, riset ini hanya menunjukkan korelasi, bukan hubungan kausalitas. artinya bukan berarti vaksin BCG mampu menyembuhkan Covid-19. Negara yang telah menerapkan vaksin BCG secara nasional memiliki tingkat imunitas yang tinggi terhadap masyarakatnya, dibandingkan negara yang tidak menerapkan BCG secara universal," jelasnya.

Sekali lagi dia mengingatkan, kita tidak boleh gegabah menyimpulkan bahwa vaksin BCG adalah vaksin Covid-19, sehingga kita meminta diberi vaksin BCG.
"Kita belum mengetahui vaksin, belum menemukan vaksin Covid-19 ini. Kita harus tetap tenang, tetap harus berpikir sehat. Tetapi kita harus tetap optimis bahwa kiuta mampu melawan virus ini dengan baik. Sambil kita berharap vaksin BCG mampu memberikan imunitas yang tinggi terhadap Covid-19," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Achmad Nur Hidayat