Redaksi : Minggu, 23 Agustus 2026 22:42

TAKALAR, BUKAMATANEWS - Minggu pagi biasanya identik dengan secangkir kopi di teras rumah, atau sekadar melepas penat setelah enam hari bergulat dengan rutinitas. Tapi tidak bagi Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye. Di saat sebagian orang menikmati waktu luang bersama keluarga, ia justru memilih berada di titik paling panas—secara harfiah dan kiasan—di Desa Bontoparang, Kecamatan Laikang. Di sana, tanah retak, sumur-sumur mengering, dan warga berbaris sabar menunggu tetesan air yang sangat berarti.

Minggu (23/8) pagi itu, Daeng Manye tidak datang dengan rombongan besar atau protokol berlebihan. Ia hadir dengan satu misi sederhana: memastikan air sampai ke tangan yang membutuhkan, bukan sekadar meneken surat perintah dari kantor.

Bukan Sekadar bagi-bagi, Tapi Hadir dan Mendengar

Setibanya di lokasi, Bupati tidak langsung berpidato. Ia melangkah ke tengah kerumunan warga yang datang dengan membawa berbagai wadah—baskom, ember plastik, galon biru besar, hingga jerigen bekas yang sudah lusuh. Wajah-wajah letih itu berubah cerah saat melihatnya. Beberapa ibu-ibu bahkan menghampiri dan bercerita panjang tentang bagaimana mereka terpaksa membeli air dari penjual keliling dengan harga yang terus merangkak naik.

Dengan sabar, Daeng Manye mendengarkan. Ia membungkuk, menepuk bahu seorang kakek tua yang mengantre sambil berpegangan tongkat, lalu memastikan bahwa truk tangki PDAM yang terparkir sudah mengalirkan air ke setiap wadah penampungan. Ia bahkan ikut memegang selang, membantu mengguyur air ke ember-ember yang berjejer rapi.

"Kami tidak bisa membiarkan warga kami haus dan bertahan sendiri. Hari Minggu? Tidak masalah. Kesulitan mereka tidak mengenal hari libur, maka kami pun harus sama," ujarnya dengan nada rendah, tetapi penuh ketegasan.

Desa Bontoparang Bukan yang Pertama, Juga Bukan yang Terakhir

Daeng Manye mengungkapkan bahwa penyaluran di Bontoparang adalah titik ke-13 dari program tanggap darurat bantuan air bersih yang telah dijalankan Pemerintah Kabupaten Takalar. Ini bukan aksi sporadis, melainkan bagian dari respons berkelanjutan terhadap dampak kekeringan yang diperparah fenomena El Nino.

"Hari ini kita membagikan air bersih dari PDAM Takalar kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini adalah arahan langsung dan komitmen kami untuk terus menjangkau desa-desa yang belum memiliki sumber air memadai," jelasnya di sela-sela antrean warga.

Ia juga mengakui bahwa masih ada sejumlah desa lain yang menunggu giliran. Karena itulah, menurutnya, bantuan darurat ini harus berjalan paralel dengan upaya jangka panjang—seperti pembangunan sumur bor, instalasi pompa hidrolik, hingga konservasi sumber mata air.

Di tengah terik yang menyengat, Kepala Desa Bontoparang, Abd Rahman, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah daerah. Baginya, kehadiran langsung seorang bupati di desanya adalah bukti bahwa warga di pelosok tidak dilupakan.

"Atas nama pemerintah desa dan seluruh masyarakat Bontoparang, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Bupati Daeng Manye. Beliau tidak sekadar mengirim bantuan, tetapi datang sendiri. Itu yang membuat kami merasa diperhatikan," kata Abd Rahman dengan suara bergetar.

Ketika truk tangki terakhir mulai bergerak meninggalkan desa, satu hal yang tersisa bukan hanya air di ember-ember warga, tetapi juga kepercayaan. Kepercayaan bahwa pemimpin mereka adalah orang yang tahu di mana rakyatnya berada—dan bersedia datang ke sana, bahkan di hari yang seharusnya menjadi miliknya sendiri.

Krisis air di Bontoparang mungkin belum usai. Masih ada desa-desa lain yang menanti. Namun, pagi itu, takalar menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa megah kantor yang dibangun, tetapi dari seberapa jauh kaki melangkah menjangkau warganya.