Matangkan Lokasi, Munafri: PSEL di TPA Antang Paling Efisien, Tekan Beban Daerah
02 April 2026 14:22
Gempa tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 30 kilometer. Karakteristik ini masuk kategori megathrust yang berpotensi memicu dampak besar.
JAKARTA, BUKAMATANEWS - Gempa bumi dengan magnitudo 7,6 mengguncang Sulawesi Utara (Sulut), Kamis pagi tadi, 2 April 2026. Gempa bumi terjadi pukul 05.48.14 WIB dengan episenter di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara. Lokasinya berada pada koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur dengan kedalaman 33 kilometer.

Gempa tergolong dangkal dan dipicu aktivitas deformasi kerak bumi. Mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik atau thrust fault yang berpotensi memicu tsunami.
Guncangan gempa dirasakan kuat di Ternate dengan skala intensitas V hingga VI MMI. Getaran juga dirasakan di Manado, Gorontalo, serta sejumlah wilayah lain di Sulawesi dengan intensitas bervariasi.
Hasil pemodelan BMKG sebelumnya menunjukkan potensi tsunami dengan status siaga di beberapa wilayah. Di antaranya Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, serta sebagian Minahasa Selatan dan Minahasa Utara.
Selain itu, status waspada juga ditetapkan untuk Kepulauan Sangihe, Minahasa Utara bagian utara, serta Bolaang Mongondow bagian selatan. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan resmi
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyebut, tiga provinsi terdampak paling besar akibat gempa di Sulut. Wilayah tersebut meliputi Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.
"Wilayah terdampak utama meliputi Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Kondisi ini menyebabkan dampak terasa luas di sejumlah wilayah," katanya saat konferensi pers, Jakarta, Kamis, 2 April 2026.
BMKG juga mencatat adanya gelombang tsunami di beberapa wilayah setelah gempa terjadi. Kondisi ini memperkuat potensi tsunami dari gempa yang terjadi di laut.
Direktur Informasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Riyono menjelaskan, gempa tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 30 kilometer. Karakteristik ini masuk kategori megathrust yang berpotensi memicu dampak besar.
"Kalau dilihat kedalamannya cukup dangkal dan ini kategori megathrust. Gempa laut dengan sesar naik memiliki potensi tsunami sangat tinggi," ujarnya.
Dalam penjelasannya, gempa terjadi akibat aktivitas subduksi laut Maluku yang memicu deformasi kerak bumi. Analisis menunjukkan mekanisme sumber berupa pergerakan naik atau thrust fault.
"Gempa sesar naik berpotensi memicu tsunami lebih tinggi dibandingkan mekanisme mendatar. Karena itu kami segera mengeluarkan peringatan dini tsunami," ucapnya.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan, gempa termasuk dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng laut Maluku. Mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik atau thrust fault.
"Gempa ini terjadi akibat deformasi kerak bumi karena aktivitas subduksi laut Maluku. Analisis menunjukkan mekanisme sumber berupa pergerakan naik," ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan tsunami. Informasi resmi diminta hanya mengikuti kanal BMKG untuk menghindari hoaks. (*)
02 April 2026 14:22
02 April 2026 14:03
02 April 2026 11:56
02 April 2026 11:56
02 April 2026 09:30
02 April 2026 11:10
02 April 2026 11:04
02 April 2026 11:25