Redaksi : Kamis, 20 Agustus 2026 21:37
INT

SARAWAK, BUKAMATANEWS — Ancaman kabut asap mulai membayangi Sarawak, Malaysia. Sebanyak 148 titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah negara bagian tersebut sepanjang 1 hingga 19 Agustus 2026, di tengah kondisi cuaca kering yang masih berlangsung.

Badan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sarawak atau Natural Resources and Environment Board (NREB) memperingatkan jumlah titik panas berpotensi terus bertambah apabila kondisi kering berkepanjangan tidak segera berakhir.

Situasi tersebut meningkatkan risiko munculnya kabut asap dengan intensitas lebih tinggi dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah yang berada dekat dengan sumber kebakaran dan jalur pergerakan angin.

Asap dari Kalimantan Barat Terbawa ke Sarawak

Ancaman kabut asap di Sarawak tidak hanya berasal dari kebakaran di wilayah setempat. NREB menyebut Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) telah mendeteksi kabut asap dengan intensitas sedang hingga tebal di Kalimantan Barat, Indonesia.

Kabut asap tersebut kemudian bergerak ke arah utara akibat pola angin dan berpotensi memengaruhi wilayah Sarawak bagian barat.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak terus menunjukkan tren penurunan sejak awal Agustus.

Pada Kamis (20/8) pagi, sedikitnya sembilan wilayah dilaporkan mencatat indeks polusi udara atau Air Pollution Index (API) dalam kategori tidak sehat.

Wilayah tersebut meliputi Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Lundu, Tebedu, dan Lubok Antu.

API di wilayah-wilayah tersebut berada pada rentang 101 hingga mendekati 200. Angka tertinggi tercatat di Serian dan Lubok Antu yang mencapai 185, disusul Kuching dengan 180 dan Lundu sebesar 175.

Sekolah Bisa Ditutup Jika API Tembus 200

Meningkatnya polusi udara menjadi perhatian serius karena terdapat ambang batas yang dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan.

Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional yang disebut NREB, kegiatan sekolah, taman kanak-kanak, dan pusat penitipan anak di Sarawak harus dihentikan sementara apabila API mencapai 200. Ketentuan tersebut sejalan dengan arahan Departemen Pendidikan Sarawak.

Dengan kondisi sejumlah daerah yang saat ini telah mendekati angka tersebut, perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat.

Secara umum, API 0–50 dikategorikan baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Dipengaruhi Monsun Barat Daya

NREB menyebut kondisi kabut asap saat ini turut dipengaruhi angin Monsun Barat Daya. Fenomena musiman tersebut berlangsung sejak 14 Mei dan diperkirakan berlanjut hingga September.

Pola angin ini memungkinkan asap dari aktivitas pembakaran biomassa di luar Sarawak terbawa masuk ke wilayah tersebut. Kondisi cuaca kering kemudian dapat memperburuk konsentrasi asap di udara.

Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang termasuk kelompok rentan terhadap dampak polusi udara.

NREB mengimbau masyarakat untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.

Warga Diminta Tidak Membakar

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka. Aktivitas tersebut dinilai dapat memperburuk kondisi udara dan meningkatkan risiko penyebaran kebakaran, terutama ketika cuaca kering dan angin cukup kuat.

Pelanggar aturan pembakaran dapat dikenai sanksi berat berupa denda hingga RM100.000, hukuman penjara maksimal lima tahun, atau kedua-duanya.

Dengan jumlah hotspot yang masih berpotensi meningkat dan adanya pergerakan asap lintas wilayah, kondisi kualitas udara Sarawak diperkirakan masih menjadi perhatian hingga beberapa waktu ke depan.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan API dan mematuhi arahan keselamatan, sembari menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran dan memperparah kabut asap.