MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Kemampuan mengelola komunikasi di tengah krisis menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki seorang pemimpin. Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam perkuliahan mata kuliah Leadership Communication yang menghadirkan Bupati Bantaeng, Fathul Fauzi Nurdin, S.I.Kom., M.I.Kom., sebagai dosen praktisi bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Perkuliahan pertemuan keenam tersebut berlangsung secara luring di Aula Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI, Jumat, 16 Oktober 2026.. Dalam kesempatan itu, Fathul Fauzi Nurdin yang akrab disapa Uji Nurdin membahas strategi menjaga reputasi, mengelola persepsi publik, serta membangun kepemimpinan yang efektif ketika menghadapi situasi krisis.
Uji Nurdin menjelaskan bahwa reputasi merupakan aset tidak berwujud yang memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan sebuah organisasi maupun kepemimpinan seseorang. Reputasi yang dibangun dalam waktu lama dapat mengalami penurunan apabila krisis tidak ditangani melalui komunikasi yang tepat dan terukur.
Ia menguraikan empat aspek penting dalam komunikasi krisis, yakni menjaga reputasi, memahami pembentukan persepsi publik, merespons situasi secara cepat, serta memastikan kesesuaian antara pernyataan dan tindakan. Keempat aspek tersebut dinilai berperan dalam membentuk kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin maupun organisasi yang sedang menghadapi persoalan.
Selain itu, Uji Nurdin menekankan bahwa penanganan krisis perlu dilakukan secara sistematis melalui tiga tahapan, yaitu pra-krisis, saat krisis berlangsung, dan pascakrisis. Pada tahap awal, organisasi perlu mengidentifikasi potensi risiko serta mempersiapkan langkah antisipasi agar dapat merespons persoalan secara terarah.
Ketika krisis terjadi, pemimpin harus memprioritaskan keselamatan publik, menyampaikan informasi berdasarkan fakta, serta menghindari pernyataan yang berpotensi menimbulkan kebingungan. Adapun pada tahap pascakrisis, evaluasi dan pemulihan menjadi bagian penting untuk memperbaiki kelemahan serta mencegah terulangnya permasalahan serupa.
“Pesan yang disampaikan selama krisis harus mengutamakan keselamatan, kepastian tindakan, empati, serta pembaruan informasi secara berkala,” ujarnya.
Pembahasan juga mencakup pentingnya komunikasi dalam membangun efektivitas kerja tim. Menurut Uji, keberhasilan sebuah tim tidak hanya bergantung pada kemampuan individu dan kualitas kepemimpinan, tetapi juga pada komunikasi yang mampu menyatukan pemahaman, memperkuat koordinasi, dan mengarahkan seluruh anggota menuju tujuan bersama.
Dekan FSIKP UMI, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., mengapresiasi keterlibatan Uji Nurdin sebagai dosen praktisi dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Ia menilai kehadiran praktisi yang memiliki pengalaman langsung dalam kepemimpinan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai penerapan teori komunikasi dalam menghadapi persoalan di lapangan.
Menurutnya, pembelajaran berbasis pengalaman praktis menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami tantangan komunikasi yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui pendekatan teoretis di ruang kelas.
Melalui perkuliahan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi FSIKP UMI diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi kepemimpinan, terutama dalam menghadapi krisis, menjaga reputasi, serta membangun kepercayaan publik melalui penyampaian informasi yang cepat, akurat, empatik, dan bertanggung jawab.
Penulis : Muhammad Raihan Rahman
BERITA TERKAIT
-
Siapkan Pengerukan Demi Cegah Banjir, Bupati Bantaeng Tinjau Cekdam Balang Sikuyu
-
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI Kunjungi Harian Fajar, Lihat Proses Pembuatan Berita
-
Entry Meeting Bersama Tim BPK, Bupati Bantaeng Minta OPD Siapkan Data Secara Detail
-
Hadiri Hari Jadi Bone ke 696, Bupati Bantaeng Doakan Semakin Maju dan Berkarakter
-
Musrenbang Tematik 2026 Resmi Dibuka, Bupati Bantaeng Fokus pada Isu Anak, Perempuan, Disabilitas dan Stunting