Redaksi
Redaksi

Rabu, 24 Juni 2026 10:18

Gastrodiplomasi 2026: Ketika Kuliner Makassar dan Epik La Galigo Membius Para Diplomat Dunia

Gastrodiplomasi 2026: Ketika Kuliner Makassar dan Epik La Galigo Membius Para Diplomat Dunia

Kota Makassar sukses menggelar Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 di Fort Rotterdam. Memadukan kuliner khas, budaya La Galigo, dan peluang investasi, 16 negara sahabat langsung minati kerja sama strategis dengan Pemkot Makassar.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Langit senja di atas Benteng Fort Rotterdam perlahan meluruh menyisakan semburat jingga yang magis. Di balik dinding-dinding batu sarat sejarah itu, sebuah simfoni diplomasi budaya berskala internasional baru saja dimulai.

Kota Makassar resmi menjadi tuan rumah perhelatan bergengsi Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026. Malam pembukaan itu bukan sekadar jamuan kenegaraan yang kaku. Di hadapan 41 delegasi dari 28 negara sahabat—mulai dari Duta Besar, Konsul Jenderal, hingga pejabat korps diplomatik dunia—Makassar dengan berani memadukan dua kekuatan terbesarnya: kelezatan kuliner pusaka dan kemegahan seni pertunjukan kelas dunia.

Malam itu, meja-meja perjamuan dipenuhi belasan menu otentik Sulawesi Selatan yang telah dikurasi secara ketat. Aroma wangi rempah, rahasia teknik memasak tradisional yang diwariskan turun-temurun, hingga sentuhan presentasi modern berpadu apik di atas piring para diplomat. Hidangan-hidangan tersebut seolah bercerita tentang jati diri Makassar sebagai kota pelabuhan utama dan titik temu budaya dunia sejak berabad-abad silam.

Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai saat lampu area benteng meredup. Di tengah halaman benteng, sebuah panggung megah berbentuk kapal pinisi berdiri kokoh—simbol supremasi maritim masyarakat Bugis-Makassar.

Di atas replika kapal legendaris itulah, fragmen mahakarya sastra epik **La Galigo** (Sureq Galigo) dipentaskan. Lantunan kidung kuno, gerak tari yang magis, dan tata cahaya yang dramatis membawa para tamu internasional larut dalam mitos penciptaan dunia serta pengembaraan heroik Sawerigading. Penampilan ini menjadi pembuktian hidup mengapa UNESCO menetapkan naskah terpanjang di dunia itu sebagai *Memory of the World*.

Kombinasi rasa, aroma, dan narasi budaya yang imersif itu sukses memantik decak kagum. Banyak dari para delegasi yang mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota Sulawesi Selatan ini.

"Mereka sering mendengar tentang nama besar Makassar, tetapi ketika datang dan merasakannya langsung, mereka takjub. Mereka melihat Makassar memiliki karakter dan jiwa yang sangat kuat, berbeda dari kota-kota lain," ungkap Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dengan binar bangga saat ditemui usai acara.

Bagi pria yang akrab disapa Appi itu, esensi dari gastrodiplomasi adalah meruntuhkan sekat-sekat formal kenegaraan lewat kehangatan meja makan. Ketika rasa di lidah sudah tertambat dan kekaguman budaya sudah terbangun, maka komunikasi strategis lainnya akan mengalir dengan jauh lebih mudah.

Melalui malam pembukaan yang memikat di Fort Rotterdam, Makassar tidak sekadar menjamu tamu. Kota ini sedang menegaskan posisinya kepada dunia: sebagai gerbang utama Indonesia Timur yang siap menyongsong kerja sama global, tanpa pernah kehilangan akar sejarah dan identitas budayanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Indonesia Gastrodiplomacy Series