Redaksi : Minggu, 01 Maret 2026 03:16
Ilustrasi

BUKAMATANEWS - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan respons militer skala besar terhadap serangan yang disebutnya sebagai “agresi brutal” dari AS dan Israel. Klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak militer Amerika Serikat.

Juru bicara markas Khatam al-Anbiya IRGC menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran melakukan serangan balasan dengan “kecepatan dan akurasi tinggi” menyusul serangan yang terjadi pada Sabtu dini hari. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran dan dikutip Aljazirah Arab, ia menyebut ratusan tentara Amerika dan Israel tewas dalam operasi tersebut.

Menurutnya, serangan balasan Iran menyasar pusat-pusat vital, instalasi keamanan, serta target militer penting di wilayah yang dikuasai Israel. Selain itu, Iran juga mengklaim melancarkan serangan “petir” terhadap 14 pangkalan militer utama Amerika Serikat di kawasan.

IRGC menyebut langkah itu sebagai “respons kuat dan tegas” atas serangan yang dituduhkan kepada Washington dan Tel Aviv. Dalam pernyataannya, juru bicara tersebut juga menuduh kedua negara hanya memahami “bahasa kekerasan” serta menyalahkan mereka atas jatuhnya korban sipil, termasuk anak-anak dan pelajar.

Ia memperingatkan bahwa operasi militer Iran akan terus berlanjut dengan skala yang lebih luas. Kepemimpinan militer Iran, katanya, akan terus memberikan pembaruan kepada publik terkait perkembangan operasi di tengah konfrontasi yang disebutnya masih berlangsung dengan Amerika Serikat.

Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh pihak militer AS. Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan kepada Aljazirah bahwa tuduhan IRGC terkait tewas dan lukanya 200 tentara AS tidak benar. Ia juga membantah klaim kerusakan terhadap kapal militer yang berada di bawah komando CENTCOM.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memulai “operasi tempur besar-besaran” terhadap Iran. Ia mengakui kemungkinan adanya korban di pihak AS, meski menegaskan pemerintahannya telah mengambil langkah untuk meminimalkan risiko terhadap personel Amerika di kawasan.

Trump menyebut operasi tersebut bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran serta melumpuhkan kekuatan angkatan lautnya. Serangan itu disebut sebagai tindak lanjut dari peringatan berulang AS dan Israel agar Iran menghentikan pengembangan program rudal nuklir dan balistiknya.

“Kehidupan para pahlawan Amerika yang berani mungkin hilang dan akan ada korban jiwa di pihak kita, hal ini sering terjadi dalam perang. Namun kita melakukan ini bukan hanya untuk saat ini, melainkan untuk masa depan,” ujar Trump dalam pernyataan video yang dibagikan melalui media sosial.

Dengan klaim dan bantahan yang saling berseberangan, situasi di kawasan Timur Tengah kini berada dalam sorotan dunia. Hingga saat ini, belum ada verifikasi independen terkait jumlah korban maupun dampak kerusakan dari kedua belah pihak.