Redaksi : Selasa, 03 Maret 2026 09:03
Ilustrasi (AI)

BUKAMATANEWS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi sinyal bahwa operasi militer negaranya terhadap Iran berpotensi berlangsung lebih lama dari perhitungan awal. Dalam pernyataan di Gedung Putih, Senin (2/3/2026) waktu setempat, Trump menegaskan Washington siap menghadapi konflik berkepanjangan jika diperlukan.

Operasi militer yang dinamai **Operasi Epic Fury** itu disebut memiliki empat target utama: melumpuhkan kemampuan rudal Iran, menghancurkan armada lautnya, memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir, serta menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di luar negeri.

“Sejak awal kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu,” kata Trump, seperti dikutip AFP, Selasa (3/3/2026).

Meski membuka kemungkinan durasi lebih panjang, Trump mengklaim operasi berjalan lebih cepat dari jadwal. Ia merujuk pada tewasnya sejumlah pemimpin senior Iran dalam gelombang serangan pertama yang dilancarkan akhir pekan lalu.

Sinyal Eskalasi

Dalam sejumlah wawancara terpisah, sikap Trump dinilai semakin tegas, bahkan cenderung membuka peluang eskalasi. Kepada New York Post, ia tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat.

“Saya tidak gugup mengenai pengerahan pasukan darat. Setiap presiden mengatakan tidak akan ada pasukan darat. Saya tidak mengatakannya,” ujarnya.

Sementara kepada CNN, Trump mengisyaratkan operasi yang lebih besar masih akan terjadi. “Gelombang besar bahkan belum terjadi. Gelombang besar akan segera datang,” katanya.

Pernyataan-pernyataan tersebut memunculkan perdebatan, terutama di kalangan pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) yang selama ini mendukung janji Trump untuk menghindari keterlibatan dalam perang baru.

Menanggapi kritik itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan presiden telah menetapkan arah dan sasaran yang jelas dalam operasi ini.

Sejauh ini, pasukan AS bersama Israel dilaporkan telah menghantam ratusan target strategis di Iran, termasuk fasilitas rudal, pangkalan angkatan laut, serta pusat komando dan kendali militer.

Meski pemerintah AS menyebut operasi ini bersifat terbatas dan terukur, sejumlah analis mempertanyakan kesiapan Washington menghadapi konflik jangka panjang melawan Iran yang memiliki kapasitas militer dan jaringan regional yang luas.

Dengan nada tegas, Trump menyebut operasi ini sebagai “kesempatan terakhir dan terbaik,” menandakan bahwa Gedung Putih memandang momentum saat ini sebagai titik krusial dalam menghadapi Teheran.