Redaksi : Senin, 02 November 2026 17:30

BANDA NEIRA, BUKAMATANEWS — Pengembangan pariwisata bahari tidak cukup hanya mengandalkan keindahan laut dan kekayaan alam. Perlindungan ekosistem pesisir, penguatan kapasitas masyarakat, serta pendidikan lingkungan menjadi faktor penting untuk memastikan destinasi wisata tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Semangat tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional Marine Tourism Ecotheology yang digelar Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar di Gedung Makatita, Istana Mini, Negeri Nusantara, Pulau Neira, Banda Neira, Maluku, Sabtu (31/10/2026).

Seminar yang diikuti sekitar 200 peserta secara luring dan daring ini mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah, mitra internasional, praktisi pariwisata, pendidik, serta masyarakat setempat. Forum tersebut membahas keterkaitan antara keberlanjutan ekosistem laut, nilai-nilai ekologis, pendidikan, dan pengembangan destinasi wisata bahari.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk mendorong ketahanan kawasan pesisir (coastal resilience) melalui pengembangan pariwisata yang memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kerja Sama Poltekpar Makassar, Muhammad Arfin Muhammad Salim, M.Pd., Ph.D., yang hadir mewakili direktur, menegaskan komitmen institusinya untuk berkontribusi dalam pengembangan pariwisata dan peningkatan kapasitas masyarakat Maluku.

Menurut Arfin, penyelenggaraan seminar tersebut telah didahului komunikasi dengan Gubernur Maluku sebagai bagian dari upaya membangun sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.

“Pengembangan pariwisata bahari tidak cukup hanya mengandalkan keindahan dan potensi alam. Diperlukan sumber daya manusia yang kompeten, kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, serta tata kelola pariwisata yang memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan ekologis,” ungkap Arfin.

Ia menilai, keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun pengelolaan destinasi yang berkelanjutan. Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat setempat dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi wisata bahari di wilayahnya.

Pendidikan Pariwisata Jadi Kunci Menjaga Pesisir

Selain membahas pengembangan destinasi, seminar tersebut menyoroti pentingnya pendidikan pariwisata dalam membangun kesadaran lingkungan, terutama di kalangan generasi muda.

Dr. Farid Said, M.Pd., dari Poltekpar Makassar, menyampaikan materi mengenai tanggung jawab dan etika dalam pengelolaan sumber daya pariwisata di Banda Neira.

Menurut Farid, pendidikan pariwisata tidak semata-mata memperkenalkan destinasi kepada peserta didik. Lebih dari itu, pendidikan perlu membangun pemahaman tentang potensi daerah, sekaligus menanamkan tanggung jawab untuk melindungi kekayaan alam, sejarah, dan budaya setempat.

“Generasi muda perlu mengenal dan memahami potensi wilayahnya sendiri. Pendidikan pariwisata tidak hanya memperkenalkan destinasi, tetapi juga menanamkan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, sejarah, dan budaya yang menjadi kekayaan daerah,” jelas Farid.

Kehadiran siswa sekolah menengah bersama para guru dalam seminar tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk memperkenalkan pariwisata berkelanjutan sejak dini.

Farid juga menyoroti pendekatan edutourism atau wisata edukasi sebagai sarana pembelajaran yang menghubungkan peserta didik dengan lingkungan alam, warisan sejarah, dan kebudayaan lokal.

Melalui pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal destinasi wisata di daerahnya, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan dan melestarikan identitas budaya masyarakat.

Perkuat Kolaborasi melalui Kerja Sama Multipihak

Seminar Internasional Marine Tourism Ecotheology diselenggarakan melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Poltekpar Makassar dengan dukungan Centre of Excellence bidang Pariwisata Bahari.

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi Poltekpar Makassar, UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, Universitas Banda Naira, mitra internasional, serta Pemerintah Provinsi Maluku.

Sebagai tindak lanjut, kegiatan tersebut juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) multipihak.

Kerja sama itu mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran pengetahuan, pengembangan inovasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kolaborasi ini diharapkan membuka peluang pengembangan program bersama yang dapat memperkuat kompetensi masyarakat, meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi, serta mendorong inovasi dalam pengembangan pariwisata bahari.

Melalui seminar dan kerja sama tersebut, Poltekpar Makassar berharap pengembangan pariwisata Banda Neira dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem pesisir dan penguatan kapasitas masyarakat lokal.

Dengan demikian, potensi wisata bahari tidak hanya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kekayaan alam, sejarah, dan budaya untuk diwariskan kepada generasi mendatang.