Israel Dinilai Akan Coba Gagalkan Gencatan Senjata AS-Iran, Kata Mantan Dubes Inggris
Menurut Ford, dua tantangan utama yang kini dihadapi Israel adalah sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak mudah dimanipulasi serta ketahanan Iran yang tidak bisa dipaksa tunduk melalui serangan udara.
MOSKOW, BUKAMATANEWS – Israel kemungkinan besar akan berupaya menggagalkan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun menghadapi sejumlah tantangan baru. Demikian penilaian mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, Peter Ford, kepada RIA Novosti.

Menurut Ford, dua tantangan utama yang kini dihadapi Israel adalah sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak mudah dimanipulasi serta ketahanan Iran yang tidak bisa dipaksa tunduk melalui serangan udara.
"Israel tentu akan mencoba menggagalkan upaya tersebut. Namun, mereka menghadapi dua tantangan baru. Trump tak akan mudah dimanipulasi, dan pengalaman menunjukkan Iran tak dapat dipaksa tunduk dengan pengeboman," ujar Ford.
Ia menambahkan bahwa Lebanon juga akan menjadi hambatan besar, mengingat Israel terus menyerang target-target Hizbullah di wilayah tersebut.
"Kekuatan Iran yang meningkat berhadapan dengan sikap keras Netanyahu, yang menganggap penarikan diri dari Lebanon sebagai hal memalukan. Keseimbangan kekuatan baru bisa terguncang oleh situasi ini," katanya.
Kronologi Konflik dan Gencatan Senjata
Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan ke Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan sejumlah warga sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Namun, pada Selasa malam (8/4/2026), Presiden Trump menyatakan telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. Kesepakatan itu juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.
Keesokan harinya, pesawat tempur dan artileri Israel justru menyerang belasan permukiman di Lebanon selatan, termasuk di kota Tyre. Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran karena faktor Hizbullah.
Sementara itu, Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dengan AS.
