BUKAMATANEWS – Ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan di Eropa dilaporkan semakin memburuk saat mereka memasuki masa pensiun. Berdasarkan data terbaru dari Eurostat, kesenjangan pensiun gender (gender pension gap) di Uni Eropa (UE) kini mencapai rata-rata 24,5%—angka yang mencerminkan bahwa perempuan pensiunan menerima €75,5 untuk setiap €100 yang diterima laki-laki. Angka ini lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan kesenjangan upah gender (gender pay gap) saat masih aktif bekerja yang berada di angka 11.1%.
Para pakar menjelaskan bahwa kedua metrik ini menceritakan kisah yang berbeda. Jika kesenjangan upah umumnya dihitung berdasarkan upah per jam, kesenjangan pensiun mencerminkan akumulasi ketimpangan sepanjang masa kerja, termasuk masa jeda karier, pemotongan jam kerja, beban pengasuhan anak, hingga keputusan investasi selama berdekade-dekade.
Profesor Liam Foster dari University of Sheffield menekankan dampak dari bunga majemuk (compound interest) dalam dana pensiun. "Kesenjangan kecil dalam kontribusi pensiun di usia 20-an atau 30-an tahun akan membengkak secara eksponensial saat seseorang mencapai usia 60-an," ujarnya.
Perbandingan Antarnegara Eropa
Ketimpangan ini bervariasi secara signifikan di seluruh wilayah Eropa pada tahun 2024:
Kesenjangan Pensiun Terparah: Malta memimpin dengan kesenjangan pensiun terbesar mencapai 38,2%, diikuti oleh Inggris (37%), Belanda (36,3%), dan Austria (35,6%).
Kesenjangan Terkecil: Estonia mencatat kesenjangan pensiun terendah hanya sebesar 5,6%, disusul oleh Slovakia (8,4%), serta Republik Ceko dan Hungaria (masing-masing 9,6%).
Menariknya, hanya ada empat negara di mana kesenjangan pensiun justru lebih rendah daripada kesenjangan upah kerja, yaitu Estonia, Slovakia, Republik Ceko, dan Hungaria. Menurut Profesor Alexandra Niessen-Ruenzi dari University of Mannheim, negara-negara di Eropa Timur ini memiliki rekam jejak sejarah di mana perempuan cenderung cepat kembali bekerja setelah melahirkan.
Sebaliknya, Luksemburg mencatat anomali yang mencolok. Negara ini menjadi satu-satunya wilayah di mana perempuan memiliki upah kerja lebih tinggi daripada laki-laki (-0,8%), namun saat pensiun, perempuan justru menerima tunjangan 32,7% lebih rendah daripada laki-laki.
Peran Gender dan Pekerjaan Tak Berbayar Jadi Pemicu Utama
Pakar sosiologi dan ekonomi sepakat bahwa akar permasalahan ini terletak pada pembagian peran gender tradisional. Dr. Gabriele Mari dari Erasmus University Rotterdam menjelaskan bahwa perempuan masih memikul beban berat dalam pekerjaan domestik dan pengasuhan anak yang tidak dibayar (unpaid care work).
"Sembari melakukan pekerjaan yang tidak dibayar tersebut, perempuan dihadapkan pada konsekuensi hilangnya masa kerja, mengambil kerja paruh waktu (part-time), atau terjebak dalam sektor pekerjaan dengan upah rendah. Semua hal ini menjadi kontributor utama kecilnya dana pensiun mereka di masa tua," pungkas Dr. Mari.
Di negara-negara Nordik, kesenjangan ini berhasil ditekan di bawah rata-rata UE. Hal tersebut bukan karena sistem pensiun mereka yang berbeda, melainkan karena ketersediaan fasilitas penitipan anak (child care) yang lebih baik serta pembagian tugas domestik yang lebih setara antara laki-laki dan perempuan.