Redaksi
Redaksi

Sabtu, 17 Oktober 2026 22:51

Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Universitas Paramadina Soroti Pentingnya Penguatan Fondasi Komunikasi Publik & Komunikasi Empati

Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Universitas Paramadina Soroti Pentingnya Penguatan Fondasi Komunikasi Publik & Komunikasi Empati

Universitas Paramadina berharap hasil evaluasi dan diskursus kritis ini dapat menjadi masukan konstruktif bagi pemangku kebijakan untuk menyempurnakan strategi komunikasi publik ke depannya, demi tercapainya tata kelola pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan akuntabel.

JAKARTA , BUKAMATANEWS - Universitas Paramadina menggelar forum diskursus publik melalui Webinar bertajuk "Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Evaluasi Komunikasi Pemerintahan". Acara ini menghadirkan stakeholder pemerintah dan para pakar komunikasi, analis politik, praktisi media, serta perwakilan masyarakat sipil untuk membedah efektivitas penyampaian kebijakan pemerintah selama kurun waktu dua tahun terakhir. Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyoroti sejumlah catatan penting terkait dinamika komunikasi pemerintah di era digital.

Deputi II bidang materi dan diseminasi Badan Komunikasi RI, Fahd Pahdepie menekankan ada dua cara komunikasi efektif dalam menekankan pentingnya transparansi dan substansi dalam setiap narasi kebijakan Pemerintah yang disampaikan melalui Bakom RI. Hal tersebut sesuai dengan mandat Perpres terkait dengan fungsi Bakom RI yakni menyampaikan dan mensosialisasikan program atau informasi agar selaras dengan ekspektasi publik.

“Yang pertama, Pikiran Presiden dan program terbaik Pemerintah itu pesannya harus sampai kepada rakyat, bahkan di level yang paling bawah. Disaat yang bersamaan Bakom juga harus bisa mendengarkan dan juga menghimpun atau mendapatkan input dari masyarakat pesannya, kemudian kritik dan keluhan dari rakyat agar sampai kepada Presiden atau Pemerintah’, tegas Fahd.

Sementara itu, Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes menegaskan kepuasan publik kepada pemerintah berangsur-angsur menurun.Bahkan Arya menyebut muncul anomali yang belum pernah terjadi dalam pemerintahan sebelum sebelumnya yakni ketidakpuasan terhadap Presiden yang tengah menjabat lebih besar dari kepuasan. Salah satu pemicunya, adalah kepercayaan menurun akibat tidak maksimalnya komunikasi antar pemerintah dengan publik.

“Bagaimana trust levelnya meningkat, communication lan-nya justru belum selesai. PRnya adalah sejauh mana komunikasi publik pemerintah dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap eksekutif. Persoalan besarnya adalah dalam 2 tahun, sudah ada tiga pergantian pimpinan Bakom RI dan pergantian nomenklatur, ini membuktikan ada problem besar dalam plan communication Pemerintah”, ucap Arya.

Dari sisi masifnya sarana dan media komunikasi Pemerintah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina sekaligus pegiat media sosial Prabunindya Revta Revolusi menilai adanya perhatian sangat luar biasa dari Presiden Prabowo. Prabu menegaskan banyak lembaga pemerintah yang memiliki peran dan fungsi komunikasi untuk mensosialisasikan program dan kebijakan Presiden kepada masyarakat, hanya saja pondasi atau strukturnya perlu diperkuat.

“Ibarat punya rumah mewah, tapi dibangun di tanah yang salah atau fundamentalnya fondasinya tidak kuat, sehingga rapuh. Inilah yang saat ini dialami oleh instrument komunikasi Pemerintah. Untuk memperkuat komunikasi diantaranya perlu ada komunikasi yang empatik dengan masyarakat, dimulai dari mendengar, karena komunikator yang hebat adalah orang yang jago mendengar. Saat krisis empatilah terlebih dahulu, baru kemudian klarifikasi”, kata Prabu.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Tunggal Pawestri mengingatkan pentingnya komunikasi kebijakan yang inklusif serta berpihak pada keadilan sosial dan pelibatan kelompok rentan termasuk masyarakat sipil. Menurutnya, komunikasi pemerintah sangat penting karena membuka ruang sipil, dimana kritik dan masukan itu bagian bagian sah bukan ancaman yang harus dilawan atau discounter tapi harus secara sehat menyambut kritik sebagai bahan perbaikan.

“Pemerintah wajib menerangkan alasan dibalik setiap keputusan dan siap dimintai pertanggungjawaban. Jadi komunikasi pemerintah itu bukan etalase untuk sekedar memajang keberhasilan. Komunikasi itu bukan cuma pengumuman satu arah, tapi juga harus mendengar, sama seriusnya dengan berbicara atau memberi warga tempat untuk bersuara serta ikut menentukan kebijakan” lugas Pawestri.

Menutup rangkaian pandangan para narasumber, Pengamat Komunikasi Publik dan Politik sekaligus Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Abdul Malik Gismar menegaskan saat ini ahli atau pakar komunikasi banyak memiliki segala perangkat atau instrument untuk memahami masyarakat. Esensi utama dari komunikasi adalah persuasi, truth dan power. Namun menurutnya persoalan komunikasi bukan hanya soal komunikasi itu sendiri, namun soal komunikasi itu efektif atau tidak.

“Problemnya bukan persuasi itu sendiri, namun persuasi yang tercerai atau terpisahkan dari tanggungjawab sosial atau tidak. Apa yang terjadi jika kemampuan komunikasi dipisahkan dari mencari kebenaran. Setelah persuasi berhasil, apa yang bisa dilakukan sebagai tanggungjawab sosial” ungkap Gismar.

Webinar yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Temu Alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina 2026 diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari para alumni PGSC Universitas Paramadina, jurnalis, masyarakat umum serta kalangan mahasiswa dan akademisi. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik Junaidi Rachbini, M.Sc., Ph.D.

Universitas Paramadina berharap hasil evaluasi dan diskursus kritis ini dapat menjadi masukan konstruktif bagi pemangku kebijakan untuk menyempurnakan strategi komunikasi publik ke depannya, demi tercapainya tata kelola pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan akuntabel.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Universitas Paramadina

Berita Populer