Redaksi : Jumat, 28 Agustus 2026 12:34
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf

JAKARTA, BUKAMATANEWS – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan kembali kesiapannya mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar tahun ini.

Gus Yahya mengatakan keputusan kembali maju bukan didorong semata-mata keinginan mempertahankan jabatan. Ia mengaku masih memiliki sejumlah tanggung jawab yang belum tuntas sejak mendapat mandat memimpin PBNU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung.

Ia menyebut program-program yang belum sepenuhnya terealisasi tersebut sebagai “hutang” yang ingin dilunasinya sebelum mengakhiri pengabdian di organisasi.

“Saya sudah menyatakan mencalonkan diri lagi ya sebetulnya karena alasan pribadi bahwa saya ingin hisab saya di hadapan Allah SWT itu beres. Selama lima tahun ini apa yang saya janjikan kepada muktamar di Lampung yang lalu, Muktamar ke-34 itu masih ada yang belum selesai,” kata Gus Yahya, Kamis (27/8/2026).

Menurut dia, tanggung jawab tersebut tidak hanya berkaitan dengan urusan organisasi, tetapi juga menyangkut pertanggungjawaban moral dan spiritual.

Ia mengibaratkan program yang belum selesai sebagai utang yang harus dibayar. Karena itu, ia berharap kembali diberi kesempatan memimpin PBNU agar agenda yang telah dirintis dapat dituntaskan.

“Itu berarti saya berhutang dan sebagai tanggung jawab seorang peminjam, saya wajib meminta kesempatan untuk melunasi hutang. Kalau nanti saya diberi tambahan waktu, insyaallah saya lunasi,” tegasnya.

Ingin Tuntaskan Fondasi Transformasi NU

Gus Yahya menilai sejumlah agenda yang dikerjakan PBNU selama masa kepemimpinannya bukan sekadar program jangka pendek. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun fondasi transformasi organisasi NU.

Karena itu, ia menilai kesinambungan kepemimpinan diperlukan agar fondasi yang telah dibangun dapat dilanjutkan hingga menghasilkan perubahan organisasi yang lebih kuat.

“Yang saya kerjakan ini adalah hal-hal yang sifatnya pondasi bagi transformasi ke depan. Saya yakin bahwa saya mampu meneruskan membangun konstruksi ini dari pondasi yang sudah ada menjadi bangunan yang baik,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan adanya risiko apabila proses transformasi tersebut diteruskan oleh pihak yang tidak memahami desain dan arah perubahan yang telah dirintis.

“Apabila yang meneruskan pembangunan konstruksi ini tidak memahami desain awal dari arsitektur transformasi organisasi ini, tentu ada potensi bahwa bangunan yang dihasilkan nanti kurang bisa diandalkan,” katanya.

Atas dasar itu, Gus Yahya ingin memastikan agenda transformasi yang telah dimulai tidak berhenti di tengah jalan karena adanya pergantian kepemimpinan.

Muktamar Diikuti 2.232 Peserta

Muktamar ke-35 NU menjadi forum penting untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan. Forum tersebut diikuti 2.232 peserta yang berasal dari 38 provinsi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 556 peserta memiliki hak suara untuk menentukan keputusan akhir dalam sejumlah agenda penting muktamar.

Agenda Muktamar ke-35 NU meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban PBNU, sidang komisi organisasi dan program, serta pembahasan Bahsul Masail.

Bahsul Masail dibagi menjadi tiga komisi, yakni Waqi'iyyah, Maudhu'iyyah, dan Qanuniyyah.

Rangkaian muktamar kemudian dilanjutkan dengan proses demisioner hingga pemilihan kepengurusan PBNU yang baru.

Klaim Telah Mendapat Restu Kiai Sepuh

Di tengah persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU, Gus Yahya mengungkapkan telah menemui sejumlah kiai sepuh untuk menyampaikan niatnya kembali maju dalam kontestasi kepemimpinan NU.

Menurutnya, restu dari para kiai merupakan bagian penting dari langkah yang ditempuhnya. Restu tersebut, kata dia, bukan sekadar dukungan dalam kontestasi organisasi, melainkan juga menjadi peneguhan bahwa keputusan yang diambilnya tidak bertentangan dengan nasihat para sesepuh.

“Restu para kiai guru-guru saya itu jelas mutlak saya butuhkan. Restu yang membantu melapangkan hati saya bahwa yang saya lakukan tidak keliru dan bukan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh para sesepuh,” ujarnya.

Gus Yahya mengklaim para kiai yang ditemuinya memberikan restu setelah dirinya menjelaskan niat serta alasan kembali mencalonkan diri.

“Para kiai sepuh saya kira sepanjang kita mampu menjelaskan kepada beliau-beliau tentang bagaimana kita menata niat kita, beliau-beliau merestui dan itu dinyatakan secara eksplisit oleh setiap kiai yang saya temui,” katanya.

Tegaskan NU Tak Boleh Jadi Kendaraan Kekuasaan

Selain berbicara mengenai pencalonannya, Gus Yahya turut menyinggung isu independensi NU dari kekuasaan politik.

Ia membantah anggapan bahwa pencalonannya berkaitan dengan intervensi pemerintah maupun restu dari Istana. Menurut dia, karakter NU sebagai organisasi yang memiliki independensi membuatnya tidak mudah diarahkan untuk kepentingan kekuasaan.

“Saya tidak percaya menurut saya itu informasi yang tidak masuk akal. Tidak akan menguntungkan bagi istana untuk melakukan intervensi ke dalam NU karena sekarang realitas politik berubah, konteksnya berubah, konstelasi berubah. Itu akan membuat pemerintah jadi citranya buruk sekali,” tegasnya.

Gus Yahya juga menegaskan NU tidak semestinya dijadikan instrumen untuk mengonsolidasikan kepentingan politik kekuasaan.

“NU tidak boleh dijadikan wahana konsolidasi politik kekuasaan. Tidak boleh. Tidak boleh lagi ada misalnya calon presiden atau cawapres dari PBNU,” ujarnya.

Ia pun menegaskan pencalonannya kembali sebagai Ketua Umum PBNU tidak seharusnya dikaitkan dengan kepentingan politik menghadapi Pemilu 2029.

“Saya sudah bilang sejak awal saya cuma ingin khidmah ke NU, saya nggak mau yang lain,” pungkasnya.