BUKAMATANEWS - Konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 menelan korban jiwa dalam jumlah besar.
Otoritas Iran melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan udara tersebut telah mencapai lebih dari 1.200 orang dan terus bertambah dalam beberapa hari terakhir. Laporan terbaru menyebut angka korban mencapai sekitar 1.332 orang sejak operasi militer dimulai.
Pemerintah Iran juga mengungkapkan bahwa sekitar 30 persen dari total korban tewas merupakan anak-anak, menandakan besarnya dampak serangan terhadap warga sipil dilansir antaranews.com.
Dikutip metrotvnews.com Selain korban jiwa, ribuan warga juga mengalami luka-luka. Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Iran mencatat lebih dari 6.000 orang terluka akibat rentetan serangan yang menyasar berbagai wilayah, termasuk ibu kota
Serangan udara yang dimulai pada akhir Februari itu dilaporkan menghantam sejumlah target militer, fasilitas pemerintahan, hingga kawasan permukiman. Namun berbagai laporan menyebut dampaknya juga mengenai infrastruktur sipil.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan setidaknya lebih dari 3.600 rumah dan fasilitas sipil rusak, termasuk ratusan toko serta sejumlah fasilitas kesehatan. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyebut sedikitnya **13 rumah sakit di Iran mengalami kerusakan atau hancur akibat serangan tersebut**. ([www.akurat.co][4])
Salah satu insiden paling mematikan terjadi ketika sebuah sekolah perempuan di wilayah selatan Iran dilaporkan terkena serangan, menewaskan puluhan hingga lebih dari seratus siswa dalam satu kejadian. ([The Guardian][5])
Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer besar yang disebut bertujuan menghancurkan kemampuan militer dan program strategis Iran. Namun pemerintah di Teheran menilai serangan tersebut telah menimbulkan korban sipil besar dan mengecamnya sebagai tindakan agresi.
Di sisi lain, Iran telah melancarkan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional. ([Antara News][2])
Situasi ini memicu kekhawatiran internasional bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah jika tidak segera dihentikan melalui jalur diplomasi.
BERITA TERKAIT
-
Mahfuz Sidik: Negara-negara Teluk Perlu Segera Bentuk Aliansi Bersama Hilangkan Hegemoni Amerika
-
Iran Serang Pangkalan Militer AS-Inggris di Diego Garcia, Rudal Dicegat
-
Rudal AS Hantam Area Sekolah di Iran Tengah, Ketegangan Konflik Kian Memanas
-
Mahfuz Sidik Khawatirkan Peristiwa Genosida di Gaza Dapat Terjadi di Iran
-
80 Awak Tewas dalam Insiden Karamnya Kapal Perang Iran di Dekat Sri Lanka