Redaksi : Jumat, 09 Oktober 2026 20:16

MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Lebih dari 500 pemimpin dan profesional dari berbagai sektor berkumpul dalam Makassar Leadership Summit (MLS) 2026 di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar, Kamis (8/10/2026). Forum ini membahas tantangan kepemimpinan di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi organisasi, tuntutan keberlanjutan, serta dinamika dunia kerja yang semakin kompleks.

Mengusung tema “The Future of Leadership Starts Here”, kegiatan yang diselenggarakan oleh PMSM, GNIK, dan APINDO tersebut menghadirkan 18 pembicara dari berbagai latar belakang, mulai dari mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, kepala daerah, pimpinan perusahaan, praktisi sumber daya manusia, pemimpin teknologi digital, hingga pelatih kepemimpinan.

Peserta yang berasal dari lebih dari sembilan sektor industri menjadikan MLS 2026 sebagai ruang dialog lintas sektor untuk berbagi pengalaman dan memperluas perspektif mengenai arah kepemimpinan di masa depan.

Salah satu sorotan utama forum ini adalah pentingnya pemimpin menyeimbangkan pencapaian bisnis, pengembangan manusia, pemanfaatan teknologi, dan keberlanjutan dalam mengambil keputusan strategis.

Jusuf Kalla Angkat Nilai Kepemimpinan dari Indonesia Timur

Makassar Leadership Summit 2026 dibuka dengan keynote speech Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, melalui sesi Leading from the East.

Dalam paparannya, Jusuf Kalla menyoroti nilai-nilai kepemimpinan yang tumbuh dari budaya Indonesia Timur, khususnya tradisi Bugis, sebagai landasan dalam membaca situasi, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan.

“Indonesia Timur memiliki kekayaan nilai kepemimpinan yang tumbuh dari budayanya. Dari tanah Bugis, kita belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang memimpin, tetapi tentang nilai yang menjadi pegangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan empat nilai yang dinilai relevan dalam kepemimpinan, yakni macca atau kecerdasan membaca keadaan dan melihat peluang, warani atau keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko, getteng atau keteguhan menjalankan keputusan, serta malempu yang mencerminkan kejujuran dalam membangun dan menjaga kepercayaan.

Perspektif tersebut menempatkan nilai dan karakter sebagai fondasi kepemimpinan, di tengah tuntutan perubahan yang mengharuskan pemimpin bersikap adaptif sekaligus konsisten terhadap prinsip yang dipegang.

Munafri Tekankan Kepemimpinan Inklusif dan Berkelanjutan

Pembahasan kemudian berlanjut melalui sesi Inclusive & Sustainable Leadership: People, Planet and Long-Term Values yang menghadirkan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Chief Human Capital Officer PT Vale Indonesia, Heriyanto Agung Putra.

Keduanya membawa perspektif pemerintahan dan dunia usaha mengenai pentingnya menyeimbangkan kepentingan manusia, lingkungan, pertumbuhan ekonomi, serta penciptaan nilai jangka panjang.

Munafri menegaskan, keberhasilan kepemimpinan tidak cukup diukur dari capaian jangka pendek. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat dan keberlanjutan pembangunan.

“Pemimpin tidak boleh hanya berpikir tentang apa yang baik untuk hari ini. Setiap keputusan perlu dipikirkan dampaknya dalam jangka panjang,” ujarnya.

Menurut Munafri, kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan mendengar, memahami kebutuhan masyarakat yang beragam, dan membangun kolaborasi.

“Pertumbuhan dan kemajuan harus berjalan bersama kualitas hidup dan keberlanjutan, karena legacy seorang pemimpin bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang nilai dan dampak yang dapat terus tumbuh setelahnya,” lanjutnya.

Pemimpin Bisnis Bahas Transformasi Organisasi

Tantangan perubahan organisasi menjadi pembahasan dalam sesi Transformational Leadership: Challenging the Status Quo to Drive Meaningful Change.

Sesi tersebut menghadirkan mantan CEO Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra; CEO Great Giant Foods, Tommy Watimena; serta Director of Grab Indonesia, Halim Wijaya.

Para pembicara berbagi perspektif mengenai keberanian menantang pola lama, membangun rasa tanggung jawab dalam organisasi, serta memastikan transformasi menghasilkan perubahan yang bermakna.

Diskusi ini menyoroti bahwa tantangan kepemimpinan tidak lagi dapat dipandang hanya dari sudut pandang satu sektor industri. Persoalan pengelolaan sumber daya manusia, teknologi, ketahanan organisasi, dan pengambilan keputusan saling berkaitan dan membutuhkan pendekatan yang adaptif.

Perspektif mengenai kepemimpinan yang berpusat pada manusia juga dibahas dalam sesi Human Centered Leadership: Empathy, Authenticity & Vulnerability.

Sesi ini menghadirkan Presiden Direktur Mercer Indonesia, Isdar Andre M; Director of Strategic and Advisory KTM Solutions, Ivan Ahda; serta Presiden ICF Jakarta Charter Chapter sekaligus Consulting Director di Eclectic People Consulting/Head of Business Mekari Talenta, Bambang Yapri.

Pembahasan berfokus pada pentingnya membangun kepercayaan, empati, autentisitas, dan akuntabilitas di tengah tuntutan kinerja serta perubahan organisasi.

Selain itu, Alexander Sriewijono, pendiri Daily Meaning sekaligus Certified Executive Leadership Coach, membawakan sesi Inspiring Talk: Pain of Leadership. Setelah jeda makan siang, Presiden Maxwell Leadership Indonesia, David Tjokrorahardjo, melanjutkan rangkaian dengan sesi Outgrow Your Leadership yang mengajak peserta merefleksikan kapasitas dan perkembangan diri sebagai pemimpin.

Kepemimpinan di Era AI Jadi Sorotan

Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam MLS 2026 melalui sesi AI Ready Leadership: Where to Start?.

Sesi ini menghadirkan Chief People Officer tiket.com sekaligus Ketua Umum PMSM, Dudi Arisandi; Chief Business Development Officer BINAR, Dita Maharani Aisyah; serta Vice President Consumer Business Area Pamasuka Telkomsel, Robby Aris Cahyady.

Diskusi tidak hanya menyoroti penggunaan teknologi AI, tetapi juga kesiapan pemimpin dan organisasi dalam menentukan kebutuhan bisnis, meningkatkan literasi AI, membangun kompetensi, serta memastikan penerapan teknologi memberikan nilai tambah bagi organisasi.

Pembahasan tersebut menegaskan pentingnya peran pemimpin dalam mengarahkan transformasi digital. Pemanfaatan teknologi perlu disertai pemahaman terhadap persoalan yang ingin diselesaikan dan kesiapan sumber daya manusia yang menjalankannya.

Tantangan lain dibahas dalam sesi Resilience Leadership: Turning Challenges into Growth yang menghadirkan Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong; Chief Executive Officer Kalla Aspal, Disa Rizky Novianty; serta Direktur MNC, Angela Tanoesoedibjo.

Ketiganya membawa perspektif mengenai cara pemimpin menghadapi tekanan, ketidakpastian, dan perubahan bisnis sembari menjaga kualitas keputusan.

Ketahanan kepemimpinan, dalam konteks tersebut, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bertahan menghadapi krisis, tetapi juga kemampuan menjadikan pengalaman sulit sebagai pembelajaran untuk memperkuat organisasi.

MLS 2026 Dorong Perspektif Kepemimpinan Lintas Sektor

Ketua Panitia Makassar Leadership Summit 2026, Fauziah Zulfitri, S.Psi., M.M., PCC, mengatakan keberagaman pembicara dan perspektif merupakan bagian dari rancangan forum tersebut.

Menurutnya, tantangan kepemimpinan saat ini membutuhkan ruang dialog yang mempertemukan pengalaman dari sektor pemerintahan, bisnis, sumber daya manusia, teknologi, hingga komunitas.

“Dunia yang berubah membutuhkan cara memimpin yang juga terus berkembang. Karena itu, MLS 2026 tidak kami desain untuk menawarkan satu formula tentang leadership, tetapi untuk mempertemukan berbagai perspektif dari public leadership, business, people, technology, hingga emerging leaders,” ujarnya.

Ia berharap diskusi yang berlangsung dalam forum tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat mendorong pemimpin menerapkan pendekatan yang lebih relevan dengan kebutuhan organisasi masing-masing.

“Harapannya, percakapan yang terjadi di sini tidak berhenti sebagai insight, tetapi menjadi refleksi yang mendorong pemimpin untuk mengambil keputusan dan tindakan yang lebih relevan bagi organisasinya,” tambahnya.

Rangkaian Makassar Leadership Summit 2026 ditutup dengan sesi refleksi yang mengajak peserta merumuskan komitmen praktis untuk diterapkan setelah kembali ke organisasi masing-masing.

Pertanyaan yang menjadi penutup forum tersebut adalah, “What will I do differently as a leader starting tomorrow?” atau apa yang akan dilakukan secara berbeda sebagai pemimpin mulai esok hari.

Pertanyaan itu merangkum pesan utama MLS 2026 bahwa kepemimpinan tidak cukup diwujudkan melalui jabatan, gagasan, atau partisipasi dalam forum. Kepemimpinan juga diuji melalui nilai yang dipegang, keputusan yang diambil, perubahan yang dijalankan, dan dampak yang dihasilkan.

Dengan melibatkan lebih dari 500 peserta dan 18 pembicara dari beragam latar belakang, Makassar Leadership Summit 2026 menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan kepemimpinan Indonesia, dengan menempatkan nilai, adaptasi terhadap perubahan, dan dampak jangka panjang sebagai bagian penting dari pembahasan.