Matangkan Lokasi, Munafri: PSEL di TPA Antang Paling Efisien, Tekan Beban Daerah
02 April 2026 14:22
Maggawe Samampa pun kembali menegaskan bahwa di Tana Luwu, tradisi bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini—penanda bahwa identitas, sejarah, dan nilai keislaman tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.
LUTRA, BUKAMATANEWS - Melestarikan warisan leluhur bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi merawat identitas dan nilai sejarah yang telah mengakar ratusan tahun di Tana Luwu. Komitmen itu kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara melalui kehadiran Bupati Andi Abdullah Rahim dalam ritual adat tahunan “Maggawe Samampa”, Senin (16/2/2026).

Ritual sakral tersebut digelar oleh Lembaga Adat La Pattiware’ Desa Pattimang di Kompleks Makam Datuk Pattimang, Kecamatan Malangke. Kehadiran orang nomor satu di Luwu Utara itu disambut antusias warga yang memadati area makam.
Maggawe Samampa bukan tradisi baru. Ritual ini tercatat telah dilaksanakan sejak 1603 Masehi—atau sekitar 423 tahun silam. Awalnya, tradisi ini dikenal dengan sebutan “Makkasiwiang” atau “Maseddi-seddi”, yang mulai berkembang sejak masuknya Islam di Tana Luwu melalui ulama asal Minangkabau, Datuk Pattimang.
Dalam dua dekade terakhir, tradisi tersebut lebih populer dengan nama “Maggawe Samampa” dan digelar selama tiga hari berturut-turut, dengan puncak acara berlangsung meriah menjelang Ramadan.
Dalam sambutannya, Andi Abdullah Rahim menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat menjaga tradisi yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan.
“Ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga dan jadikan sebagai kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat. Kita berharap nilai-nilai luhur dan kebiasaan baik ini terus terpelihara dari generasi ke generasi,” ujarnya di hadapan tokoh adat dari Istana Kedatuan Luwu dan masyarakat yang hadir.
Ia menegaskan bahwa adat dan agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan.
“Dalam Islam, ada kebiasaan baik yang tumbuh dari masyarakat. Antara adat dan agama harus saling memperkuat,” tambahnya.
Menurutnya, Maggawe Samampa menjadi bukti kekompakan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini menghadirkan semangat silaturahmi, gotong royong, serta berbagi antarsesama.
“Kita melihat hari ini bagaimana warga berkumpul, bersilaturahmi, dan saling berbagi. Ini menunjukkan kekuatan kebersamaan kita menyambut Ramadan yang penuh berkah,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar ritual, Maggawe Samampa juga menjadi momentum refleksi sejarah masuknya Islam di Tana Luwu—yang pengaruhnya meluas hingga jazirah Sulawesi Selatan, bahkan ke Kalimantan dan wilayah sekitarnya.
Sementara itu, perwakilan Istana Kedatuan Luwu, Andi Kaddiraja, menyampaikan apresiasi atas partisipasi masyarakat yang secara swadaya menyukseskan kegiatan tersebut.
“Ini luar biasa karena lahir dari swadaya masyarakat. Jarang kita temukan tradisi yang tetap terjaga seperti ini,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Datuk Pattimang dan La Pattiware’, dilanjutkan doa bersama. Setelah itu, rombongan menuju baruga kompleks makam untuk santap bersama, sementara ratusan warga juga menikmati hidangan yang telah disiapkan di pelataran.
Kemeriahan Maggawe Samampa tahun ini semakin terasa dengan kehadiran Dewan Adat 12 dari Istana Kedatuan Luwu, sejumlah tokoh adat seperti Arung Malangke dan Tomakaka Masamba, serta jajaran pejabat Pemkab Luwu Utara dan anggota DPRD.
Maggawe Samampa pun kembali menegaskan bahwa di Tana Luwu, tradisi bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini—penanda bahwa identitas, sejarah, dan nilai keislaman tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.
02 April 2026 14:22
02 April 2026 14:03
02 April 2026 11:56
02 April 2026 09:30
02 April 2026 11:10
02 April 2026 11:56
02 April 2026 11:04
02 April 2026 11:25