BUKAMATANEWS— Komunitas Trautama Kota menggelar diskusi publik bertajuk “Intervensi Kekerasan Jalanan melalui Perspektif Seni” yang berlangsung di Museum Kota Makassar.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus dialog lintas sektor dalam merespons maraknya fenomena kekerasan jalanan di perkotaan, khususnya di Makassar.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari latar belakang yang beragam, yakni Sri Wanti Mamonto, Elvi Pakasi, serta Dwi Saputra Mario. Kegiatan ini dimoderatori oleh Sabri Sahaluddin yang turut mengarahkan jalannya diskusi secara dinamis.
Dalam pemaparannya, Sri Wanti Mamonto menekankan bahwa ruang-ruang kebudayaan seperti museum memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran sosial masyarakat. Ia menyebut bahwa seni bukan hanya medium ekspresi, tetapi juga alat edukasi yang mampu menyentuh sisi emosional dan membangun empati publik terhadap isu kekerasan jalanan.
Sementara itu, Elvi Pakasi menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah kelurahan, komunitas, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman. Ia menyampaikan bahwa pendekatan berbasis seni dapat menjadi alternatif efektif dalam merangkul generasi muda agar tidak terlibat dalam perilaku menyimpang di ruang publik.
"Mari bersama sama menjaga lingkungan dan berbuat postingan dan hindari hal hal negatif. Sama sama menyukseskan program wisata seperti urban farming/lorong wisata/lorong garden."
Dari sudut pandang seniman, Dwi Saputra Mario mengungkapkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk merepresentasikan realitas sosial sekaligus menjadi media kritik yang konstruktif. Ia menegaskan, “Kesenian bisa dilihat lebih jauh bukan saja hanya sebagai hiburan, mungkin dalam bentuk aktualisasi sehingga ruang kesenian bisa hadir berawal dari tingkat kelurahan, dan seni ini bisa menjadi tools untuk mengatasi isu sosial.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa seni dapat menjadi instrumen konkret dalam membangun ruang aman berbasis komunitas.
Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari peserta yang terdiri dari komunitas kreatif, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Moderator Sabri Sahaluddin menegaskan bahwa isu kekerasan jalanan tidak bisa diselesaikan secara sektoral, melainkan membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan seni sebagai jembatan komunikasi sosial.
Melalui kegiatan ini, Trautama Kota berharap dapat mendorong lahirnya gerakan kolektif berbasis seni dalam menekan angka kekerasan jalanan. Selain itu, diskusi ini juga menjadi langkah awal untuk merancang program-program kreatif yang berorientasi pada pembangunan ruang publik yang aman, humanis, dan berbudaya.
Penulis: Raihan