Redaksi : Senin, 19 Oktober 2026 10:38

MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Prestasi membanggakan ditorehkan atlet muda Cheng Hoo Archery School, Nafeesa Azra Salsabila, dalam Lomba Panahan Tradisional Forkot Makassar 2026. Di tengah persaingan lebih dari 100 peserta kategori Under 13 (U13), Nafeesa sukses memborong tiga prestasi sekaligus.

Bertanding di halaman Masjid Agung 45 Makassar, Nafeesa berhasil meraih juara pertama kategori individu U13, juara pertama kategori beregu bersama Idham dan Adeva, serta penghargaan Top Scorer U13.

Tiga capaian tersebut menjadi catatan istimewa bagi Nafeesa. Namun, di balik keberhasilan berdiri di podium juara, terdapat proses panjang yang dijalani melalui latihan disiplin, penguatan mental, serta dukungan keluarga, pelatih, dan sekolah.

Bagi Nafeesa, kemenangan bukan sekadar soal ketepatan anak panah mengenai sasaran. Konsistensi, ketenangan, dan kemampuan menjaga fokus menjadi bagian penting yang terus diasah sebelum menghadapi kompetisi.

Persiapan menghadapi Forkot Makassar 2026 dijalani Nafeesa dengan meningkatkan intensitas latihan bersama Cheng Hoo Archery School. Hampir setiap hari, ia meluangkan waktu sekitar dua jam untuk berlatih setelah menyelesaikan kegiatan sekolah.

Bahkan, durasi latihan bertambah saat akhir pekan.

“Untuk FORKOT ini Nafeesa latihan hampir setiap hari, Kak, sekitar dua jam sepulang sekolah. Kalau weekend bisa lebih lama, tiga jam di Lapangan Cheng Hoo Archery School,” ungkap Nafeesa.

Persiapan tersebut tidak hanya berfokus pada penguasaan teknik memanah. Nafeesa juga berusaha menjaga kondisi fisik, konsentrasi, dan kesiapan mental agar mampu tampil maksimal saat pertandingan.

Ia mengaku membiasakan diri menjaga ibadah, mengulang hafalan Al-Qur'an, serta melatih fokus melalui pengaturan pernapasan. Arahan pelatih untuk memperbaiki teknik rilis juga menjadi bagian dari rutinitasnya.

“Persiapannya sebelum lomba itu Nafeesa jaga salat, murojaah hafalan, terus latihan fokus pernapasan. Sama Coach disuruh banyak latihan teknik rilis biar bidikannya konsisten. Malam sebelum lomba, Nafeesa juga tidur cepat biar tidak ngantuk pas lomba,” tuturnya.

Kebiasaan tersebut mencerminkan upaya Nafeesa membangun keseimbangan antara persiapan teknis dan mental. Dalam olahraga panahan, kemampuan mengendalikan diri dan mempertahankan konsentrasi menjadi faktor penting untuk menjaga konsistensi bidikan, terutama saat menghadapi tekanan kompetisi.

### Dukungan Keluarga dan Sekolah Jadi Kekuatan

Nafeesa menyadari, tiga prestasi yang diraihnya tidak lepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya. Orang tua, pelatih, pihak sekolah, hingga rekan satu tim menjadi bagian penting dalam perjalanan prestasinya.

Ia menyebut orang tuanya sebagai sosok yang selalu memberikan dukungan, termasuk mengantar dan menjemput latihan serta mendoakan keberhasilannya.

Selain itu, bimbingan Coach Nurhalisah di Cheng Hoo Archery School turut membantu Nafeesa mengembangkan kemampuan dan memperbaiki teknik panahan.

Dukungan juga datang dari para ustazah di SD Al-Qur'an Wahdah Islamiyah 02 Makassar yang memberikan semangat dan kesempatan untuk menjalani latihan tanpa mengabaikan kegiatan pendidikan.

“Yang paling banyak membantu itu pertama orang tua yang selalu antar jemput dan mendoakan. Terus Coach Nurhalisah di Cheng Hoo Archery School yang selalu sabar mengajarkan saya. Juga ustazah di SD Al-Qur'an Wahdah Islamiyah 02 Makassar yang selalu kasih semangat dan izin kalau harus latihan. Dan teman-teman beregu aku, Idham dan Adeva,” kata Nafeesa.

Kolaborasi keluarga, pelatih, dan sekolah menjadi salah satu unsur penting dalam pembinaan atlet usia dini. Dukungan tersebut membantu anak mengembangkan bakat olahraga sekaligus menjaga tanggung jawab terhadap pendidikan dan pembentukan karakter.

Bagi Nafeesa, kebersamaan bersama Idham dan Adeva juga menjadi pengalaman berharga. Keberhasilan meraih juara pertama kategori beregu menunjukkan bahwa kerja sama dan semangat saling mendukung menjadi bagian dari perjalanan menuju prestasi.

Meski telah meraih tiga penghargaan di Forkot Makassar 2026, Nafeesa tidak ingin cepat berpuas diri. Ia justru mengajak anak-anak seusianya yang tertarik menekuni panahan agar berani mencoba dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

“Jangan takut coba, Kak! Kuncinya itu harus berani, fokus, dan jangan lupa berdoa dulu sebelum memanah. Kalau meleset jangan sedih, coba lagi. Latihan yang rajin dan harus jaga adab. Insya Allah bisa juara juga,” pesannya.

Pesan tersebut menggambarkan pandangannya terhadap olahraga sebagai proses belajar. Bidikan yang meleset bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan memperbaiki teknik dan meningkatkan kemampuan.

Melalui latihan rutin dan pengalaman bertanding, Nafeesa belajar tentang kedisiplinan, kesabaran, keberanian, serta sikap sportif. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi atlet muda untuk berkembang, baik di arena pertandingan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan di Forkot Makassar 2026 kini menjadi motivasi bagi Nafeesa untuk meningkatkan kemampuan dan menatap tantangan berikutnya. Ia berharap dapat memperoleh kesempatan tampil di Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) dengan membawa nama Sulawesi Selatan.

“Setelah ini Nafeesa mau lebih rajin lagi latihannya. Targetnya semoga bisa ikut FORNAS mewakili Sulawesi Selatan. Nafeesa mau bikin orang tua bangga, sekolah Wahdah 02, dan Cheng Hoo Archery School bangga lagi,” ujarnya.

Target tersebut menjadi dorongan bagi Nafeesa untuk terus menjalani proses latihan dan pembinaan. Ia menyadari bahwa prestasi yang lebih tinggi membutuhkan kerja keras, konsistensi, serta kesempatan untuk menguji kemampuan di kompetisi berikutnya.

Tiga prestasi yang diraih di Forkot Makassar 2026 menjadi modal berharga dalam perjalanan itu. Namun, bagi Nafeesa, pencapaian tersebut bukanlah akhir, melainkan awal untuk terus belajar dan mengembangkan potensi.

Kisah atlet muda Cheng Hoo Archery School ini memperlihatkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Ada latihan yang berulang, dukungan orang-orang terdekat, kesabaran dalam menerima arahan, serta keberanian untuk kembali mencoba ketika hasil belum sesuai harapan.

Dengan semangat tersebut, Nafeesa Azra Salsabila berharap dapat terus menorehkan prestasi di cabang panahan tradisional, membanggakan keluarga dan sekolah, serta membuka jalan untuk mewakili Sulawesi Selatan di ajang nasional.

BERITA TERKAIT