Redaksi : Minggu, 23 Agustus 2026 18:13

BUKAMATANEWS - Bukan sekadar deretan bangunan yang ludes dilalap api. Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8) malam, menyisakan duka, tetapi juga pertanyaan besar tentang bagaimana masyarakat dan pemerintah membaca ulang kearifan lokal di tengah tantangan zaman.

Sebanyak 89 unit bangunan termasuk rumah tinggal, masjid, museum budaya, lapak UMKM, dan fasilitas umum hangus terbakar. Dampaknya dirasakan langsung oleh 320 jiwa atau 120 kepala keluarga yang kini kehilangan tempat berlindung. Dari balik kepulan asap, muncullah gotong royong yang cepat bergerak: tim gabungan dari pemadam kebakaran, TNI-Polri, dan warga bahu-membahu memadamkan si jago merah.

Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, menegaskan bahwa prioritas utama saat ini bukanlah pembangunan fisik, melainkan napas kehidupan bagi para korban. “Kita pikirkan hari ini bagaimana menangani dampak jangka pendek—trauma healing untuk anak-anak yang bersekolah, kebutuhan makan untuk hari ini dan tiga hari ke depan, serta menjaga kesehatan warga,” ujarnya usai rapat koordinasi di Desa Rambitan, Minggu (23/8).

Pemerintah daerah pun mengaktifkan lokasi pengungsian di rumah khusus yang telah dibangun sebelumnya, sementara sebagian warga memilih mengungsi ke kerabat terdekat. Posko logistik dipusatkan di gedung Koperasi Desa Merah Putih untuk memastikan distribusi bantuan berjalan efektif.

Salah satu pelajaran paling gamblang dari tragedi ini adalah soal material bangunan. Hampir seluruh rumah adat Sade menggunakan atap dari alang-alang (ilalang) — bahan alami yang memang menjadi ciri khas arsitektur tradisional suku Sasak, tetapi juga sangat rentan terhadap api.

“Api menyebar dalam hitungan menit. Ini mungkin menjadi referensi bagi kita: ketika terjadi kebakaran, semuanya habis karena atapnya ilalang. Ke depan, tentu harus dipikirkan lebih jauh,” kata Pathul.

Pernyataan ini membuka ruang diskusi yang lebih luas: bagaimana menjaga otentisitas budaya tanpa mengorbankan keselamatan? Apakah perlu ada standar ganda—material tradisional untuk area seremonial dan material tahan api untuk hunian? Pertanyaan ini belum menemukan jawaban, tetapi benang merahnya mulai terlihat: inovasi tidak harus meninggalkan tradisi, justru melestarikannya dengan cara yang lebih aman.

Desa Adat Sade bukanlah sekali pemukiman. Ia adalah ikon budaya Lombok yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Museum mini, rumah adat, hingga ruang tenun tradisional menjadikannya laboratorium budaya hidup. Ketika 89 bangunan terbakar, bukan hanya material yang hilang, tetapi juga narasi sejarah yang tersimpan di dinding bambu dan jerami.

Kepala Desa Rambitan, Lalu Winakse, mengakui bahwa penyebab kebakaran sulit ditentukan karena api membesar sangat cepat. Namun, ke depan, evaluasi tata ruang dan sistem peringatan dini di kawasan wisata budaya perlu menjadi perhatian serius. “Kebakaran ini adalah musibah tak terduga, tetapi penanganannya menjadi tanggung jawab kolektif,” tegasnya.

Menarik pula perhatian terhadap respons Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal. Begitu tiba dari misi kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur, ia langsung menuju lokasi kebakaran. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa bencana di Sade tidak dipandang sebagai insiden lokal semata, melainkan bagian dari darurat kemanusiaan yang membutuhkan perhatian pusat dan provinsi.

“Keselamatan warga adalah yang utama, termasuk penanganan pascabencana,” ucap Iqbal di lokasi kejadian.

Membangun Kembali, Merawat Masa Lalu

Di tengah abu dan duka, ada optimisme yang mulai tumbuh. Warga setempat bersama pemerintah berjanji membangun kembali tidak hanya secara fisik, tetapi juga semangat kolektif. Namun, rekonstruksi ke depan tidak boleh sekadar mengembalikan seperti sedia kala. Ia harus menjadi proyek peradaban: menghadirkan desa adat yang lebih adaptif, lebih aman, dan tetap berjiwa Sasak.

Rancangan tahan api berbasis material lokal—seperti bambu yang direkat dengan tanah liat atau atap yang dilapisi pelindung—bisa menjadi alternatif yang memadukan keindahan tradisi dan keamanan modern. Begitu pula sistem hidran sederhana dan jalur evakuasi yang jelas, yang tidak mengubah bentang budaya, tetapi menyelamatkan nyawa.

Kebakaran Desa Sade adalah pengingat bahwa melestarikan budaya tidak sama dengan membekukannya dalam waktu. Ia adalah proses yang dinamis, yang harus mampu beradaptasi dengan bahaya nyata. Saat api padam, muncul harapan bahwa dari abu akan lahir **desa yang lebih tangguh** — bukan hanya untuk dikunjungi, tetapi untuk dihuni dengan selamat dan bermartabat.

 

BERITA TERKAIT