Redaksi : Selasa, 03 Maret 2026 08:32
Asap membubung di cakrawala setelah ledakan di Teheran, Iran, Sabtu, 28 Februari 2026. (Foto AP)

BUKAMATANEWS - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran melancarkan serangan drone ke dua fasilitas energi utama Qatar, memaksa penghentian sementara produksi liquefied natural gas (LNG) negara tersebut. Langkah ini langsung mengguncang pasar energi global.

Pemerintah Qatar mengonfirmasi bahwa produksi dihentikan demi alasan keamanan. Kementerian Pertahanan Qatar menyebut dua drone yang diluncurkan dari Iran menghantam fasilitas strategis, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, menyatakan serangan terjadi di Ras Laffan Industrial City dan Mesaieed Industrial City—dua pusat industri yang menjadi jantung ekspor LNG Qatar.

Guncangan ke Pasar Global

Qatar merupakan salah satu eksportir LNG terbesar dunia. Sekitar 20 persen pasokan LNG global berasal dari kawasan Teluk dan sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital perdagangan energi internasional.

Penghentian produksi ini langsung memicu lonjakan harga. Kontrak berjangka gas alam Eropa melonjak tajam, dengan harga gas di Inggris naik sekitar 50 persen dan kontrak berjangka Belanda terkerek lebih dari 45 persen.

Di Amerika Serikat, saham perusahaan eksportir LNG ikut terdongkrak. Saham Cheniere Energy menguat sekitar 6 persen, sementara Venture Global LNG melonjak lebih dari 14 persen.

Eskalasi Konflik Regional

Serangan ini memperluas aksi balasan Teheran setelah sebelumnya meluncurkan rudal ke sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk, menyusul operasi militer besar Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam, Ali Khamenei.

Sumber industri juga melaporkan kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco turut menjadi sasaran drone dan ditutup sementara sebagai langkah antisipatif.

Ancaman Krisis Energi

LNG adalah gas alam yang didinginkan hingga sekitar minus 260 derajat Fahrenheit agar berubah menjadi cair sehingga dapat diangkut menggunakan kapal tanker. Komoditas ini menjadi sumber utama pembangkit listrik di banyak negara.

Gangguan produksi dari Qatar—pemain kunci pasar global—berpotensi memicu tekanan lanjutan pada harga energi dunia. Terlebih, sekitar seperlima pasokan LNG global melewati Selat Hormuz. Jika ketegangan meningkat dan jalur ini terganggu, risiko krisis energi global kian terbuka.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik secara ketat. Eskalasi lanjutan bukan hanya mengancam stabilitas energi, tetapi juga berpotensi mendorong inflasi global semakin tinggi.