Redaksi : Senin, 12 Oktober 2026 10:40

MAKASSAR BUKAMATANEWS — Kualitas udara di Sulawesi Selatan (Sulsel), berada pada kategori tidak sehat berdasarkan pemantauan konsentrasi partikel halus PM2,5 yang dirilis Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, Senin (12/10/2026).

Dalam informasi kualitas udara yang diperbarui pada pukul 07.00 WITA, konsentrasi PM2,5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, tercatat mencapai 65 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikel halus di udara yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

PM2,5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil, yakni sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

BMKG Wilayah IV Makassar mengingatkan bahwa paparan PM2,5 dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Selain itu, kondisi tersebut berisiko memperburuk penyakit pernapasan, khususnya pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

BMKG Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Menyikapi kondisi tersebut, BMKG memberikan sejumlah imbauan kepada masyarakat untuk mengurangi risiko paparan polusi udara.

Warga disarankan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama apabila berada di kawasan dengan paparan polutan tinggi. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

Selain itu, BMKG mengimbau warga menutup jendela dan pintu rumah untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar. Menjaga kesehatan tubuh dan mencukupi kebutuhan air putih juga menjadi bagian dari langkah perlindungan diri.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat asma atau penyakit pernapasan lainnya. Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk yang memburuk, atau iritasi berkepanjangan, masyarakat disarankan mencari pertolongan medis.

Pemantauan Kualitas Udara Perlu Diperhatikan

Kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti dinamika cuaca, aktivitas manusia, serta sumber emisi di lingkungan sekitar. Karena itu, masyarakat diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan perkembangan cuaca dari sumber resmi.

Data BMKG tersebut merupakan hasil pemantauan di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, pada waktu pengukuran yang tercantum. Dengan demikian, angka konsentrasi PM2,5 itu tidak serta-merta menggambarkan kondisi kualitas udara di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.

Masyarakat diharapkan tetap waspada dan menyesuaikan aktivitas luar ruang dengan kondisi kualitas udara terkini guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan.