MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Politisi muda Partai Persatuan Pembangunan (PPP), H Hardiman J Saing Rewa SE MM, mengaku prihatin melihat kondisi ekonomi masyarakat yang kian tak menentu dan memprihatinkan. Ia berharap, pemerintah peka dengan penderitaan masyarakat dan segera melakukan evaluasi di semua sektor.
"Kondisi masyarakat kita sekarang sangat memprihatinkan. Khususnya kalangan menengah ke bawah, semua menjerit," ujar Hardiman, yang juga merupakan seorang pengusaha, Minggu, 14 Juni 2026.
Komisaris Utama PT Bintang Emas Nusantara ini mengungkapkan, terbaru pemerintah menaikkan harga Pertamax secara ugal-ugalan. Meskipun golongan ini merupakan BBM tidak bersubsidi dan diperuntukkan bagi masyarakat yang mampu, tapi tetap saja berpengaruh.
"Biasanya ketika Pertalite habis atau langka, pilihannya ke Pertamax," imbuhnya.
Kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja, kata Hardiman, juga ditunjukkan oleh nilai rupiah yang melemah. Sementara, sejumlah komoditi masih bergantung pada impor. Salah satunya kedelai. Akibatnya, harga tahu tempe juga mengalami kenaikan. Begitupun dengan harga kantong kresek.
"Evaluasi dan perbaikan harus segera dilakukan. Masyarakat kita sedang tidak baik-baik saja," pungkasnya.
Hardiman juga menyoroti efisiensi yang terus dilakukan pemerintah saat ini. Ia berharap, efisiensi ini tidak hanya diberlakukan bagi pemerintah daerah, yang akhirnya membuat mereka semakin sulit berinovasi. Tetapi juga bagi pejabat di tingkatan pemerintah pusat.
"Miris sekali rasanya, pemerintah daerah diminta terus untuk efisiensi, tetapi pejabat di pusat jalan-jalan terus ke luar negeri," kata Hardiman. (*)
TAG
BERITA TERKAIT
-
Dampak Efisiensi Anggaran, Pemkab Bantaeng Tak Bisa Fasilitasi Bus Pengantaran dan Penjemputan Jemaah Calon Haji
-
Pemkab Rilis Logo Hari Jadi Jeneponto ke-163, Karya Kreator Lokal
-
Kabar Gembira, Pemkab Luwu Timur Takkan Rumahkan PPPK
-
Pemkot Makassar Terapkan Sistem Integrasi Server IT, Efisiensi Anggaran Capai Rp30 Miliar
-
356 Tahun Sulsel, Gubernur Andi Sudirman Berhasil Efisiensi Anggaran Rp1,4 Triliun