Redaksi
Redaksi

Kamis, 15 Oktober 2026 15:35

Korban Perundungan akibat Gangguan Bicara, Siswi Asal Gowa Jalani Operasi Rekonstruksi di Unhas

Korban Perundungan akibat Gangguan Bicara, Siswi Asal Gowa Jalani Operasi Rekonstruksi di Unhas

Siswi asal Gowa, Nur Afiqa (14), korban perundungan akibat gangguan bicara, menjalani operasi rekonstruksi langit-langit mulut di RS Unhas dan akan menjalani terapi bicara.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Nur Afiqa (14), siswi kelas VIII SMP asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menjalani operasi rekonstruksi langit-langit mulut di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (Unhas), Selasa (13/10/2026). Tindakan medis ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kemampuan bicaranya setelah bertahun-tahun mengalami gangguan akibat kelainan bawaan.

Sebelum mendapatkan penanganan medis tersebut, Nur Afiqa harus menghadapi persoalan yang tidak mudah. Kondisi bicaranya yang terdengar sengau membuatnya menjadi korban perundungan oleh teman-temannya.

Tekanan yang dialaminya berdampak pada kondisi psikologis hingga membuatnya hampir setahun tidak masuk sekolah.

Kelainan yang dialami Nur Afiqa dikenal sebagai cleft palate atau celah langit-langit, yakni kondisi bawaan ketika langit-langit mulut tidak terbentuk secara sempurna. Kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi bicara dan membutuhkan penanganan medis serta terapi lanjutan.

Operasi rekonstruksi terhadap Nur Afiqa dilakukan oleh Wakil Rektor Unhas, Profesor drg. Muhammad Ruslin, bersama tim medis. Ruslin mengatakan, tindakan tersebut bertujuan memperbaiki struktur anatomi langit-langit mulut pasien agar mendekati kondisi normal.

" Kami melakukan operasi rekonstruksi untuk mengembalikan anatomi langit-langit mulutnya. Sebelumnya memang ada celah dan sudah pernah dioperasi, tetapi hasilnya mungkin belum maksimal sehingga kami melakukan perbaikan kembali," kata Ruslin melalui sambungan telepon, Kamis (15/10/2026).

Menurut Ruslin, operasi berlangsung sekitar dua setengah jam, mulai pukul 08.30 Wita. Tindakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi fisik yang selama ini turut memengaruhi kemampuan bicara Nur Afiqa.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa operasi belum tentu langsung menghilangkan gangguan bicara yang dialami pasien. Nur Afiqa masih membutuhkan terapi bicara untuk melatih kembali pengucapan yang selama ini terbentuk.

"Harapannya supaya fungsi bicaranya bisa lebih maksimal sehingga dia tidak dibully lagi. Namun, karena sudah terbiasa dengan bunyi yang keliru atau sengau, nanti harus dilatih lagi melalui terapi bicara," ujarnya.

Ruslin memastikan pihaknya akan tetap memantau perkembangan kondisi Nur Afiqa setelah operasi. Penanganan lanjutan akan melibatkan tenaga profesional yang memiliki keahlian di bidang terapi bicara.

" Tetap kami pantau dan serahkan kepada ahli di bidang terapi bicara," ucapnya.

Berawal dari Informasi Mantan Direktur RSUD Takalar

Penanganan Nur Afiqa bermula dari komunikasi Ruslin dengan mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Takalar, dr. Asriadi Ali.

Asriadi menyampaikan informasi mengenai kondisi Nur Afiqa kepada Ruslin sekaligus membantu menjembatani komunikasi dengan orang tua dan keluarga pasien. Melalui koordinasi tersebut, Nur Afiqa kemudian dirujuk untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan lebih lanjut di Unhas.

"Beliau menghubungi saya dan menyampaikan ada pasien dengan kondisi seperti ini. Kemudian beliau membantu berkomunikasi dengan orang tua dan keluarga sehingga pasien dirujuk kepada kami," jelas Ruslin.

Setelah menerima rujukan, tim medis terlebih dahulu melakukan asesmen terhadap kondisi pasien sebelum menentukan tindakan operasi yang diperlukan.

Ruslin bersyukur operasi rekonstruksi tersebut dapat terlaksana. Ia berharap Nur Afiqa segera pulih dan bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk melanjutkan pendidikan di sekolah.

Celebes Cleft Center Telah Operasi 4.000 Pasien

Selain menjabat sebagai Wakil Rektor Unhas, Ruslin merupakan Ketua Celebes Cleft Center, yayasan yang menjalankan program operasi gratis bagi pasien dengan kelainan bawaan berupa bibir sumbing dan celah langit-langit mulut.

Sejak 2008, lembaga tersebut telah membantu sekitar 4.000 pasien menjalani operasi. Pelayanan dilakukan di berbagai daerah, terutama di kawasan Indonesia timur, serta sejumlah wilayah lainnya.

"Kami telah membantu operasi di berbagai daerah, paling banyak Indonesia timur, seperti Ambon, dan Kalimantan," kata Ruslin.

Ia menegaskan, penanganan kelainan bawaan pada bibir dan langit-langit mulut tidak cukup hanya melalui tindakan operasi. Pasien membutuhkan perawatan berkelanjutan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, sesuai kebutuhan masing-masing.

"Kelainan bawaan seperti bibir sumbing dan langit-langit sumbing perlu penanganan sejak awal dan secara komprehensif. Tidak boleh setelah dioperasi kemudian berhenti. Harus tetap ada tindak lanjut karena penanganannya melibatkan berbagai bidang ilmu," tuturnya.

Kasus yang dialami Nur Afiqa juga menjadi pengingat bahwa anak dengan kondisi medis tertentu membutuhkan dukungan, bukan ejekan atau perlakuan diskriminatif. Selain akses terhadap pelayanan kesehatan, lingkungan keluarga, sekolah, dan pergaulan yang aman menjadi bagian penting agar anak dapat tumbuh, belajar, dan berinteraksi tanpa rasa takut akibat perundungan. (*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#RS Unhas

Berita Populer