MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Di balik gemerlap hotel berbintang dan meja-meja restoran elegan, ada denyut kemanusiaan yang tak pernah padam. Ketika gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), industri perhotelan dan restoran Sulawesi Selatan tak tinggal diam. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel bersama Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Sulsel menggalang donasi—bukan karena kewajiban, melainkan panggilan hati.
Senin (24/8), di Makassar, mereka menyampaikan hasil penggalangan dalam konferensi pers. Total donasi yang terkumpul mencapai Rp30.350.000. Angka ini mungkin tidak besar bagi sebagian orang, tetapi di baliknya ada cerita tentang kerja keras, empati, dan kebersamaan yang jauh lebih berharga.
"Jangan Lihat Jumlahnya, Tapi Semangatnya"
Ketua PHRI Sulsel Anggiat Sinaga dengan tegas menyatakan bahwa dana tersebut mayoritas bukan berasal dari kantong manajemen hotel, melainkan spontanitas para pekerja—resepsionis, pramusaji, staf dapur, hingga cleaning service. Mereka merogoh kocek sendiri, mengumpulkan koin demi koin, untuk saudara-saudara di NTT yang kehilangan tempat tinggal dan keluarga.
"Jangan dilihat dari jumlahnya, tapi semangatnya. Ini adalah bentuk cinta kasih yang diwujudkan oleh PHRI, IHGMA, dan komunitas yang ikut berpartisipasi," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Sebanyak 43 hotel dan anggota komunitas terlibat dalam gerakan ini. PHRI dan IHGMA memilih menyalurkan donasi dalam bentuk uang tunai—keputusan yang bijak agar bantuan bisa dibelanjakan sesuai kebutuhan riil di lapangan, bukan sekadar barang yang mungkin tak tepat sasaran.
Kolaborasi yang Tak Pernah Putus
Ketua IHGMA Sulsel, Zulkifli, menegaskan bahwa aksi ini adalah kelanjutan dari kolaborasi panjang antara dua organisasi. "Apa yang selama ini kami selalu berkolaborasi dengan PHRI, dalam hal keterlibatan di IHGMA selalu men-support jika ada saudara-saudara kita yang tertimpa bencana," tuturnya.
Tak hanya di Sulsel, gerakan serupa juga digalakkan IHGMA secara nasional. Instruksi dari pengurus pusat telah menyebar ke berbagai daerah, menggerakkan jaringan general manager hotel di seluruh Indonesia untuk ikut mengirimkan bantuan ke NTT.
Kepedulian Tak Mengenal Waktu
Ketua PHRI Sulsel menyampaikan pesan penting: bantuan tidak harus datang pada hari pertama. Kepedulian terhadap korban bencana tidak mengenal batas waktu. "Bantuan yang diberikan hari ini, besok, maupun beberapa hari ke depan tetap memiliki arti bagi masyarakat yang sedang membutuhkan," katanya.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa bencana bukan hanya soal tanggap darurat awal, tetapi juga pemulihan jangka panjang yang sering luput dari perhatian.
Trigger bagi Kepedulian yang Lebih Luas
Lebih dari sekadar donasi, PHRI dan IHGMA berharap gerakan ini menjadi trigger—pemicu bagi pihak lain untuk ikut memberikan empati. "Kami berharap apa yang kami lakukan bisa menjadi trigger bagi pihak lain untuk ikut memberikan empati kepada saudara-saudara kita yang terdampak di NTT," ujar Ketua PHRI.
Ajakan ini terbuka untuk semua kalangan: asosiasi, dunia usaha, komunitas, hingga individu. Karena pada akhirnya, solidaritas adalah kekuatan yang mampu meringankan beban, bahkan saat keadaan terasa paling berat.
Penutup: Pariwisata yang Berjiwa
Industri pariwisata dan perhotelan sering dinilai dari tingkat hunian, okupansi, atau pendapatan. Namun, momen ini membuktikan bahwa di balik semua angka, ada jiwa yang peduli. PHRI dan IHGMA Sulsel telah menunjukkan bahwa industri ini memiliki hati yang besar—dan hati itu berdetak untuk sesama.
BERITA TERKAIT
-
Peduli Korban Gempa NTT, Dankodaeral VI Bersama Forkopimda Sulsel Lepas Bantuan Kemanusiaan
-
Peduli Korban Gempa NTT, Sulsel Kirim 25 Ton Bantuan Kemanusiaan
-
Pemerintah Perkuat Satgas Percepat Penanganan Pengungsi Gempa NTT
-
Update Gempa M7,7 NTT: Korban Jiwa Tembus 53 Orang, 1.500-an Rumah Rusak Berat
-
10 Gempa Guncang NTT dalam 20 Menit, BMKG Catat Aktivitas Seismik Beruntun